
Vina tersenyum dengan sangat lembut saat melihat wajah putri kecilnya, meski Luis sama sekali tidak pernah memberikan perhatian kepada anaknya tapi Vina tidak akan pantang menyerah, ia akan tetap berusaha untuk membuat Luis membuka hatinya untuk dirinya dan putri kecilnya.
"Anggun," ucap Vina saat melihat putrinya yang tengah tertidur pulas.
Nama itu ia berikan karena Vina yakin putrinya akan tumbuh menjadi wanita kelas atas yang sangat di hormati dan disegani oleh orang-orang, terutama dengan latar belakangnya yang merupakan anak dari Luis.
"Vina," panggil Maria yang berjalan mendekati menantunya.
"Iya Ma, ada apa?" tanya Vina yang masih mengendong bayi nya.
"Apa Anggun sudah mandi?" tanya Maria yang tersenyum saat melihat cucu perempuannya.
"Sudah," jawab Vina.
"Lalu dimana Luis, jangan bilang ia tidak bertanggung jawab atas perannya sebagai seorang ayah," ucap Maria yang menebak jika anaknya telah mengabaikan tanggung jawab nya lagi.
Vina hanya tersenyum tipis tapi ia enggan untuk menjawab, Maria hanya bisa menggelengkan kepalanya ia tidak tega melihat Vina yang tidak di anggap oleh Luis.
"Kamu yang sabar yah, Mama yakin jika suatu saat nanti Luis pasti akan membuka hatinya untuk mu dan Anggun," ucap Maria yang berusaha menghibur Vina.
"Iya Ma," jawab Vina dengan senyuman tipis.
Di saat keduanya tengah berbincang, Luis datang dengan wajah yang kusut. Selama seharian ia harus mengurus banyak pekerjaan yang membuatnya tidak bisa beristirahat sejenak, "Luis.." Panggil Maria yang melihat kedatangan putranya.
Luis langsung menatap malas, ia yakin jika ibunya pasti akan memakinya. "Ada apa?"
"Darimana saja kau?" tanya Maria yang berjalan mendekat ke arah Luis.
"Aku dari kantor," jawab Luis.
"Kantor? Apa urusan perusahaan itu lebih penting daripada anak dan istri mu?" tanya Maria.
Mendengar hal itu Luis semakin kesal, ia yang sudah lelah dan ingin segera istirahat semakin di buat kesal dengan ocehan Ibunya.
__ADS_1
"Aku baru pulang dan ingin segera beristirahat, sebaiknya Mama jangan membuat masalah," ucap Luis.
"Luis beraninya kamu melawan," ucap Maria.
Luis yang sudah sangat lelah pun hanya bisa melenggang pergi begitu saja tanpa memperdulikan teriakan dan makian dari ibunya.
"Sudahlah Ma, gak papa kok. Lagi pula Mas Luis memang baru pulang kerja, dia pasti sangat lelah." Vina berusaha menenangkan Maria agar tidak terus memaki Luis habis-habisan.
"Baiklah, kali ini Mama maklumi anak itu tapi lain kali tidak akan," ucap Maria yang terus membela Vina.
Kini Vina berjalan mendekati kamar Luis untuk mengantarkan makanan, di saat wanita itu mengetuk pintu. Luis langsung membuka dengan tatapan yang biasa tanpa tersenyum sedikit pun, "Ini aku bawakan makanan," ucap Vina dengan senyuman di wajahnya.
"Aku tidak meminta mu untuk membawakan makanan untuk ku," ucap Luis yang menolak makanan Vina secara terang-terangan.
"Maaf, aku hanya takut jika kau belum makan," jawab Vina.
"Aku sudah makan dengan sekertaris ku," jawab Luis yang langsung menutup pintu begitu saja.
"Apa dia selingkuh dengan wanita j*Lang itu?" Pikir Vina dengan tatapan mata yang marah.
Ia langsung membalikkan tubuhnya dan segera pergi, Vina kini sadar jika ia telah lalai dalam menjaga suaminya.
Maria yang melihat Vina berjalan dengan tatapan mata yang marah, mulai mendekati wanita itu.
"Ada apa nak? Kau seperti sedang marah?" tanya Maria kepada menantunya.
"Luis, ia menolak makanan dari ku dan rupanya ia sudah makan bersama dengan sekertaris nya," jawab Vina yang tidak bisa membendung air matanya.
Maria yang mendengar perkataan Vina pun ikut marah dan kecewa dengan sikap Luis yang seperti itu, "Ayo kita beri pelajaran kepada wanita murahan itu, beraninya dia menggoda Luis," ucap Maria.
"Tidak Ma, aku tidak ingin Mas Luis marah jika ia mengetahui jika kita mendatangi sekertaris nya. Mungkin aku terlalu posesif karena tidak bisa membedakan antara sikap profesional dan yang tidak," ucap Vina.
"Tidak sayang, semua wanita pasti akan cemburu jika suaminya lebih perhatian kepada wanita lain. Jadi sikap wajar dan yang tidak wajar itu sikap Luis yang malah mengabaikan mu dan anak mu," ucap Maria kembali berusaha menghibur menantunya.
__ADS_1
Vina tersenyum saat mendapatkan dukungan dari mertuanya, kini Vina dan Maria berada di dalam mobil yang tengah melaju ke rumah sekertaris Luis.
Maria dengan langkah anggun segera mengetuk pintu rumah yang ada di depannya, tanpa menunggu lama pintu rumah pun langsung di buka.
Sella terdiam saat melihat kedatangan ibu dari bosnya yang tiba-tiba berkunjung ke rumahnya.
"Nyonya Maria.. Bu Vina," sapa Sella dengan tatapan sedikit bingung.
Maria langsung masuk begitu saja, ia melihat ke sekeliling tempat tinggal Sella. "Nyonya dan Bu Vina ada keperluan apa yah datang ke rumah saya?" tanya Sella dengan nada sopan.
"Aku akan langsung to the points, apa yang sedang kau rencanakan kepada anak ku?" tanya Maria.
Sella mengerutkan keningnya, ia tidak paham dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Maria.
"Maaf, maksud anda apa yah? Saya kurang mengerti," jawab Sella.
"Kau tahu jika anak ku sudah memiliki seorang istri dan juga anak, tapi kau tanpa rasa malu malah menggoda putra ku dan membuatnya mengabaikan keberadaan Vina dan juga cucu ku," ucap Maria.
Sella dengan tegas langsung membantah tuduhan yang di berikan oleh Maria, "Saya sama sekali tidak pernah menggoda Pak Luis, yang kami lakukan hanyalah sebatas atasan dan bawahan. Saya bekerja sebagai sekertaris nya yang membuat saya harus mengatur jadwal Pak Luis selama ini, dan semua itu hanyalah sebatas pekerjaan tidak lebih," ucap Sella.
Maria yang mendengar jawaban dari Sella merasa kurang puas, tapi Vina kembali menenangkan Maria.
"Sudahlah Ma, kita hanya salah paham. Lagi pula mana mungkin Mas Luis selingkuh, ia hanya bekerja secara profesional saja," ucap Vina.
Maria pun hanya bisa menghela nafas berusaha untuk menenangkan dirinya, ia langsung bergegas pergi bersama dengan Vina meninggalkan kediaman Sella.
Di dalam mobil Maria terus saja mengoceh, ia masih kesal karena tidak bisa memaki wanita itu lebih parah lagi.
Vina kembali menenangkan ibu mertuanya agar tidak kembali marah, "Sudahlah Ma," ucap Vina.
"Sayang, kamu itu terlalu baik. Jika kau lebih tegas sedikit mungkin orang seperti wanita itu akan lebih takut kepada mu, tapi kau sangat berhati lembut," ucap Maria dengan wajah yang sendu.
Vina hanya tersenyum tipis saat mendengar pujian dari ibu mertuanya.
__ADS_1