Balas Dendam Tuk Mantan

Balas Dendam Tuk Mantan
Bab 24


__ADS_3

Akhir-akhir ini semua yang Bella rencanakan adanya berjalan cukup lancar, mengenai toko kue yang kerampokan tempo hari juga sudah mulai terselesaikan dan menemukan titik temu.


"Ma, hari ini biar Bella aja yang mengurus kontrak masalah iklan itu," ucap Bella yang kini tengah duduk tenang di ruangan kantor Misya.


"Ah, ia Mama hampir lupa. Untung kamu ingatkan, Nak."


Bella hanya tersenyum tipis, padahal ia bukan hanya mengingatkan tetapi punya tujuan lain.


"Iya Ma, masalahnya kemarin 'kan Bella yang ketemu sama stafnya dan kasih sample video iklannya sama Mama."


Bella sejenak menjeda pembicaraannya, ia sebenarnya sedikit ragu ingin mengatakan ini tetapi hati kecilnya amat penasaran.


"Ma, waktu buat iklan ke Bit Creative ketemu dengan ownernya?"


Bella nampak mengulum bibirnya sejenak, mata bulatnya kini memberi atensi penuh pada Misya yang masih sibuk dengan beberapa kertas di hadapannya.


"Oh, iya Abian 'kan namanya." Misya seperti sedang menyakinkan dirinya atau juga bertanya pada Bella seolah memintanya untuk mengoreksi ucapannya.


"Iya, Abian namanya. Dia itu teman sekolah Bella sewaktu sekolah menengah atas, Ma."


"Wah, bagus dong kalo Abian temen kamu. Mama jadi lebih merasa aman menentukan pilihan Mama."


Dahi Bella mengkerut. "Menentukan pilihan apa," tanya Bella seolah tak paham dengan ucapan mama-nya itu.


"Menentukan pilihan buat pakai jasa perusahaan dia lah Nak, memang apa lagi? Mama juga baru tau Abian teman kamu sekarang karena kamu sendiri yang bilang."


Sebenarnya penjelasan mama-nya memang benar adanya dan masuk diakal, mungkin hanya pikiran Bella yang sedang tidak berkonsentrasi sehingga melantur kemana-mana.


Artinya Abian memang belum menyadari Bella ini adalah mantan pacarnya.


"Bella juga baru tau akhir-akhir ini, Ma." Dalih Bella, padahal ia hanya sedang mengorek info lebih tentang sosok Abian saat berbisnis.


"Abian termasuk orang yang supel dan pembawaan presentasinya cukup bagus jadi Mama bisa sampai kepincut dengan tawarannya, lagipula perusahaannya juga termasuk perusahaan yang punya nama di bidang periklanan."


Bella menggerakan jarinya di atas meja kayu milik Misya, tentu saja sedikit terkejut karena banyak juga hal yang berubah dari sosok Abian.


"Memang sih Ma, Dosenku juga sampai kenal sama Abian katanya mantan muridnya. Aku sampai diminta beliau buat meneliti perusahaan Abian," ucap Bella panjang lebar menjelaskan.


"Bagus deh kalau bahan penelitian kamu perusahaan Abian. Jadi 'kan kalian tidak perlu saling mengenal lagi."


Mendengar ucapan itu Bella hanya bisa tersenyum miris, apa iya, ia sudah benar-benar mengenal Abian dengan baik. Bella bahkan ragu untuk menjawab dengan pasti.


"Oh, iya Nak.. nanti tolong kasih beberapa roti dan kue juga untuk beberapa karyawan di tempat Abian yah. Kadang Abian itu benar-benar teliti sekali saat bekerja. Sampel yang kamu kirimkan sebenarnya sudah ada minggu kemarin tetapi karena Mama komplain masalah gradasi warna dan kontras yang kurang sesuai di mata Mama, Abian langsung mengerjakannya dalam waktu dua hari selesai." Jelas Misya.


"Ya gitu.. persaingan di Jakarta besar, Ma. Harus punya kelebihan untuk menarik konsumen,” sahut Bella.


"Benar, tetapi seharusnya sebagai owner tidak perlu turun tangan langsung, bisa saja meminta anak buahnya yang kerja."


Setelah mendengar penjelasan itu Bella jadi semakin penasaran, apa Abian yang dulunya tukang tawuran dan playboy itu sebenarnya mempunyai otak yang cerdas dan juga seorang yang pekerja keras.


Misya kemudian melihat jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangan kanannya. "Lebih baik kamu berangkat sekarang." Misya mencoba mengingatkan putrinya yang masih terpaku diam.


Kepala Bella mengangguk. "Iya, Ma. Bella berangkat.“ Pamit Bella, tidak lupa memberikan salamnya.


Kaki Bella melangkah keluar dari ruangan Misya menuju bagian toko terlebih dahulu.


"Mbak, titipan mama sudah disiapin," tanya Bella pada salah satu pelayan yang sedang berjaga di luar konter.


"Tunggu sebentar yah, Mbak. Saya tanyakan dulu." Pelayan perempuan itu kemudian berjalan menghampiri temannya yang bertugas di dalam konter.


Tak lama pelayan perempuan itu kembali lagi menghampiri Bella. "Sebentar Mbak katanya lagi di bungkus," jawabnya sopan


Bella kemudian menyipitkan pandangannya untuk melihat nama yang tersemat pada pin di atas dada pelayan itu.


"Oke, terima kasih yah. Vina." Wajah Bella tersenyum manis.

__ADS_1


"Sama- sama Mbak." Wajah Vina terlihat senang.


Bella menyandarkan tubuhnya pada dekat etalase kue. "Gak masalah 'kan aku tunggu di sini sambil bicara sama kamu, Vina?“


Vina lantas mengangguk. "Iya gak masalah kok Mbak."


Bella lagi-lagi menunjukan senyumnya. "Tenang saja aku enggak akan evaluasi atau tanya masalah pekerjaan jadi gak perlu tegang. Kita bicara seperti teman aja."


"Tapi Mbak―"


Bella menyela ucapan Vina. "Aku rasa umur kita tidak jauh berbeda. Kamu kuliah?"


Vina lantas mengangguk. " Iya, Mbak aku ambil kelas malam."


"Sepengetahuanku kelas malam bukannya cukup mahal uang semesternya. Apa kamu mau minta jadwal kerjamu diubah." Tawar Bella.


Vina menunjukan wajah antusiasnya. "Memang bisa minta seperti itu Mbak?"


Bella lantas mengangguk. "Aku, sudah buat kebijakannya mungkin bulan depan akan dibuat efektif. Karena aku lihat beberapa karyawan di sini memang kebetulan banyak yang berstatus mahasiswa." Jelas Bella.


"Terima kasih, Mbak." Wajah Vina terlihat gembira mengungkapkan rasa syukurnya.


Bibir Bella memulas senyumnya. "Sama-sama. Nanti kamu bilang saja sama pak Gilang,” ucap Bella.


Tidak lama kemudian, datang seorang karyawan yang ada di dalam kantor keluar dengan membawa bungkusan besar pada kedua tangannya. Dan meletakan di meja marmer tempat untuk mengambil pesanan kue.


"Ini semuanya," tanya Bella sedikit terkejut. Karena bungkusan yang cukup besar itu.


"Iya Mbak," jawab karyawan itu singkat.


Bella hanya bisa menggelengkan kepalanya, sebab mamanya jika memberi memang tidak pernah tanggung-tanggung. Bella rasa itu yang ada di dalam kedua bungkusan besar itu adalah varian dari semua roti dan kue-kue yang dijual di toko.


"Saya, bantu bawa ke mobil Mbak." Tawar Vina


"Kamu bawa yang satu itu saja." Bella kemudian membawa salah satu bungkusan besar itu dengan kedua tangannya.


"Makasih, Vina."


Dan Mobil Bella mulai melaju menuju kantor Abian.


Sesampainya Bella di kantor Abian yang berada pada kawasan Sudirman itu, Bella disambut oleh satpam yang membantunya membawakan dua bungkusan besar itu.


"Makasih yah Pak," ucap Bella melangkahkan kakinya pada meja resepsionis.


"Permisi Mbak Angel, saya mau bertemu dengan pak Abian."


"Apa sudah membuat janji," tanya Angel.


Bella lantas menganggukan kepalanya. "Sudah."


"Mohon ditunggu sebentar, saya cek dulu."


Bella lantas duduk di kursi tunggu yang telah disediakan begitu ias selesai di tanya namanya dan keperluannya untuk bertemu Abian.


"Mbak, ini bungkusannya mau dibawa kemana," tanya sang satpam.


"Mau dibawa ke ruangan pak Abian,” jawab Bella.


Satpam itu mengangguk dan menekan tombol lift dengan panah menurun.


"Mbak Bella silahkan naik ke lantai enam, ruangan pak Abian ada disebelah kiri setelah lift," ucap Angel ramah.


"Terima kasih, Angel." Bella membalas dengan ramah.


Bella melangkahkan kakinya bersama satpam yang membantunya membawa dua bungkusan super besar dan cukup berat itu. Beruntung tadi di depan ada dua satpam lain yang berjaga menggantikan.

__ADS_1


"Pak Beni maaf yah jadi ganggu kerjaan Bapak," ucap Bella merasa tak enak.


Pak Beni lantas tersenyum. "Tidak masalah Mbak ini memang tugas saya lagi pula kasihan Mbak bawa bungkusan besar ini sendirian, mana pakai hak tinggi juga."


Tentu saja Bella bisa tau namanya dari kebiasaannya untuk membaca tulisan nama yang ada di seragam kerja mereka. Selain sudah menjadi kebiasaan itu juga cara Bella menghargai para pekerja dengan memanggil namanya.


Bella tersenyum. "Ini isinya makanan, bapak dan karyawan lain bisa cicipin ini nanti."


"Wah, makasih yah Mbak. Sudah cantik baik lagi."


Mendengar hal itu Bella hanya bisa tersenyum simpul. "Ah, bapak bisa aja." Bella bercanda menanggapi.


Selagi memimpin jalan pak Beni juga membantu Bella membukakan pintu untuknya.


"Terima kasih pak Beni, sebaiknya bingkisannya yang satunya bapak bawa ke pantry saja." Itu suara Abian yang menyambut Bella di dalam ruangannya.


Pak Beni kemudian menjalankan apa yang diperintahkan oleh Abian dengan segera.


"Jadi lo mau data apa, untuk bahan penelitian." Saat Bella sudah mendudukan dirinya di sofa hitam milik Abian.


"Gue juga mau tanda tangan kontrak."


Dahi Abian mengkerut. "Kontrak apa?"


"Misya Kitchen," ucap Bella Singkat.


Seketika Abian ingat jika hari ini ia memang memiliki janji itu tetapi ia sama sekali tidak menyangka jika Bella yang ada di hadapannya adalah Bella anak dari bu Misya patner kerjanya.


Abian menekan sudut bibirnya, hingga tercipta senyum tipis yang terlihat samar. "Kenapa dunia sempit. Gue ketemu lo terus-terusan."


"Nggak tau tuh, sekarang mana kontrak yang harus ditandatangani. Mau di baca dulu,” sahut Bella.


Tanpa menunggu lama Abian langsung membawa kontrak yang Bella mau ke hadapannya.


"Oh, iya lo mau minum apa Bel," tanya Abian yang sedang menempelkan gagang telepon pada telingannya.


"Apa aja yang penting jangan soda."


Setelah menjawab hal itu Abian terdengar sedang bercakap di telepon sementara Bella sedang membalikkan lembaran kertas dengan perlahan selagi membaca poin penting pada isi kontrak tersebut.


"Gue sudah paham, poin-poin yang dicantumkan juga cukup jelas. Di mana pulpennya." Pinta Bella


Kemudian Abian memberikan pulpen yang Bella minta.


"Itu nama panjang lo," tanya Abian setelah menerima dan memeriksa berkas kontrak itu.


"Kenapa." Bella malah balik bertanya.


Sejenak Abian nampak terdiam. "Gak apa-apa. Ayo bicarakan apa informasi yang lo butuhkan dua jam ke depan gue harus menemui klien lain."


Abian lantas mendekat duduk di sebelah Bella, namun entah karena gerakan spontannya atau bentuk perlindungan diri, Bella sedikit menggeser tubuhnya hingga berada di pojok dekat sanggahan sofa.


“Nggak perlu gugup, gue nggak akan gigit lo," ucap Abian seakan sadar pergerakan Bella.


Sementara Bella berusaha bersikap tenang dan mengatur ekspresi wajahnya.


"Lo memang nggak gigit tapi lo suka sembarangan menyosor."


Abiah lantas mendengus, suara tawanya sudah terdengar menghampiri pendengaran Bella. "Memang gue bebek,” celetuk Abian.


Bella menyipitkan matanya dan menatap Abian menyalak. "Memang apa lagi yang suka matuk sembarangan. Lagi pula lo cerewet, jadi persis sama bebek."


Dan Abian hanya terkekeh menanggapi kekesalan Bella, keduanya kemudian nampak kembali serius membahas hal-hal penting tentang tugas akhir Bella,


Kini Bella mengerti Abian memang banyak berubah tetapi Bella bisa merasakannya jika sisi lain yang Abian selalu sembunyikan selalu nampak mudah terlihat di mata Bella. Sorot mata, tatapan hangat itu tidak pernah berubah di mata Bella saat mata mereka saling mengunci satu sama lain.

__ADS_1


Apa itu benar hanya untuk Bella atau hal itu Abian tunjukkan juga pada wanita lain.


__ADS_2