
"Rumah sakit mana Bel," tanya Arga.
Mereka berdua baru saja memasuki mobil Arga, bersiap melaju meninggalkan rumah Alisa menuju rumah sakit tempat mama Bella berada.
"Di Rs. Mitra Family Ga, daerah Prapanca."
Kemudian Arga mengangguk. "Ya sudah jangan panik yah, aku masukin dulu alamatnya di GPS."
Dengan cekatan Arga memasukan alamat yang Bella katakan. Dengan cepat melajukan mobilnya menembus jalanan padat Jakarta yang tak pernah sepi.
Sesekali Arga menoleh ke arah Bella, menggenggam tangan Bella yang terlihat cemas. "Bel, tenang aja yah. Jangan panik.“ Selagi menyetir Arga mencoba membuat Bella yang sedang panik untuk terlihat baik-baik saja.
“Kalau mama udah di rumah sakit dia pasti ditangani dengan baik kok, kalau kamu panik itu gak akan baik."
Sedikit Arga jadi mengingat dirinya yang dulu selalu cemas saat mengantar mama-nya ke rumah sakit. Ya, pikiran itu masih membekas meskipun mama-nya sudah lama meninggalkan Arga.
Bella memaksakan senyumnya. "Iya Ga Makasih. Aku cuma panik aja. Soalnya ini pertama kalinya mama sampai masuk rumah sakit." Jelas Bella.
"Tenang aja, aku bakal bantu kamu kok Bel," ucap Arga. Sebuah kalimat sederhana yang bisa Arga ucapkan untuk membuat Bella mengusir rasa lelahnya.
Arga merasa dejavu sebab dirinya selalu mempunyai hubungan buruk dengan rumah sakit. Arga merasa itu akan menjadi mimpi buruknya lagi untuk melihat ruang ICU atau kamar mayat.
Satu jam kemudian mereka sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Namun sebelum Bella turun dari mobil, Arga memegang pergelangan tangan Bella.
"Bel, pakai jaket aku yah. Baju kamu pendek banget."
Bella yang menyadari hal itu, tanpa pikir panjang mengambil jaket yang Arga berikan.
"Makasih ya Ga."
Sudut bibir Arga tersenyum. "Sama-sama, Bel."
Bella yang turun dari mobil langsung mengambil langkah lebar, bertanya pada resepsionis dimana tempat mama-nya dirawat
"Ma … Mama kenapa bisa sampai kayak gini?"
Ekspresi wajah Bella tampak cemas duduk di kursi tempat mama-nya terbaring lemah dengan infus yang menancap di tangan kanannya.
Jelas terlihat jika Bella sangat khawatir dengan keadaan mama-nya yang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi.
"Enggak apa-apa sayang hanya kecapean aja kata dokter dan kurang istirahat. Lagipula tadi salah satu karyawan Mama juga sudah bantu. Jadi gak perlu panik berlebihan. Besok udah diizinkan pulang kok." Jelas mama Bella panjang lebar untuk menenangkan Bella.
"Ya, sudah minggu depan Bella bantu handle toko yang ada di luar kota aja. Mama yang di dalam kota aja supaya gak terlalu capek."
Tante Misya tersenyum. "Terima kasih yah Nak. Tenang aja mama pasti kembali sehat lagi kok.“
"Arga, maaf yah tante ngerepotin kamu atau jadi ganggu waktu kalian kencan," ucap tante Misya.
__ADS_1
Sorot mata satunya bisa Arga lihat mencoba untuk menampakan wajah baik-baik saat memandang ke arah Arga yang ada di belakang Bella.
Seketika Bella meleparkan kelopak matanya. "Mama …."
Tante Misya malah terkekeh dan suasana yang tadinya penuh kecemasan berubah menjadi lebih santai dan jenaka.
"Ya, enggak mungkin 'kan kamu pakai baju kayak gitu cuma buat datang ke rumah sakit aja kalau kamu memang pergi dari rumah."
Terdengar Bella menghela napasnya panjang. Ya, mau bagaimana lagi sebenarnya Arga juga mengira jika memang Bella akan berkencan dengan cowok tapi bukan dengan Arga melainkan dengan pasangannya, dan Arga menjadi penasaran apa tante Misya belum tau teman lelaki yang sedang dekat dengan Bella.
"Mama lebih baik istirahat aja. Aku temenin Mama di rumah sakit yah," ucap Bella.
Namun kepala tante Misya menggeleng. "Gak perlu, Nak. Disini udah ada perawat yang jagain Mama. Kamu lebih baik pulang dan besok pagi bantu kesini jemput Mama pulang. Kalo kamu di sini Mama malah jadi gak tenang istirahatnya khawatir sama kamu."
"Tapi Ma—" Perkataan Bella terpotong.
"Gak apa-apa Bel. Mama sudah dikasih obat dan suntik vitamin tadi. Hanya perlu tidur nyenyak kata dokter— Arga, tolong jaga anak Tante yah. Pastiin dia pulang kerumah dengan selamat."
Arga yang merasa terpanggil kemudian mengangguk. "Ya, Tante gak usah khawatir. Pasti Arga jagain. Tante istirahat aja gak perlu mikir macam-macam dulu."
Mama Bella tersenyum. "Iya, kalian pulang aja."
Bella pada akhirnya mengalah. "Ya, sudah besok pagi Bella ke sini lagi. Mama baik-baik disini yah."
"Ya, sayang jangan khawatir."
"Jangan sedih gitu mukanya Bel, biarkan mama-mu istirahat. Aku rasa memang lebih baik dia di rumah sakit sedikit lebih lama supaya kalau ada terjadi hal lain bisa cepat ditangani dokter yang lebih tau lakukan tindakan. Mungkin juga mama-mu lebih stres kalo tinggal di rumah saat ini, maka ia memilih tinggal di rumah sakit beberapa saat." Jelas Arga panjang lebar.
"Iya Ga, mungkin aja kayak gitu. Soalnya beberapa hari terakhir mama memang sering bawa kerjaan ke rumah, jadi mungkin aja dia merasa di rumah juga terasa di kantor."
Bella kemudian menoleh, senyumnya merekah manis menunjukkan lesung pipinya. "Terima kasih yah Ga. Hari ini sudah bantunin banyak banget."
Hati Arga tentu senang mendengar hal itu, wajahnya juga ikut tersenyum membalas senyuman Bella.
"Sebaiknya, aku antar kamu pulang." Ajak Arga mengulurkan tangannya.
Kepala Bella mengangguk kecil, bahkan tanpa rasa canggung menautkan jemari mungil Bella pada tangannya besar milik Arga.
Bella tidak protes ataupun risih dekan sikap Args yang melakukan skinship sederhana itu. Mereka memang dulu suka melakukan hal itu dan pegangan tangan adalah hal yang masih wajar untuk Bella biarkan.
"Bel, selama kita dekat baru pertama kali aku langsung main ke rumah kamu." Jujur Abian.
Bukan rahasia memang Bella hanya mengajak teman yang benar-benar dekat untuk datang ke rumahnya.
"Kamu 'kan dulu seringnya ketemu di Bandung Ga. Dan kalo ke Jakarta kita lebih sering hangout bareng Jodhi sama Alisa. Jarang berduaan doang."
Kepala Arga mengangguk kecil. "Iya, juga sih soalnya aku kalo datang ke Jakarta selama ini jarang lama stay-nya dan sekalinya datang cuma buat urus kerjaan aja."
__ADS_1
"Iya, dari dulu kamu tuh workaholic. Kadang aku sampai bingung cara kamu bagi waktu untuk diri kamu sendiri."
Sudut bibir Arga tersungging, karena nyatanya ia memang jarang punya waktu untuk dirinya sendiri. Ditambah mamanya yang dulu sering masuk rumah sakit. Tidak ada yang Arga pikirkan selain mama-nya.
"Kayaknya aku jarang punya waktu sendiri. Punya cukup waktu buat tidur aja rasanya sudah bagus banget." Curhat Arga.
Bella menoleh dengan wajah khawatirnya. "Jangan keseringan gitu nanti kamu bisa sakit. Boleh-boleh aja kerja giat tapi harus ingat kesehatan nomor satu."
"Iya Bel, makasih sudah selalu ingetin itu, bahkan dari dulu kamu gak pernah berubah perhatiannya. Maaf ya aku beberapa bulan ini terlalu sibuk sampai lupa buat sering kabarin kamu kayak dulu."
Seketika Arga menginjak rem pedal mobilnya perlahan. Pandangan Bella menjadi terfokus pada jalanan yang ada di depannya, juga suara mesin GPS yang mengatakan bahwa sudah sampai di tempat tujuan.
"Ga, makasih yah sudah anterin aku kemanapun hari ini. Kamu mau mampir dulu gak?" Tawar Bella.
"Memang boleh aku mampir sudah larut malam gini."
Bella kemudian menoleh ke arah jam yang ada di layar GPS yang menunjukkan waktu.
"Baru jam sembilan belum kemalaman kok."
"Boleh deh, sekalian mau cobain kopi buatan kamu," ucap Arga.
"Kamu punya cafe dan pintar buat kopi. Aku cuma bisa kasih kamu kopi instan Ga," jawab Bella terkekeh.
Dan setelah berhasil memarkirkan mobilnya di pelataran rumah Bella. Mereka berdua langsung masuk menuju ruangan tamu.
"Kamu duduk aja dulu, sebentar aku buatin kopi kamu dulu ya. Kopi susu 'kan."
Arga langsung menganggukan kepalanya. "Ya, Bel. Makasih."
Senyum Bella memulas dengan begitu menawan membalas perkataan Arga. Membuatkan kopi susu dan membawa satu wadah camilan untuk teman minum kopinya.
"Ini Ga, di minum yah." Bella meletakan kopi dan juga camilan pada meja kayu di hadapannya.
Arga menyambutnya dengan senang hati sampai tak terasa waktu berlalu dengan obrolan mereka yang sederhana. Malam kian larut dan Arga beranjak dari kursinya.
"Aku pulang dulu Bel, nanti kalo kamu ada waktu senggang kita jalan-jalan."
"Harusnya aku yang bilang gitu. Kamu yang super sibuk," sarkas Bella.
Arga memegang rambut belakangnya dengan senyumnya yang tersungging. Bella berjalan mengantar Arga sampai ke pintu depan.
"Bel," panggil Arga. Tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ya Ga," Bella menoleh.
Seketika mata Bella membulat. Arga menarik tubuhnya dan menekan tengkuk Bella. Mencumbu dalam bibir Bella dengan semangat. Tanpa sadar Bella memejamkan matanya meremat baju Arga pada bagian pinggangnya. Menikmati setiap sesapan lembut yang Arga berikan pada bibirnya.
__ADS_1