
Sesudah menyelesaikan curhatanya panjang lebar dengan Alisa, Bella menghubungi Arga. Keputusannya sudah bulat, ia akan menyelesaikan acara balas dendamnya dan melupakan perasaannya pada Abian.
Kekecewaannya sudah menumpuk bagaimana bisa Abian mengkhianati perasaannya lagi dengan Amel. Wanita masa lalu yang juga sama menghancurkan hubungannya dengan Abian.
Bella terus mengaduk boba-nya. Napasnya menghembus dalam. "Apa setelah ini gue akan baik-baik aja?" Bella terus merapalkan hal itu dalam hatinya.
"Bella."
Suara barito itu menyadarkan Bella pada lamunannya. Bibirnya langsung memulas senyum. "Eh, maaf yah aku gak sadar kamu udah datang Ga."
"Santai aja Bel. Kamu udah lama tunggu?" Arga bertanya penuh perhatian.
Kepala Bella menggeleng. "Eh, nggak kok."
"Kamu sudah makan Bel?"
Pertanyaan itu membuat Bella memandang Arga lekat, mengapa Bella bisa mencintai Abian yang egois dan keras kepala. Belum lagi pikiran Abian yang mesum. Dibanding dengan Arga yang perhatian dan bisa mengerti Bella dengan baik.
Jika semua hal dijabarkan dan dibandingkan, Arga jelas lebih baik dari berbagai sisi sikap dan untuk karir juga tidak kalah dengan Abian.
"Mm, belum Ga. Kamu sudah makan. Gimana kalau kita makan dulu. Biar lebih enak ngomongnya nanti." Usul Arga.
"Kamu mau makan apa?" tanya Arga.
Bella berpikir sejenak. "Aku mau makan bakso pinggir jalan, kamu mau gak?"
Bibir Arga menyungingkan senyum. Wajahnya yang memang sudah tampan menjadi sangat berkarisma. "Boleh tuh." Arga langsung setuju.
"Kamu punya tempat langganan gak? Atau kita cari aja yang dekat sini," tanya Arga.
"Aku sama Alisa biasanya makan bakso yang ada di kampus. Bakso mang Udin."
"Ya sudah, kita ke sana aja. Sekalian kita nostalgia. Aku sama kamu kan sama-sama alumni."
Bella terkekeh. "Eh, iya yah aku masih suka ngerasa masih jadi anak kampus aja."
"Wajar sih kamu 'kan baru beberapa bulan lulus, Bel."
Tanpa sadar Bella menatap Arga dengan tatapan nyaman. "Bener juga, kalo dulu pas masih ngampus maunya cepat lulus. Eh, giliran udah lulus maunya ngampus lagi. Suka aneh yah, Ga."
Cerita klasik yang sering dialami oleh alumni, mengenang bagaimana sosialisasi mereka selama bersekolah. Masa-masa yang pasti tidak akan mudah terulang lagi.
Namun sebelum sempat Bella beranjak dari kursinya, kelopak mata Bella melebar melihat sosok yang ia ingin hindari.
"Kenapa kamu sama lelaki ini? Jelasin ke aku Bella?" Suara Abian terdengar menaik. Menandakan jika ia sedang emosi.
Tentu saja Bella hafal dan tau bagaimana cara menyulut emosi Abian tersulut. Bella terdiam terpaku pada pandangannya dan bibirnya tampak kelu untuk berbicara.
"Bel, kamu kenal lelaki ini?" tanya Arga.
__ADS_1
Namun Bella memilih untuk menggenggam tangan Arga. "Em, ayo. Sebaiknya kita pergi dari sini aja Ga."
Bella langsung bangkit dari kursinya. Membuang pandangannya pada Abian yang berdiri menunggu jawaban atas pertanyaannya. Tetapi Bella yang bertingkah seperti itu malah membuat Abian semakin naik pitam dan menarik tangan Bella kuat.
"Aww.. Akh!" Bella memekik, wajahnya tampak kesakitan.
Arga langsung bertindak dengan menarik tangan Abian sampai wajah Abian sadar Bella memekik kesakitan dan tangannya yang mencengkram tangan Bella erat itu terlepas.
Bugh! Abian meninju Arga tepat di wajahnya sampai tubuh Arga bergeser dari tempatnya berdiri.
Tak terima Arga yang sepertinya tersulut emosi kemudian memukul balik Abian sampai sudut bibir Abian mengeluarkan darah.
"Jangan kasar sama perempuan, Bro!" Tegas Arga.
Wajah Abian memandang Arga lekat kemudian Abian hendak membalas sudah mengangkat tangannya yang sudah siap meninju sebelum Bella memekik kencang.
"Stop! Berhenti!"
Bella memejamkan matanya. Teriakan Bella yang kencang itu nyatanya mengurungkan niat Abian untuk memberi pukulan untuk Arga dan juga berakhir mengundang pengunjung sekitar kafe untuk mendekat ke arah mereka.
"Mbak, ada apa?" tanya salah satu pengunjung wanita.
"Mas kalo mau berantem jangan di sini!" celetuk pengunjung lelaki berbaju merah
"Ih, kayaknya lagi berantem deh. Tuh cewek selingkuh kali."
"Gila, seru nih liatin lagi perebutan cinta gini. Rekam ah biar viral."
Bella jadi teringat masa lalunya saat SMA, bagaimana dulu temanya membully-nya karena disangka halu saat mengakui Abian adalah pacarnya. Cemoohan, hujatan bahkan kata-kata mengutuk sering ia dengar. Tak jarang Bella menjadi sasaran empuk karena dirinya yang dulu sangat lemah.
Bella menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya. Kepala Bella menggeleng kuat. Mulutnya membisu, pandangannya tiba-tiba mengabur dan tubuh Bella menjadi tidak seimbang.
"Bel!"
"Bellaa!"
Brukk..
Tubuh Bella terjatuh tak sadarkan diri tergeletak begitu saja di lantai.
***
Kepala Bella terasa pusing, hal pertama yang ia lihat adalah tembok putih dan bau obat-obatan yang menyengat di hidungnya. Matanya mengerjap mencari seseorang. Dan matanya seketika berhenti saat melihat Alisa yang duduk di kursi kayu dengan kepalanya yang tertunduk lesu.
"Sa," panggil Bella dengan suara yang lemah.
Alisa yang menyadari itu kemudian mendekat ke ranjang tempat Bella terbaring. "Bel, lo baik-baik aja? Atau ada terasa yang sakit? Biar gue panggil dokter sekarang,” ucap Alisa.
Kepala Bella menggeleng kecil. "Nggak perlu Sa."
__ADS_1
"Bel, lebih baik lo istirahat dulu. Tubuh lo masih lemah."
"Gue udah baik-baik aja kok Sa, gak ada luka serius di badan gue. Gak perlu khawatir."
Bella memulas senyumnya. "Sa, lo kenapa bisa ke sini? Setau gue sebelum gue gak sadar diri pas gue sama Abian dan Arga. Mereka dimana Sa?"
"Gak perlu mikirin mereka yang penting lo sehat dulu." Alisa langsung pergi meninggalkan ruangan Bella.
"Aneh banget si Alisa." Monolog Bella.
Bella mengambil ponsel yang ada di dekat nakas ranjangnya yang bergetar panjang tanya panggilan masuk. Bella langsung memeriksa siapa yang meneleponnya.
"Iya Ma," jawab Bella.
"Arga bilang kamu masuk rumah sakit? Sekarang gimana keadaan kamu?" Suara mama Misya tampak khawatir.
"Mama jangan khawatir aku baik-baik aja kok mah," sahut Bella di ujung telepon-nya.
"Habis dari Kemang Mama bakal datang ke rumah sakit."
"Nggak perlu Ma, udah baik. Bella cuma pingsan aja tadi Mama gak perlu khawatir."
"Kalau ada apa-apa bilang Mama yah, Nak."
"Ya, Ma. Bella tutup teleponnya."
Setelah mengatakan hal itu, Bella memutuskan sambungan teleponnya. Kaki Bella beringsut memakai kembali sepatunya, ia tidak suka berada berlama-lama di rumah sakit.
Cklek, pintu ruangannya kembali membuka.
"Abian!" Bella memekik kaget. Sudut bibir Abian tampak lebam.
"Bel, biar aku antar pulang kamu." Pinta Abian.
"Gak perlu." Suara Bella terdengar acuh.
Abian kembali menyentuh tangan Bella. Namun Bella segera menepisnya. "Abian, please.. sebaiknya kamu pulang!" Bella bahkan menunjukkan wajahnya yang kembali berlinang air mata dan wajahnya yang terlihat takut.
"Tapi Bel, kamu harusnya kasih aku kesempatan buat jelasin ini semua. Aku lagi cari solusi buat kita bersama. Oke! Kalo kamu gak mau tunggu anak Amel lahir atau aku menikah dengan Amel. Aku akan cari cara lain. Asal kamu tetap sama aku. Bella, sayang.. Aku gak bisa hidup tanpa kamu lagi."
Sebut saja Bella bodoh ketika Abian memeluknya dan Bella hanya terdiam, menerima perlakuan Abian.
"Maafin aku …."
Tangis Bella pecah. "Kamu jahat Abian! Aku benci kamu!" Tangan Bella yang lemah kembali memukul dada bidang Abian.
Namun Abian tetap memeluk erat Bella dengan erat. Membiarkan Bella melampiaskan seluruh amarah dan tangisan Bella yang semakin kencang.
"Jangan bilang kata putus sembarangan lagi! Aku gak akan biarkan kamu bilang kayak gitu lagi. Sampai kapanpun aku gak akan mau putus dari kamu. Aku cinta sama kamu Bella." Abian mengeluarkan pengakuannya.
__ADS_1
Sesudah mengatakan itu Abian langsung manggut bibir Bella. Mencium lembut bibir Bella yang bergetar karena tangisannya.
Dan tanpa sepengetahuan dua insan yang bercumbu itu, di balik pintu Arga menyaksikan semuanya. Bagaimana mereka bercumbu satu sama lain.