Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 17


__ADS_3

Vira tengah membereskan semua barang-barang miliknya, ia memilih kembali lagi ke Jakarta bersama dengan kedua orang tuanya. Meski begitu masih ada keraguan di hati Vira, ia takut jika bertemu lagi dengan Vina dan wanita itu malah kembali menekannya seperti dulu.


"Vira, kamu kenapa?" tanya Sinta.


"Aku masih memikirkan tentang Vina, bagaimana jika dia tahu kalau kita semua membohongi nya? Apa penyakitnya tidak akan langsung kambuh lagi?" tanya Vira.


"Kau tenang saja, Vina pasti tidak akan tahu." Jawab Sinta.


Kini semua barang-barang milik Vira sudah di kemas rapi, tak lupa ia juga menghubungi Satria dan mengatakan jika dirinya pindah rumah tapi meski begitu kerja sama mereka tetap akan berjalan seperti biasa.


Dan karyawan yang bekerja di tempat Vira pun memilih untuk ikut bersama dengan Vira ke Jakarta karena di Jakarta Vira juga sudah menyediakan tempat untuk mereka tinggal.


Di sepanjang jalan Vira hanya duduk terdiam dengan mata yang menatap ke luar kaca mobil, semester Rafael tengah di gendong oleh Sinta.


Kini Vira berada di sebuah apartemen yang sengaja orang tuanya beli untuknya, "Ayah, bukan kah kalian bilang hanya sebuah rumah lama tapi kenapa malah memberikan ku sebuah apartemen?" tanya Vira.


"Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk putri mereka dah ayah ingin berusaha memberikan yang terbaik untukmu, dan rumah lama itu bisa kau jadikan kantor tempat usahamu, sekaligus rumah untuk karyawan mu tinggal untuk sementara waktu." Ucap Wisnu.


"Terimakasih," ucap Vira senang.


Vira di bantu oleh Sinta langsung membereskan apartemen miliknya, tapi Sinta menyarankan jika Rafael tinggal bersamanya saja karena pastinya Vira akan sibuk mengurus usahanya.


"Tapi aku tidak ingin merepotkan mu, Ma." Ucap Vira.


"Jika merepotkan, untuk apa Mama menawarkan diri untuk menjaga dan mengurus Rafael," ucap Sinta.


"Baiklah, terimakasih Ma. Tapi bagaimana jika Vina tahu?" tanya Vira.


"Tenang saja, ia tidak akan tahu kok karena Vina sudah tidak pernah datang lagi ke rumah Mama setelah masalah waktu itu," ucap Sinta.

__ADS_1


"Masalah waktu itu? Masalah apa?" tanya Vira penasaran karena ia belum mengetahui permasalahan antara kedua orang tuanya dengan Vina.


"Iya masalah karena Vina mengandung anak orang lain, ayah dan Mama ingin tahu siapa pria yang menghamili Vina dan kami juga menasehati Vina karena bisa saja Luis suatu saat nanti akan menyadari jika anak itu bukanlah darah dagingnya. Tapi Vina malah melawan dan memaki kami, saat itu juga ayahmu menamparnya yang membuat Vina marah besar." Jelas Sinta.


Vira terdiam saat mendengar perkataan dari Ibunya, lalu ia kembali melanjutkan membereskan beberapa barang-barang miliknya.


Setelah selesai Vira langsung memompa ASI miliknya untuk di bawa ke rumah Sinta untuk persediaan Rafael nanti, dan untungnya Rafael tidak rewel saat di jaga oleh Sinta.


Selama beberapa minggu di Jakarta, Vira melakukan aktivitas seperti biasa. Ia hanya keluar rumah untuk pergi ke pabrik miliknya, setelah itu ia langsung pulang.


Vira masih takut untuk bertemu dengan Vina karena wanita itu pasti akan marah besar saat melihat dirinya berada di Jakarta, terlebih Vira juga takut jika Vina sampai mengetahui tentang keberadaan Rafael yang merupakan anak dari suaminya.


Di saat Vira tengah berada di mal untuk membeli keperluan Rafael, dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria berjas. Pria itu mengerutkan keningnya saat melihat Vira, tapi Vira hanya tersenyum dan meminta maaf.


"Nyonya, sedang apa anda di sini?" tanya pria itu saat melihat Vira.


Vira terdiam mendengar perkataan dari sosok pria asing di depannya, kini Vira menyadari jika pria itu pasti bawahannya Vina yang menyangka jika dirinya adalah Vina.


"Tapi bukankah sekarang anda akan makan siang dengan Pak Luis?" tanya pria itu.


"Ah iya, nanti. Sekarang aku masih ada urusan, aku pergi dulu."


Vira langsung buru-buru pergi menjauh dari pria itu, jantungnya berdetak dengan kencang ia takut jika Vina sampai mengetahui jika dirinya sedang berada di Jakarta.


"Apa dunia sesempit ini sampai aku harus bertemu dengan bawahannya Vina?" Ucap Vira sedikit kesal karena acara belanja nya harus terganggu oleh pria itu.


Lalu Vira melihat sebuah toko yang menjual kacamata, Vira tanpa pikir panjang langsung membeli sebuah kacamata berwarna hitam dan ia juga menggunakan sebuah masker untuk menutupi wajahnya.


Kini Vira kembali lagi berbelanja untuk kebutuhannya dan juga Rafael, ia membeli beberapa pakaian bayi yang cocok untuk putranya.

__ADS_1


Vira merasa sangat bahagia bisa berbelanja di mall dengan bebas karena selama ini ia tidak pernah berbelanja di mall, semua pakaian dan mainannya harus bekas Vina. Meski begitu kedua orang tuanya tetap sering membelikan banyak pakaian baru untuknya.


"Setidaknya hidup ku bebas sekarang," ucap Vira pelan.


Vira terus membeli pakaian bayi yang lucu-lucu karena selama di Bandung ia tidak menemukan pakaian bayi yang lucu-lucu dan bagus-bagus seperti di Jakarta, hal itu karena Vira tinggal di pedesaan yang tidak ada mall sama sekali.


Di saat Vira tengah memilih baju ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang pria, saat Vira melihat ke arah wajah pria itu.


Matanya seketika membuka sempurna saat menyadari jika pria itu adalah Luis.


"Maaf," ucap Vira yang langsung menundukkan wajahnya dan membenarkan kacamata hitam miliknya.


Ia langsung bergegas pergi karena Vira tidak ingin di kenali sebagai Vina oleh Luis, pria itu menatap aneh wanita yang menabraknya barusan.


Vira langsung berjalan ke kasir untuk membayar semua belanjaan miliknya, setelah itu ia langsung berjalan keluar dari mall.


Saat masuk ke dalam mobil, Vira hanya bisa terdiam dengan perasaan yang takut dan jantung yang terus berdetak dengan kencang ia takut jika Luis mengenalinya dan Vina akan tahu jika dirinya ada di Jakarta.


Kini Vira langsung tancap gas untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya, sesampainya di sana Vira langsung turun dan memanggil para pelayan untuk membawakan barang belanjaan miliknya.


"Rafael sayang," ucap Vira senang saat melihat wajah putra kecilnya.


Vira langsung menggendong Rafael dan menciumi pipi putranya, "Apa Rafael rewel?" tanya Vira kepada Sinta.


"Tidak sayang, Rafael anak yang baik bahkan dia tidak menangis dan sangat tenang," ucap Sinta.


"Syukurlah, maaf yah Ma. Aku malah merepotkan mu," ucap Vira.


"Gak papa sayang, lagi pula Mama sangat kesepian di sini dan mengurus seorang bayi membuat Mama lebih bahagia," ucap Sinta.

__ADS_1


Vira yang mendengar hal itu tersebut senang, setidaknya ada orang yang mau mengurus Rafael di saat dirinya sedang mengurus pekerjaan.


__ADS_2