
Bella tau ini sesuatu yang salah, namun ia sungguh tidak bisa menghentikan Abian. Bahkan, tubuhnya sendiri sulit sekali diajak bekerja sama.
Pesona dan kekuatan Abian untuk meyakinkannya menguasai alam bawah sadarnya sangat kuat.
"Ah, Bian." Suara Bella terdengar parau. Penampilan tubuhnya juga terlihat sangat kacau.
Abian menarik tubuhnya setelah puas memberi kecupan basah pada bagian bukit kembar Bella yang sudah terpampang nyata di hadapannya meski masih ada kain penutup yang sudah tersingkap ke atas.
“Bella.. saat ini aku gak bisa mengendalikan diri aku.. kamu cantik. Tubuh kamu harum dan lembut,” ucap Abian.
Bella sudah meneguk ludahnya kasar. Bulu Roma di sekujur tubuhnya juga ikut bangkit dari permukaan kulitnya sebab tangan hangat Abian yang hangat menjalar kebagian kulit tubuhnya yang dingin.
Tatapan iris mata berwarna hitam itu semakin kelam. Abian membuka kancing kemejanya dan tanpa rasa malu ia membukanya di hadapan Bella. Memamerkan bentuk tubuhnya yang cukup Abian jaga dengan sering berolahraga intens.
Tangan Abian terulur meraih jemari Bella yang masih tergeletak lemah di samping tubuhnya sendiri.
“Kamu bisa merasakannya ‘kan Bel. Aku benar-benar gila karena kamu.” Abian meletakkan telapak tangan Bella pada dada bidangnya. Abian seolah berkata jika jantungnya berdebar karena Bella.
Wajah Bella memerah seperti apel masak, jujur saja ia baru pertama kali menyentuh tubuh seorang lelaki dewasa tanpa alas apa pun. Tangan Bella bahkan hanya diam terpaku. Bella bahkan dapat merasakan jika Abian termasuk ke dalam lelaki yang pandai menjaga tubuhnya. Terbukti dari tonjolan ototnya yang terasa keras.
Sebagai seorang perempuan normal Bella tidak munafik ia suka tubuh lelaki yang bagus. Apalagi jika tubuhnya berotot.
Mata Bella mengerjap napasnya terengah bukan hanya karena Abian menindihnya Bella malah menjadi tidak fokus pada denyut jantung Abian karena jika saja Abian tau jantungnya sudah berdebar dengan sangat kencang dan Bella bisa merasakan itu lewat telapak tangannya.
Apa iya Abian gugup, tetapi Abian itu playboy. Mana mungkin gugup melakukan hal seintim ini dengan perempuan.
Pandangan Bella yang semula pada dada bidang Abian kemudian menatap mata Abian lagi. Mencari jawaban atas pemikirannya. Tapi saat menatap mata itu lagi Bella malah semakin terjebak dengan kilauan mata Abian yang sangat indah.
Bella tidak tau apa itu sorot mata gugup atau memang hanya bagian dari trik Abian untuk meminta Bella mengikuti keinginannya untuk memasrahkan dirinya.
Abian kemudian mendekatkan dirinya. “Answer me, Bella sayang.” Suara Abian syarat akan godaan dan rayuan.
Bella yang terdiam, menggigit bibirnya. Manik mata cokelat madunya bahkan tak sanggup lagi memandang wajah Abian yang sangat panas dan juga menawan disaat bersamaan. Sial mengapa Abian begitu sempurna. Tubuh Bella semakin memanas.
Tapi di detik berikutnya Bella mendengar suara Alisa di kepalanya.
'Bel, ingat lo gak boleh terjebak dengan perasaan lo.'
Kata-kata itu akhirnya menyadarkan Bella dan mendorong dada Abian. Sehingga Bella yang berada di atas tubuh Abian.
“Jangan pakai trik ini sama gue. Gak mempan Abian, Jangan bilang juga lo pura-pura mabuk.“
Bella bangkit dan merapikan kembali pakaiannya.
“Gue mau pulang. Lo pasti udah bisa urus diri lo sendiri.“ Dengan suaranya yang bergetar.
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Bella mengambil tasnya dan meninggalkan kamar hotel itu. Bella juga sengaja tidak memberikan kesempatan Abian untuk menjawab semua omongan-nya. Sebab Bella tau berkelit dengan Abian hanya akan membuat hatinya kembali goyah. Bella tidak ingin Abian terus memandunya.
Jika dulu Bella begitu menurut karena mencintai Abian tapi sekarang Bella itu sosok yang baru. Dan sekarang ia datang pada Abian sebagai musuhnya.
Di tengah malam yang dingin, Bella keluar dari hotel dan mencari taksi untuk mengantarnya ke tempat lain. Tidak ke rumahnya maupun ke rumah Alisa.
Tetapi ia pergi untuk pergi ke tempat Arga. Lebih tepatnya apartemen Arga.
Beberapa bulan setelah jarang berkomunikasi, akhirnya Arga memberi kabar jika sekarang Arga tinggal di Jakarta untuk mengurus bisnis papa-nya.
Berusaha untuk tenang, Bella menekan bel.
Bella tidak tau apa Arga ada di apartemennya atau tidak. Pikiran Bella hanya sebatas ia ingin bertemu dengan Arga disaat ia sedang lemah seperti ini.
“Bella!“ pekik Arga.
“Ayo masuk.“ Lanjut Arga.
Bella bisa tenang sebab Arga memang selalu bisa mengerti tanpa harus Bella banyak bercerita.
“Bella, boleh gue peluk lo?“ tanya Arga.
Kepala Bella mengangguk kecil dan langsung saja memeluk Arga terlebih dahulu.
“Makasih ya Ga,” sahut Bella.
Entah sudah berapa lama Bella memeluk Arga tubuhnya merasa nyaman merasakan kehangatan yang Arga berikan. Hatinya juga sedikit lebih ringan saat ini dan perlahan merenggangkan pelukkanya.
Ibu jari Arga mengusap sudut mata Bella yang basah.
Sentuhan itu malah membuat Bella sedikit terkejut. Entah ada pikiran dari mana bagai ada bisikan halus, Bella memejamkan matanya dan menggapai bibir Arga.
Awalnya Bella hanya menempelkan bibirnya saja tapi saat Bella ingin menjauh menarik wajahnya, tangan Arga malah menggapai tengkuk Bella sehingga kedua peraduan bibir mereka tidak terelakkan.
Bibir Arga memang manis, lembut dan tekanan yang ia berikan pada bibir Bella terasa sangat pas. Tapi sekali lagi hati Bella menyadari sesuatu hal dan tangannya menepuk pundak Arga guna melepaskan tautan bibir mereka yang masih saling mengunci satu sama lain.
“Bella ….“ panggil Arga lirih.
Kening Arga dan Bella bersatu. Suara deru napas bisa terdengar jelas di rungu Bella.
“Arga.. sorry gue cium lo duluan.“ Bella membuat pengakuan.
“It's oke gue suka. Tapi gue gak tau alasan lo cium gue karena apa.“ Jujur Arga.
Bibir Bella terdiam. “Em.. maaf.“
__ADS_1
Nyatanya Bella tidak mampu menjelaskan. Tapi Arga menyunggingkan senyumnya dan mengecup bibir Bella singkat. Wajahnya juga Arga jauhkan sehingga mereka berbicara dengan jarak yang normal.
“Ya udah gak perlu dipikirkan. Apapun alasan buat ciuman tiba-tiba itu yang pasti gue membalasnya dengan perasaan tulus cium lo, Bel.”
Tangan Arga mengelus puncak kepala Bella lembut, seolah Bella itu barang pecah belah yang sangat rapuh.
“Kita omongin besok aja yah.. kayaknya lo juga perlu istirahat dan gue juga.“
Tangan Arga menggenggam tangan Bella dan mengajak Bella untuk duduk di sofa.
“Tunggu sini dulu yah Bel,”
Setelah berkata seperti itu, Arga berjalan dan pergi memasuki sebuah ruangan yang Bella tebak itu adalah kamar pribadi Arga.
Sambil menunggu Arga keluar dari kamarnya ponsel Bella terus bergetar tak henti-henti. Merasa terganggu Bella melihat apa yang menyebabkan ponselnya bergetar. Dan Bella langsung menonaktifkan ponselnya sesudah melihat nama Abian.
“Bel, ini lo ganti baju dulu deh. Biar nyaman tidurnya, tenang aja itu bajunya baru kok belum pernah gue pakai. Nanti lo tidur di kamar gue aja yah,” ucap Arga.
“Terus lo tidur dimana Ga?“
“Gue tidur di sofa ruang kerja aja. Apartemen gue cuma ada satu kamar aja soalnya.“
Kepala Bella menggeleng. “Lo tidur di kamar lo aja. Gue di sofa ruangan kerja lo aja Ga.. nggak masalah kok.“
“Bel.. gak apa-apa, gue bisa sambil kerja di sana. Kayaknya Maya gue udah agak segar lagi.“
“Tapi Ga—”
Perkataan Bella terjeda saat Arga menarik tangan Bella sehingga membuat Bella mau tak mau mengikuti langkah Arga.
Sampai Arga membawa Bella pada depan pintu yang sempat tadi Arga masuki sebelum memberinya baju.
“Jangan pakai nolak lagi. Atau lo atau kita tidur berdua di kamar?“
Ucapan yang terdengar seperti ancaman yang menakutkan tetapi juga membuat Bella tertawa sebab Arga mengatakannya dengan suara jenaka.
“Mm, pilihannya nyebelin. Ya udah kalo gitu. Makasih yah, Ga.“ Bella memulas senyumnya.
“Sama-sama, Bel. Udah istirahat sana.“
Arga membelai lembut puncak kepala Bella. “Kalo ada apa-apa panggil gue aja yah. Ruang kerja gue disitu.“ Tunjuk Arga pada pintu lain di seberang kamarnya.
Tanpa berkata banyak lagi Arga membuka pintu kamarnya dan meminta Bella masuk. Tak lama suara pintu menutup dan Bella bisa melihat kamar Arga yang minimalis juga tertata rapi dengan nuansa monokrom yang sangat terasa.
Beruntung dan merasa bersyukur Bella rasakan sebab Arga adalah lelaki yang baik. Dan untuk masalah Abian, lebih baik Bella memikirkannya besok.
__ADS_1