Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 21


__ADS_3

"Bel— la," ucap Abian lirih.


Suara Abian tercekat, sementara tanganya masih dengan posesif merengkuh pinggang ramping milik Bella seolah Bella itu adalah wanita miliknya seorang.


Kepala Bella menjauh dengan satu tangan mendorong dada bidang milik Abian setelah tautannya terlepas. Napas keduanya masih terengah, dan Bella bersumpah ada rasa pahit, manis dan wangi mint yang menguar dari napas Abian yang membuat dirinya semakin mabuk. Menginginkan kembali pertemuannya dengan 'jelly' dengan rasa adrenalin bak menaiki wahana ekstrim di taman hiburan.


Bella membuka perlahan manik matanya, ia bahkan tidak sadar wajahnya bersemu merah tepat di hadapan Abian.


Tetapi pikirannya mulai kembali memunculkan balas dendam. Bak terkena sihir Bella menunjukkan tatapan berani dan raut wajah yang meremehkan pada Abian.


Bella mengusap bibirnya menggunakan punggung tangannya kemudian mendorong dada Abian, sehingga ia memiliki ruang lebih banyak dan mengurangi hormon endorphin yang mungkin muncul karena sentuhan kulit di antara keduanya.


“Gue hanya mau buktikan ciuman ini enggak bermakna apa-apa nya!“ Tegas Bella.


"Lo bohong," ucap Abian dengan sorot tatapan yang menyoroti manik mata Bella begitu tajam. Terlihat sekali jika Abian tidak menyukai ucapan Bella tersebut.


Tangan Bella mengepal sejenak, Dengan intimidasi dari Abian itu Bella tidak gentar atau merasa terintimidasi. Abian benar-benar keras kepala. Bahkan setelah mereka tidak bertemu sekian lama karakter Abian masih tetap sama seperti waktu mereka masih mengenakan seragam abu-abu.


"Terserah lo mau beranggapan apa." Bella berusaha memalingkan wajahnya. Dan melipat kedua tangannya di atas perutnya. Seakan menantang ucapan Abian.


"Jadi, lo pertimbangkan aja masih mau terima atau enggak itu tawaran yang gue sebagai narasumber." Bella kemudian bangkit dari kursinya.


Dagu Bella terangkat dan tubuhnya menegak. "Permisi pak Damara! Selamat malam," ucap Bella segera pergi melangkah meninggalkan lounge tersebut.


Sementara Abian hanya bisa diam membiarkan Bella pergi dari hadapannya begitu saja.


Langkah Bella terhenti setelah ia sadar sudah berjalan cukup jauh dan sampai di tempat parkiran. Sekujur kaki Bella terasa lemah terutama di bagian sendi-sendi kakinya, ia bahkan harus berpegangan kuat pada pilar yang ada di sana agar tubuhnya tidak terjatuh.


Tindakannya memang gila dengan membalas dan mencium Abian terlebih dahulu.


Bella memejamkan matanya sejenak. "Lo benar-benar cari masalah Bella," ucap Bella pada dirinya sendiri.


Kepalanya memang sedikit pusing tetapi ia sadar apa yang ia lakukan bukan dorongan karena pengaruh alkohol yang ia minum. Itu memang tindakan yang fatal dan sangat berbahaya. Tetapi ia harus melakukannya agar Abian tau batasan dirinya dan yang menjafi misi utamanya untuk balas dendam.


Setelah dirasa cukup kuat untuk berjalan, Bella memasuki mobilnya. Sekarang Bella memilih melajukan mobilnya perlahan menembus malam yang ramai di ibu kota, ia tidak bisa bohong tentang hati kecilnya yang bergetar setelah mencium Abian.


Dan mungkin ia harus menceritakan ini pada sahabatnya. Agaknya Bella butuh pendapat orang lain untuk dapat membantunya menilai tindakannya itu.

__ADS_1


Tanpa sadar hanya dengan pemikirannya Bella mengarahkan laju mobilnya menuju rumah Alisa. Bagaimanapun Alisa itu bagai rumah kedua untuk Bella. Sebagai tempat yang paling nyaman untuk Bella berlindung dan juga untuk Bella menjadi dirinya sendiri.


"Bel, Ada apa lo malam-malam begini nggak biasanya―" Alisa nampak menerawang wajah Bella sejenak yang terlihat kacau. Juga sudut matanya yang memerah. "Sini," ucap Alisa.


Tanpa banyak berkata Alisa langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Tenangin diri lo dulu baru bicara. Hari ini menginap aja di rumah ya. Nanti gue izin sama mama Misya deh.“


Bella menganggukkan kepalanya dan Alisa kemudian mengajaknya untuk masuk ke kamarnya.


Alisa kemudian, mengambil setelan piyama dari dalam lemarinya. "Lebih baik lo mandi dulu, supaya pikiran sama tubuh lo lebih segar." Alisa menaruh piyamanya pada ujung ranjangnya.


"Bel, lo sudah makan," Alisa kembali bertanya.


Kepala Bella menggeleng. "Belum Sa, tapi gue nggak nafsu makan sama sekali."


Alisa menghela napasnya dalam. "Setidaknya minum susu atau makan buah ya." Bujuk Alisa.


"Iya.. nanti aku ambil sendiri aja di dapur, Sa. Nggak usah repot gitu."


"Kalo menyangkut lo itu, gue enggak bisa gak repot Bel. Sekarang lo mandi dulu sana, biar muka Lo lebih fresh juga kepala lo tuh biar bisa berpikir dingin kalo kena air." Alisa kemudian mengambil baju yang ia letakkan di ranjang tadi dan menarik tubuh Bella untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.


Kembali Bella bertanya pada hati kecilnya. (Apa benar gue mampu membalas dendam sama Abian seperti sumpah gue waktu berubah.)


Sekitar dua puluh menit Bella habiskan untuk mandi di bawah guyuran air hangat. Tubuhnya memang terasa ringan, otot-ototnya di seluruh tubuhnya yang semula kaku kini lebih rileks.


"Nih di makan ya Bel, gue udah potongin tuh, kalau enggak di makan sayang nanti kebuang Lo tau 'kan gue nggak terlalu suka buah pisang dan apel," ucap Alisa panjang lebar.


Bella yang masih berdiri di pintu kamar mandi hanya bisa tersenyum. Mendengarkan ocehan Alisa yang cerewet dan sikap perhatian hangat yang selalu menjadi penguatnya.


Meski perhatian dan untuk kebaikan Bella tetapi Alisa selalu menunjukkan sisi perhatian dengan ekspresi yang malah terlihat judes atau kata-kata yang menusuk. Tetapi Bella tau itu hanya sisi lain dari gestur dan mimik wajah Alisa saja.


"Makasih ya Sa," ucap Bella tulus.


"Apaan sih Bel, gak perlu segitunya. Sekarang makan dan istirahat aja."


"Kita makan sambil cerita aja ya, Sa." Bella kemudian Mendudukkan bokongnya di atas kursi meja rias berwarna putih itu, sedangkan Alisa duduk di tepian ranjang dengan tenang dan siap mendengarkan apa yang akan Bella ceritakan.

__ADS_1


Dengan tenang Bella menyuapkan potongan buah yang ukurannya sudah sangat pas untuk di makan sekali suapan.


Hembusan napas Bella terdengar berat. Bola matanya bahkan tidak sanggup menatap mata Alisa dengan berani.


"Jadi tadi gue tadi Abis ketemu Abian lagi, Sa.“ Ungkap Bella.


Pupil mata Alisa langsung membesar, Bella yakin temannya itu benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ia ungkapkan.


"Mau apa ketemu sama dia, Bel." Kening Alisa terlihat berkerut kecil.


"Awalnya untuk urusan kampus, Sa.. Sebagai bahan penelitian gue gitu." Jelas Bella.


Dahi Alisa mengkerut semakin dalam. "Maksudnya? Gue gagal paham deh, Bel!" ucap Alisa berterus terang.


"Aduh, jadi gini.. Lo ingat gak waktu itu lo minta tolong sama Jodhi 'kan cariin orang yang punya usaha digital kreatif.“


Alisa dengan cepat mengangguk. “Iya gue ingat kok, terus kenapa?“ Alisa balik bertanya.


“Aduh Sa, orangnya itu yah Abian.“ Bella menjawab dengan gamblang.


"Terus kenapa lo terima, kita bisa cari narasumber yang lain 'kan gak harus Abian."


Bella kemudian meneguk segelas air mineral yang Alisa siapkan tadi bersama piring berisi potongan buah itu. Tiba-tiba saja tenggorokannya menjadi kering.


"Nggak bisa, Abian juga orang yang di rekomendasikan pak Agus sendiri dan langsung beliau yang hubungin." Bella menggigit ujung bibirnya. Tangannya juga terus memilin ujung piyama Hinga ujungnya terlihat kusut.


"Kok bisa? Kaya kebetulan yang gak masuk nalar deh Bel.. kok kayak di film-film drama sih.“ Protes Alisa.


Bella memejamkan matanya sejenak, helaan nafas terdengar begitu berat keluar dari mulutnya. "Abian itu mantan muridnya waktu beliau mengajar di Singapore." Pada akhirnya Bella mengungkapkan alasan terkuat.


Alisa langsung menutup mulutnya. "Gila, gue nggak menyangka Abian lulus lebih cepat dari kita, Bel. Punya otak juga itu anak," celetuk Alisa.


"Gue juga nggak tau Sa, bingung semuanya terlalu membingungkan buat gue sendiri. Karena semenjak putus dari Abian semenjak itu juga Abian dan gue sama sekali gak ada komunikasi,” ucap Bella.


Bella mengulum bibirnya. "Dan gue udah mikirin ini sejak ketemu Abian sebelum pesta Jodhi.“ Sambung Bella lagi.


"Lo mikir apa, Bel."

__ADS_1


"Gue sepertinya bakal menjalankan rencana balas dendam gue, Sa. Menurut lo gimana?"


__ADS_2