Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 13


__ADS_3

Bu Tini yang baru pulang dari rumah Vira pun langsung mendatangi warung Bu Kokom yang terdapat banyak ibu-ibu tengah bercengkrama.


"Bu Tini darimana?" tanya Bi kokom penasaran.


"Saya habis dari rumah si Vira yang hamil di luar nikah itu," jawab Bu Tini kesal.


"Wanita itu jadi di usir?" tanya Bu Lina.


"Iya haruslah, dia itu wanita murahan dan bahkan mengandung anak haram yang lahir tanpa seorang ayah. Jika kita tetap membiarkannya tinggal di sini kita semua akan kena dosa dari hasil zina si Vira," ucap Bu Tini yang kembali mengatakan kebencian kepada Vira.


"Iya yah, kita harus usir wanita itu." ucap Bu Lina.


"Ada apa ini, kayaknya lagi pada ngomongin suatu hal yang rame?" tanya Bu Maryam.


"Ini loh Bu, kita lagi ngomongin si Vira wanita yang hamil tanpa suami. Dan sekarang kita lagi nuntut ketua RT sama RW buat ngusir wanita itu dari kampung ini karena jika tidak kita semua akan terkena dosa. Terlebih lagi dia ngelahirin anak haram yang pastinya akan membawa sial bagi semua orang yang ada di kampung ini," ucap Bu Tini menjelaskan.


"Apa itu tidak berlebihan? Lagi pula bisa saja dia hamil dan tidak memiliki suami itu karena ada alasan yang lain," ucap Bu Maryam.

__ADS_1


"Alasan lain apa, Bu? Semua orang tahu jika wanita hamil, ya pasti dia sudah melakukan hubungan tanpa ikatan pernikahan." ucap Bu Tini.


"Maksud saya bisa saja dia hamil karena di perkosa atau di paksa dan bukan karena keinginannya, jadi kita jangan dulu nuduh seperti itu karena jika tidak benar itu malah jadi fitnah," ucap Bu Maryam mengingatkan.


Mendengar hal itu ibu-ibu yang tengah berkumpul pun langsung diam dan begitu juga dengan Bu Tini, ia segera melenggang pergi begitu saja.


Vira kini tengah menahan kesal dan sedih di hatinya, ia tidak terima dengan perkataan dari Tini yang menyebut jika anaknya adalah anak haram yang akan jadi pembawa sial untuk warga desa.


Tangisan Vira mulai terdengar, ia memang wanita yang tidak memiliki suami tapi kenapa orang-orang harus mengintimidasinya secara berlebihan seperti itu. Memangnya siapa yang mau memiliki anak tanpa seorang suami, Lia dan Nila yang melihat bos mereka tengah menangis pun hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat banyak.


Sudah 3 hari berlalu...


"Saya dan para ibu-ibu yang lain ingin jika si Vira ini di usir dari kampung kita," ucap Bu Tini dengan suara lantang yang di ikuti oleh sorak-sorai dari para ibu-ibu yang lain.


"Tidak, saya tidak akan pergi. Ini rumah saya dan saya membeli rumah beserta tanah itu menggunakan uang yang saya punya," ucap Vira yang keberatan dengan permintaan Bu Tini.


"Kau harus pergi, wanita penuh dosa seperti mu tidak layak berada di kampung ini. Yang ada kita malah ikutan kena dosa bahkan bisa kena azab," ucap Bu Tini dengan nada menghina.

__ADS_1


"Jaga mulutmu yah, jika memberikan alasan itu yang logis dan masuk akal, mau dosa ataupun azab itu semua bukan kau yang menentukan. Jika pun kampung ini kena azab itu bukan karena ku tapi karena mu dan mulut yang tidak di jaga mu itu, yang bisanya hanya menyakiti hati orang tanpa memikirkan perasaan orang lain," ucap Vira yang kesal.


"Sudah-sudah, ini kenapa malah jadi ribut. Sekarang saya harap semuanya tenang dan jangan ribut, kita akan mulai musyawarah nya agar semua mendapatkan keadilan masing-masing."


Kini musyawarah pun di mulai dan untuk kesekian kalinya Bu Tini tetap kekeh dengan keputusan untuk mengusir Vira dari kampung nya tapi Vira pun sama ia tetap mempertahankan agar tinggal di kampung itu karena dirinya sudah membeli rumah dan tanah.


"Baiklah, saya akan pergi dari kampung ini." Ucap Vira yang langsung membuat Bu Tini tersenyum senang. "Tapi dengan satu syarat, saya ingin Bu Tini membeli rumah saya senilai 600 juta rupiah sesuai dengan harga awalnya, dan tenang saja rumah itu baru saja saya perbaiki."


Mendengar hal itu Bu Tini langsung kaget, "Tidak bisa, apa-apaan ini kau tinggal pergi saja kenapa harus meminta ku untuk membeli rumah mu." ucap Bu Tini.


"Iya, tapi saya juga tidak mau rugi terlebih saya sudah membeli tanah dan rumah dengan harga yang mahal, dan jika saya tinggalkan begitu saja. Itu akan menyebabkan saya mengalami kerugian secara finansial dan Pak RT serta Pak RW, bagaimana tanggapan kalian? Saya bersedia pergi jika salah satu dari kalian yang takut terkena Azab oleh saya dan anak saya untuk membeli rumah serta tanah saya dengan harga awalnya," ucap Vira yang membuat para warga langsung terdiam.


"Kenapa diam? Bukankah kalian yang paling banyak berkoar, tapi kenapa ketika aku membahas uang kalian semua malah diam. Dan harusnya kalian berpikir jika ingin mengusir ku, kalian juga harus memikirkan aset dan harta yang ku miliki di tempat ini. Jangan hanya memikirkan ego dan pemikiran kalian yang tidak masuk akal itu," ucap Vira.


"Aku memang tidak memiliki suami dan sudah memiliki seorang anak, tapi apa kalian semua pernah bertanya kenapa aku bisa sampai punya anak tapi belum menikah?" tanya Vira dengan mata yang berkaca-kaca. "Bahkan tanpa bertanya sedikit pun kalian langsung menyimpulkan jika aku adalah murahan bahkan menyebut ku sebagai wanita penghibur? Dan semua tuduhan itu tidak benar, apa kalian pikir aku tidak sakit hati?"


"Sudah Bu Vira," Pak RT langsung menenangkan Vira tapi Vira dengan tegas menolak bujukan Pak RT.

__ADS_1


"Stop.. Jangan suruh saya berhenti, kalian semua mendiskriminasi saya tanpa alasan yang jelas. Harusnya sebelum itu kalian tanya kepada saya, kenapa saya menjadi seperti ini. Bukan malah langsung menyebarkan rumor yang buruk tentang saya, dan anda juga sebagai ketua RT. Anda harusnya bisa menengahi setiap permasalahan dan berusaha untuk mencari jalan keluar, tapi apa yang anda lakukan? Pas 3 hari yang lalu, anda tiba-tiba datang ke rumah saya dan langsung ingin mengusir saya tanpa melakukan musyawarah dengan saya. Oke, saya paham. Saya memang orang baru di sini, tapi saya juga termasuk warga di sini. Saya selalu melakukan kewajiban saya sebagai warga tapi kenapa saya tidak mendapatkan hak yang sama seperti warga lain?" tanya Vira yang sudah terlanjur emosi.


Semua orang yang ada di balai desa pun langsung terdiam dengan raut wajah dan ekspresi yang berbeda-beda.


__ADS_2