
“Kita hidup masing-masing.“
Ucapan Bella itu membuat darah Abian mendidih, sebab Abian tidak sangat suka dengan ucapan seperti itu.
“Bel, gak seharusnya lo bilang kayak gitu. Apa lo sama sekali gak menghargai usaha gue buat cari lo.“
Setelah itu air mata Bella meluncur begitu saja. Abian yang melihat itu hatinya pedih.
“Jangan menangis sayang ….“
Bibir Abian mengecup sudut mata Bella. Setelah tangan Abian mengusap air mata Bella.
“Gue sayang banget sama lo.. Bel, dari dulu sampai sekarang gak berubah. Tentang Amel itu, saat itu aku gak punya pilihan dan aku gak mau sampai beasiswa sekolah kamu ikut terganggu.“
Ini memang bukan alasan semata, ucapan Abian hanya untuk meluluhkan hati Bella semata. Memang ada bukti yang bisa dipertanggung jawabkan.
Selama bertahun-tahun Abian tidak pernah bisa melupakan sosok Bella, jika saja Abian bisa mengulang kembali waktu yang ada Abian mungkin akan merubah keputusannya.
Penyesalan mendalam itu tidak pernah hilang dari rongga dadanya.
“Bi.. semuanya sudah terjadi. Dan aku kira lebih baik kita memang menjauh. Pertemuan kita ini hanya sebatas agar kamu mengakui kesalahan aku dan kamu,” ucap Bella.
Abian tertegun saat Bella memulai percakapan dengan lebih lemah lembut padanya. Tetapi hal itu juga membuat Abian semakin berat melepaskan Bella perempuan yang sangat Abian cintai.
Kepala Abian menggeleng kuat. “Aku gak bisa.. aku tetap mau sama kamu Bella.“
“Gimana dengan Amel? Apa sekarang kamu gak ada status apa-apa sama Amel?“
Pertanyaan menohok itu membuat Abian terdiam. Nyatanya semenjak dulu hingga sekarang kisah cinta Abian dan Bella selalu terjebak pada Amel yang menjadi orang ketiga di antara mereka.
“Gak ada.. aku gak ada hubungan apapun Bel.“ Dusta Abian.
Kini kepala Bella menggeleng kuat. “Aku tau kamu bohong Abian.“ Suara Bella bergetar hebat.
“Aku akan cari jalan keluarnya untuk itu, Bel.“ Abian menatap kedua bola mata Bella dengan berani.
Tekat Abian sudah bulat. Abian juga punya rencana untuk memutuskan hubungannya dengan Amel. Ada bukti lain yang sedang ia selidiki. Abian yakin anak di dal perut Amel bukanlah anaknya.
“Bian.. aku capek. Kamu lebih baik cari cewek lain yang benar-benar cinta sama kamu—”
Perasan Abin kacau, ia langsung menghampiri Bella dan memeluk tubuh Bella yang masih lemah itu. Bahkan Abian membubuhkan kecupan di pelipis Bella dengan lembut.
Abian tau ia salah tapi Abian tidak mau lagi tersiksa dengan perasaan jauh dari Bella. Bukan karena Bella yang berubah secara fisik maupun kemampuan sosialnya yang berubah. Tapi Abian memang mencintai Bella karena sikap Bella yang bisa mengerti dan menerimanya apa adanya.
“Bi.. udah cukup masalah Amel di masa lalu. Aku gak mau tambah lagi di saat ini, semua udah terjadi. Kamu harus menerima takdir, kita memang gak bisa bersama lagi.“
“Kamu gak boleh ngomong kayak gitu.. Bel, aku malah pengen nikahin kamu sayang. Aku serius dengan perasaan aku kali ini.“
__ADS_1
Merenggangkan pelukannya, Abian menatap mata Bella lagi.
“Kalau itu mau kamu harusnya kamu gak cuma bilang janji sama aku. Kamu harusnya bawa aku ketemu orangtua kamu.“
“Pasti, secepatnya aku pasti akan bawa kamu ketemu sama orangtuaku Bel. Mulai sekarang kamu pacar aku yah,” tutur Abian.
“Kenapa harus pacaran.. Aku gak mau.“
“Lalu kamu mau apa?“ tanya Abian.
“Aku mau kita bertunangan.“
Sorot mata Bella tampak memandang Abian dengan tegas dan berani. Tanpa pikir panjang Abian mengangguk, tanda ia setuju dengan apa yang Bella katakan.
Namun setelah Abian menyanggupi hal itu, Abian bisa melihat jika pupil mata Bella bergetar. Menunjukkan jika Bella terkejut dengan kesanggupan Abian.
“Abian.. kamu serius?“ Bella malah balik bertanya.
“Tentu aja, aku serius. Secepatnya aku akan mempertemukan kamu sama orangtuaku dan aku akan ketemu dengan orangtua kamu.“ Tegas Abian penuh percaya diri.
Sesudah mengatakan hal itu, Abian menyuapi Bella dengan telaten dan membantu Bella untuk minum obat.
Masalah Amel, nanti ia akan selesaikannya.
“Kamu istirahat dulu yah. Kita pindah ke kamar aja yah supaya lebih nyaman. Nanti kalo kamu udah gak lemas lagi baru aku antar pulang yah,” ucap Abian.
“Sama-sama sayang. Aku bakal kerja dulu yah, tenang aja aku gak bakal khianati kepercayaan kamu.“ Jelas Abian.
Keluar dari kamarnya, Abian tertunduk memah di depan pintu kamarnya. Abian merogoh ponselnya lagi dan menelepon Bastian lagi.
“Bas, bisa gak lo ke apartemen gue.“ Abian berucap di ujung telepon-nya.
“Mm.. oke gue on the way deh yah,” sahut Bastian.
Menutup sambungan teleponnya, Abian pergi ke ruang kerjanya. Bukan hanya untuk memeriksa pekerjaan tetapi Abian sedang mengumpulkan beberapa bukti tentang Amel dan juga temannya Marsel.
Ya, Marsel. Abian menduga jika bayi yang tengah di kandung Amel itu adalah anak Marsel. Dugaan itu Abian yakini kebenarannya sebab Amel dan Marsel dulu adalah mantan ke kasih sebelum bersama dengan Abian.
Dulu Abian juga tidak pernah menganggap Amel sebagai pacarnya. Abian juga menyentuh Amel saat perasaan-nya tengah rindu dengan Bella atau ia sedang stres karena tekanan pekerjaan.
Abian tau ia brengsek dengan menggunakan tubuh Amel tetapi Abian tidak pernah melakukannya tanpa sadar dan tanpa pengaman karet yang selalu ia selipkan dalam dompetnya.
Dan Abian curiga dengan malam dimana Abian tidur bersama Amel dalam keadaan mabuk, karena seingat Abian ia sedang mabuk di club bersama Bastian juga Marsel.
“Sial! Andai aja gue bisa lihat isi chat Amel,” gumam Abian.
Tangan Abian memijat pelipisnya dan mencengkram tangannya kuat setelah melihat CCTV yang menunjuk jika Amel sengaja membawa Abian keluar dari club.
__ADS_1
Abian juga punya bukti jika Marsel yang sengaja mengundang Abian sampai menaruh obat tidur di minuman Abian.
Tapi Abian hanya punya saksi lain yang bisa membuka kelicikan Amel dan Marsel.
Tak lama berselang ponsel Abian berdering. Di layar Abian bisa melihat nama Bastian. Tanpa pikir panjang Abian pergi ke pintu utama apartemen-nya dan benar saja Bastian sudah berdiri di depan pintu utama apartemen-nya.
“Bas, langsung ke ruang kerja aja. Bella lagi tidur kok.“ Jelas Abian.
“Mm, siap bos.“
Abian terduduk di kursi kerjanya.
“Heh kenapa muka lo kusut. Itu gimana Bella keadaannya.“ Bastian membuka topik pembicaraan.
“Baik-baik aja kalo soal Bella, yang gak baik tuh gue. Pusing gue sama Amel.. Apa lo gak bisa retas chat handphone Amel?“
“Duh bian lo kebanyakan nonton film tau. Mana ada yang begitu. Gue bisa cek tuh kalo misalnya ada handphone si Amel atau si Marsel,” celetuk Abian.
“Hah.. Sial, ribet banget sih.“
“Kalo dari Amel susah yah harusnya lo ambil dari Marsel aja. Gini yah kalo mau jadi drama yah.. apa salahnya lo buat jadi drama aja sekalian. Lo jebak Marse gitul.“
“Jebak gimana?“ Abian balik bertanya.
“Kelemahan Marsel apa?“ Bastian malah balik bertanya.
“Marsel, yah gak jauh dari cewek cantik atau seksi sama ************.“
“Ya udah lo tinggal kasih umpan aja,”sahut Bastian mudah.
Kelopak mata Abian membesar. “Bas, memang ada cewek yang mau kayak gitu?“
“Aduh katanya lo playboy.. gimana sih Bian. Ya ada aja cewek gitu, carinya cewek bayaran lah. Lagian Marsel tampangnya ganteng. Pasti banyak cewek yang mau, yang penting uang lo ada.“
Wajah Abian seketika seketika berumah sumringah. Tubuhnya berlonjak dari kursi dan langsung mendekat pada Bastian.
“Gila, gue gak sangka lo jenius. Secepatnya Lo atur deh Bas. Past-in berhasil kalo misalnya berhasil, gue bakal bantuin buat cicilan rumah lo.“
Kini Bastian yang terlihat sumringah dan langsung menjulurkan tangannya untuk melakukan jabat tangan.
“Benar yah Bian, deal.“
“Deal, serius gue. Kalo beneran berhasil sampai dapat buktinya sebelum bulan ini berakhir, gue kasih bonus lo jalan-jalan sama istri dan anak lo ke Bali.“
“Ak! Gila rezeki nomplok. Siap laksanakan deh gue secepatnya buat laksanakan tugas.“
Melihat semangat Bastian itu, Abian menjadi bersemangat. Setidaknya ia punya harapan semakin besar untuk membatalkan pernikahannya dengan Amel dan juga untuk bersatu bersama Bella lagi.
__ADS_1