
"Kenapa makan fast food. Kamu kaya anak sekolah aja ajakin aku ke sini," ucap Bella.
Baru saja mendudukkan bokongnya di kursi plastik berwarna putih itu. Dan ekspresi wajahnya terlihat lesu.
Jujur saja semenjak memutuskan untuk berubah Bella sama sekali tidak makan fast food. Lagi juga ia sangat ingin balas dendam pada Abian lewat penampilannya.
"Kita 'kan bisa pesan lewat aplikasi aja biar di antar ke apartemen aja."
Abian memulas senyum kemudian membelai rambut panjang Bella yang selembut sutra itu dengan sayang.
"Kalo makan di restoran mall atau pesan online yah enggak dapat vibe-nya dong, sayang." Dalih Abian.
"Mm, gak biasanya kamu ajakin aku ke sini pakai bawa alasan vibe juga. Padahal kamu biasanya ajak aku ke restoran bagus atau ke lounge waktu awal ketemu," ucap Bella.
Jelas Abian tau jika Bella terlihat kurang menyukai ide Abian itu.
Abian lalu menatap mata Bella. "Kamu kenapa sih sayang. Mau bilang apa intinya sama aku enggak perlu muter-muter gitu bicaranya,” sahut Abian.
Sengaja Bella membuang tatapannya pada Abian. Ya, kamu kayaknya enggak ada effort-nya gitu setelah dapetin aku. Kamu ajak aku kencan di restoran fast food gitu, jujur aja ekspektasi aku cukup besar. Padahal ini kencan resmi pertama kita." Jujur Bella
Abian tersenyum, sedikitnya ia mengerti jika wanita itu selalu suka dengan hal istimewa. Suka sesuatu yang berlabel hanya untukmu. Hal-hal manis yang sedikit picisan sebenarnya.
Sifat alamiah yang tak bisa Abian pungkiri. Sebenarnya Abian juga menginginkan hal seperti itu ia lakukan untuk Bella tetapi sekarang Abian tidak punya persiapan sama sekali dan Abian itu tipikal perencana, ia tidak suka membuat sesuatunya dengan dadakkan.
"Oh, jadi kamu anggap selama ini kita ketemu sebagai kencan resmi yah. Pantes kamu selalu tampil cantik buat aku." Abian malah menggoda Bella.
Mendengar Abian yang terkekeh, dengan tatapan jahilnya tentu saja membuat pipi Bella memerah.
"Ya sudah sana cepat. Kau pesan sana." Bella mendorong lengan Abian untuk menuju kasir.
Abian yang mendapati hal itu kemudian mengalah dan berjalan menuju kasir.
"Mbak, pesan paket nasi ayam dua, cheese burger dua, kentang ukuran besar satu. Sama es krim stroberinya satu," ucap Abian sesampainya di depan meja kasir.
"Ada lagi tambahannya Kak," ucap sang kasir lagi.
"Ah, happy meal-nya satu ya."
"Baik, Kak. Mau makan di sini atau dibawa pulang," tanya sang kasir lagi.
"Makan di sini Mbak," jawab Abian.
Setelah mendapat jawaban, kasir itu mengulang semua pesanan Abian yang menjadi prosedur lumrah di setiap tempat makan.
"Total semuanya tiga ratus ribu." Abian menyerahkan kartu kreditnya pada sang kasir.
"Terima kasih Kak, silahkan tunggu sebentar." Senyum ramah sang kasir.
Kasir itu memberi kartu kredit Abian bersama dengan struktur pembayaran. Tanpa perlu di suruh Abian menggeser tubuhnya ke samping dengan sebuah nampan kosong di depannya.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit Abian mendapatkan pesanannya. Dengan nampan yang terisi penuh Abian berjalan menuju meja tempat Bella berada.
"Astaga, Abian kamu pesan banyak banget," ucap Bella menyambut kedatangan Abian.
"Kan aku udah bilang aku laper.. sayang.“ Abian juga langsung membukakan makanan yang ia beli pada Bella. Menuangkan saus sampai membuka tutup air mineral untuk Bella.
"Kamu, buat apa beli happy meal?“
“Ya, buat kamu lah sayang," ucap Abian gemas.
"Memangnya aku anak kecil." Bella mengerucutkan bibirnya.
Semantara Abian melihat bibir Bella yang menggaskan itu menjadi terkekeh. Kemudian mengambil satu sendok es krim stroberi yang ia tempelkan pada bibir Bella.
"Jangan marah terus dong sayang. Mending kamu makan sebelum nanti jadi dingin makananya dan es krimnya jadi cair," tutur Abian lembut.
"Habis ini aku mau langsung kita pulang." Sungut Bella.
"Iya.. iya, sayangku." Abian membelai pipi Bella lembut.
Keduanya lebih memilih hening dalam menyantap makanan mereka masing-masing.
Bella lebih memilih memakan happy meal-nya. Dan Abian yang menghabiskan sisa makanan lainnya. Meski awalnya sempat ada protes tapi Bella itu wanita yang mudah dibujuk dan alasan Bella marah karena Bella takut karena sudah bertahun-tahun tidak makan fast food, Bella takut menjadi candu.
Abian mengerti sebab Bella ysng sekarang tubuhnya memang sangat bagus, ideal dan sangatlah terawat.
"Aku nggak tau kamu punya porsi makan sebanyak ini,” celetuk Bella.
"Waktu kita makan fine dinning. Kamu makan lagi dong." Pertanyaan menggelitik yang tiba-tiba saja meluncur dari mulut Bella.
Abian tersenyum mendengar pertanyaan lucu Bella. "Ya tergantung kalo aku laper banget yah aku makan lagi atau biasanya paginya baru aku makan porsinya lebih banyak." Jelas Abian.
Semenjak saling menyatakan perasaan dan tau diri masing-masing, Bella dan Abian menjadi lebih terbuka membahas ini dan itu seperti tidak ada rahasia.
"Tapi kamu nggak punya lemak sama sekali di badan kamu. Padahal kayaknya kamu olahraga juga gak rajin banget."
Abian yang sedang memegang kentang gorengnya lantas menyuapkannya lagi ke mulut Bella. Calon istrinya itu sekarang jadi gemar sekali berbicara sembarangan dan mengomel dengan lucu.
Meski sedikit terkejut dengan gerakan Abian tetapi Bella tetap menerima suapan kentang goreng itu dengan senang hati.
"Tapi kamu suka 'kan badan aku tetap bagus." Abian mendekatkan dirinya dan berbisik ke telinga Bella.
"Waktu kita foreplay kamu suka banget usapin otot tangan dan perut aku yang kotak-kotak itu 'kan."
“Uhuk!“
Bisikkan itu sukses membuat Bella tersedak. Abian yang melihat hal tersebut segera memberikan minuman pada Bella.
"Minum pelan-pelan, sayang."
__ADS_1
"Kamu yah, suka banget buat percakapan nakal gitu saat kita ada di luar.. Bi." Rengek Bella.
"Oh, jadi kalo lagi berdua di kamar baru boleh ya sayang." Abian mencolek dagu bulat milik Bella.
"Bian!" ucap Bella
Abian tersenyum merekah. "Iya.. iya. Mau pulang sekarang," tanya Abian.
"Iya," jawab Bella singkat.
Tangan Abian mengambil mainan kecil yang ada di dalam boks happy meal itu. “Mainannya jangan lupa dibawa sayang, itu hadiah dari aku loh.“
Tanpa menjawab Bella mengambil mainan itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Abian kemudian membuka-kan pintu mobil untuk Bella, tangannya juga sesekali menggenggam dan mengusap punggung tangan Bella dengan sayang.
Meski kencan ini tak sempurna dan terlalu sederhana. Abian hanya senang karena sebenarnya tempat restoran fast food adalah tempat kencan mereka saat pertama kali menjalin cinta di masa Abian belum punya apa-apa dan hanya mampu memberikan Bella hal-hal seperti itu.
Namun entah mengapa Abian selalu mengingat kencan bersama Bella adalah kencan paling berkesan. Bukan karena tempat suasana maupun karena itu sangat keren pada jamannya.
Abian senang karena bersama Bella, wanita yang ia cintai, bisa tertawa lepas tanpa beban dan hanya berfokus pada diri Bella. Pada apa yang Bella katakan. Pada apa yang Bella ceritakan.
Setiap kata, setiap momen selalu membekas di benak Abian sampai saat ini. Dan Abian hanya ingin selalu bisa bersama Bella.
Abian sangat mencintai Bella.
Sesampainya di apartemen Bella langsung bersiap mengambil paper bag kertas yang Abian beri tadi. Yang ingin Abian isi dengan pakaian kotornya.
"Sayang." Abian langsung meringsak masuk memeluk pinggang ramping Bella dengan erat.
"Em," jawab Bella singkat.
Sebelah tangan Abian terangkat. Jemarinya tanpa permisi menyampirkan rambut panjang Bella sehingga bisa memperlihatkan leher jenjang yang menjadi salah titik favorit Abian pada tubuh Bella.
"Nanti selesai sidang atau wisuda kita jalan-jalan yah." Dan bibir nakalnya itu sudah mengecup leher dan telinga Bella.
Tentu saja perlakuan itu membuat Bella menghentikan jemarinya yang sedang melipat dan memasukkan pakaian kotornya itu.
"Iya, kamu atur jadwal kerjamu aja. Aku juga habis wisuda memang pengen santai dulu."
Meski masih belum terbiasa dengan sentuhan-sentuhan intim yang belakangan sering diberikan Abian untuknya. Bella berusaha tenang mengendalikan tubuhnya. Abian bisa merasakan hal itu.
"Aku pengen secepatnya bareng kamu lagi." Pinta Abian manja.
"Kamu juga kayak gitu nggak sama aku," ucap Abian lagi yang kini tangannya sudah mulai nakal membelai paha Bella sampai ke pangkal pahanya dengan gerakkan yang seduktif.
"J-jangan buat kesimpulan sendiri kayak gitu. Akh! Bi," ucap Abian memekik sebab tangan Abian yang lain sudah naik ke atas menggenggam kedua gunung kembarnya itu dengan sedikit menekannya.
"Abi-an,” pekik Bella.
"I need you, Bel …."
__ADS_1
Suara Abian parau. Syarat akan gairah yang mulai tersulut.
Belum sempat Bella menjawab Abian sudah membalik tubuh Bella dan mulai kembali mencumbu dan berperang dengan bibir Bella dengan seduktif memancarkan gelombang libidonya yang tinggi.