
Vira terisak saat melihat tanah mulai menutupi liang lahat kedua orang tuanya, rasa sedih melihat kepergian kedua orangtuanya membuat Vira tidak bisa berpikir dengan jernih.
Luis hanya bisa melihat dari kejauhan, bagaimana Vira menangis dan berusaha untuk tetap tegar. Ada beberapa pelayan rumah keluarga Wisnu yang berusaha menenangkan Vira, begitu juga dengan Satria. Pria itu dengan setia berada di samping Vira yang membuat Luis merasa kurang senang saat melihat hal itu.
Vira yang sudah sangat sedih pun tak kuasa menahan rasa shock di hatinya, hingga tiba-tiba Vira terjatuh pingsan. Satria langsung membantu Vira dengan menggendongnya dan membawanya ke dalam rumah keluarga Wisnu.
Tapi sesampainya di depan pintu rumah, Luis langsung menghadang Satria.
"Maaf, saya ingin membawa Nona Vira untuk beristirahat." Ucap Satria.
"Biar saya saja yang bawa," ucap Luis.
"Tapi.." Sebelum Satria meneruskan perkataannya, Luis langsung memotong.
"Saya adik iparnya dan juga keluarganya, jadi biar saya saja yang bawa." Ucap Luis, lalu Satria dengan berat hati langsung memberikan Vira kepada Luis.
Luis langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi menjauhi Satria dengan menggendong tubuh Vira yang kini sudah tidak sadarkan diri.
Luis membawa Vira ke sebuah kamar tamu, ia mulai meletakkan tubuh wanita cantik itu di atas ranjang. Luis melihat dari atas sampai bawah penampilan Vira yang sangat mirip dengan Vina tapi entah kenapa penampilan itu seperti sangat familiar untuk Luis.
Luis merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan lagi saat melihat tubuh Vira yang tengah berbaring.
Lalu Luis duduk di samping Vira, matanya masih melihat wajah Vira yang terkesan sangat cantik baginya. Entah kenapa Vira dan Vina memiliki wajah yang sama tapi mereka terlihat sangat jauh berbeda.
__ADS_1
Tangan Luis membelai pipi Vira, mungkin terlihat tidak sopan membelai seorang wanita di saat wanita itu tengah tidak sadarkan diri.
Luis mulai menatap ke arah bibir Vira yang sangat sensual, perlahan tangan Luis membelai lembut bibir wanita yang tengah tak sadarkan diri itu. Tiba-tiba hasrat di tubuhnya mulai bergejolak, dorongan seakan datang membuat Luis ingin mencium bibir wanita di hadapannya.
Tapi sebelum bibirnya menyatu dengan bibir Vira, suara ketukan langsung membuat Luis tersadar dari tindakannya yang salah itu.
"Masuk!" Ucap Luis.
Lalu seorang pelayan tua datang dengan membawa sebuah kotak berisikan obat-obatan.
"Tuan Luis, anda di sini bersama dengan Nona Vira?" tanya Pelayan dari keluarga Wisnu.
"Iya, kau mengenal wanita ini?" tanya Luis.
Sementara Luis berdiri dengan punggung yang bersandar di tembok, mata Luis terus melihat pelayan yang tengah mengoleskan minyak kayu putih pada tubuh Vira.
"Apa kau tahu, kenapa Vira tidak di kenalkan pada semua orang?" tanya Luis kepada pelayan tua di hadapannya.
Wanita tua itu hanya diam, lalu ia mulai membuka mulutnya. "Mungkin ini rahasia keluarga Pak Wisnu dan saya tidak bisa menceritakan nya kepada anda." Jawabnya yang masih memegang teguh janjinya kepada mendiang Wisnu dan juga Sinta.
"Ceritakan lah, lagi pula aku juga bagian dari keluarga ini. Dan aku berjanji akan membocorkannya kepada orang lain," jawab Luis.
"Mungkin jika saya mengatakannya, anda pasti akan sakit hati dan tidak terima." Jawab pelayan itu dengan ragu-ragu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Luis yang semakin penasaran.
"Karena ini bukan cerita yang baik tentang istri anda, dan mungkin anda akan tersinggung jika mendengar nya." Ucap pelayan itu.
Mendengar hal itu Luis terdiam, tapi ia dengan tegas menyuruh pelayan tua untuk menceritakan semuanya dan dia berjanji tidak akan pernah tersinggung meski menyangkut Vina.
"Nona Vina itu gadis yang sangat manis sejak kecil sama dengan Nona Vira, mereka berdua sangat mirip bahkan orang-orang rumah kadang suka tidak bisa membedakannya. Tapi Nona Vina mendadak memiliki penyakit jantung yang membuatnya harus sering bulak-balik ke rumah sakit..."
"Nona Vira sebagai Kakak sangatlah mencemaskan keadaan Vina, dan semenjak hal itu Bu Sinta dan Pak Wisnu mulai memperhatikan Nona Vina. Dan setelah itu semua keinginan Nona Vina selalu di turuti, dan ia pun mulai tidak suka jika kedua orang tuanya kembali memperhatikan Nona Vira. Bahkan Nona Vina sering masuk rumah sakit hanya karena melihat kedua orang tuanya memberikan perhatian kecil untuk Nona Vira, setelah itu Nona Vina pun dengan tegas menginginkan jika hanya dirinya lah yang di kenalkan ke semua orang sebagai anak tunggal. Dan saat itu Bu Sinta dan Pak Wisnu menolak karena bagi mereka itu permintaan yang sangat tidak masuk akal, tapi Nona Vina langsung kembali jatuh sakit. Bahkan ia di rawat selama 1 bulan full karena penyakitnya, melihat keadaan Nona Vina yang terus seperti itu, membuat Bu Sinta dan Pak Wisnu dengan berat hati menuruti permintaan Nona Vina dengan tidak mempublish Nona Vira ke semua orang. Dan sejak saat ini, semua orang hanya mengetahui jika Pak Wisnu dan Bu Sinta hanya memiliki satu orang anak perempuan yaitu Nona Vina."
Pelayan itu hanya bisa menghela nafas panjang saat menceritakan fakta di balik alasan Sinta dan Wisnu tidak memperkenankan Vira kepada orang-orang. Mendengar hal itu Luis hanya diam, ia tidak menanggapi perkataan dari pelayan itu.
Sesaat kemudian Vira terbangun dari pingsannya, ia langsung melihat ke arah pelayan tua yang sudah sangat ia kenal sejak lama.
"Nek Nina, Ayah... Mama mereka telah pergi. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Vira seketika menangis sejadi-jadinya dengan tangan yang langsung memeluk pelayan tua itu.
Nina yang merupakan pelayan sekaligus pengasuh Vira sejak dulu, pun hanya bisa ikut menangis dengan kedua tangan yang mengelus punggung Vira.
"Yang sabar Nona, kita do'akan saja agar Pak Wisnu dan Bu Sinta tenang di surga." Ucap Nina dengan mata yang ikut berkaca-kaca.
Tangisan Vira terdengar jelas, ia terus menangis. Rasa sakit dan sedih atas kehilangan sosok ayah dan ibu membuat mental Vira down seketika, terlebih kematian Wisnu dan Sinta sangatlah mendadak.
Luis yang melihat Vira tengah menangis hanya bisa menatap iba, ia tidak bisa membujuk ataupun memberikan kata-kata agar wanita itu berhenti menangis, karena ia tahu perkataan seperti itu tidak di butuhkan. Karena bagi Luis orang lain mungkin tidak akan pernah bisa merasakan rasa sakit yang di alami oleh Vira.
__ADS_1