
"Pak Satria, anda datang ke sini?" tanya Vira.
"Iya dan pasti Nona Vira harus pulang untuk mengurus Rafael, jadi saya ke sini sekalian untuk mengajak Nona Vira pulang bersama." Ucap Satria.
"Terimakasih, tapi bagaimana jika Pak Satria duduk dulu. Kita pulangnya sebentar lagi," jawab Vira yang menyetujui ajakan Satria untuk pulang bersama.
"Baik," jawab Satria yang langsung duduk di samping Vira.
Maria yang melihat kedatangan Satria langsung menatap sinis pria itu, "Apa kau tidak tahu malu, mengajak pria asing untuk masuk ke rumah ini." Ucap Maria dengan mata yang menatap rendah ke arah Vira dan Satria.
"Kenapa harus malu, lagi pula ini rumah mendiang kedua orang tua ku. Jadi Tante Maria tidak perlu repot-repot mempermasalahkan hal itu," ucap Vira yang secara halus menyindir Maria.
Maria yang mendengar perkataan Vira seketika marah, "Dasar anak yang tidak memiliki sopan santun," Maki Maria yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak memiliki sopan santun? Memangnya saya melakukan apa sampai anda menganggap saya tidak memiliki sopan santun, apakah saya berkata kasar? Atau saya melemparkan sesuatu ke wajah anda? Tidak kan!?" Jawab Vira yang tidak mau kalah dengan Maria.
Maria yang kesal hanya bisa bungkam, ia langsung kembali duduk dengan ekspresi yang tengah menahan kesal.
Hingga dari lantai atas Vina dan Luis turun karena mendengar keributan, tapi mata Vina langsung tertuju pada sosok pria di samping Vira.
Begitu juga dengan Luis, ia tidak senang saat melihat kehadiran Satria di samping wanita itu.
Satria langsung mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang pernah ada di kehidupannya, tapi tatapan mata dan ekspresi Satria saat melihat Vina biasa saja seperti tidak pernah ada rasa cinta di dalamnya.
"Vina, kau sudah membaik?" tanya Vira saat melihat saudara kembarnya datang.
"Tidak, tapi aku mendengar keributan dari bawah." Jawab Vina yang masih menatap ke arah Satria.
"Siapa dia Nona Vira? Apa dia saudara kembar mu?" tanya Satria kepada Vira, pertanyaan itu membuat Vina semakin marah tapi ia tetap berusaha untuk menahan amarahnya.
"Iya dia saudara kembar ku," jawab Vira.
Lalu Satria pun bangkit dan memperkenalkan diri kepada Vina, "Senang bertemu dengan anda, saya Satria." Ucap Satria yang mengulurkan tangannya.
Vina langsung membalas jabatan tangan Satria, "Vina," ucap Vina.
__ADS_1
Satria pun langsung melepaskan tangannya dari Vina, dan ia kembali duduk di samping Vira. Luis hanya menatap kesal ke arah Satria, ia merasa sangat tidak suka melihat keberadaan pria itu di samping Vira.
"Aku pulang dulu," ucap Vira yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Biar ku antar," ucap Luis yang melihat Vira hendak pergi.
"Tidak perlu Pak Luis, saya pulang bersama dengan Pak Satria." Jawab Vira.
Mendengar hal itu Luis semakin kesal dan jengkel, Vira langsung bergegas untuk pulang ke rumah di antar oleh Satria.
Melihat Satria pergi, Vina langsung masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal dan marah.
"Apanya yang cinta, bahkan dia mendekati Vira dan pura-pura tidak mengenal ku!"
Vira yang baru saja sampai pun langsung pamit untuk masuk ke dalam rumah, kini Vira kembali duduk terdiam dengan perasaan yang kacau. Kehilangan kedua orang tuanya memberikan Vira hanya bisa menangis, terlebih kematian kedua orang tuanya sangatlah mendadak.
Vira mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia ingin segera beristirahat dan besok pagi Vira harus ke rumah sakit untuk menjenguk Rafael yang masih di rawat.
Keesokan harinya..
Vira mulai membuka pintu, tapi ia terdiam saat melihat sosok Luis sudah berada di depan pintu rumahnya.
"Pak Luis, apa yang sedang anda lakukan?" tanya Vira penasaran dengan kedatangan Luis di pagi-pagi seperti ini.
"Aku hanya ingin menyapa Kakak ipar ku," jawab Luis dengan senyuman aneh.
"Silahkan masuk," ucap Vira yang langsung mempersilahkan Luis untuk masuk.
Luis langsung duduk di atas sofa, ia mulai melihat Vira yang ikut duduk berhadapan dengan Luis.
"Jadi ada apa Pak Luis datang ke sini?" tanya Vira.
"Bukankah tadi saya sudah menjawab, jika saya ingin menyapa Kakak ipar." Ucap Luis dengan senyuman di wajahnya.
"Sebaiknya Pak Luis jangan memanggil saya Kakak ipar, karena umur anda bahkan lebih tua dari saya. Jadi sepertinya tidak cocok jika anda memanggil saya Kakak ipar," ucap Vira yang aga risih dengan panggilan Kakak ipar.
__ADS_1
"Baiklah, bagaimana jika aku memanggil mu Vira?" tanya Luis.
"Terserah Pak Luis saja," jawab Vira.
"Lalu kau tidak perlu memanggil ku dengan sebutan Pak," ucap Luis yang merasa canggung dengan panggilan Vira kepadanya.
"Lalu, saya harus memanggil anda dengan sebutan apa?" tanya Vira.
"Kau bisa memanggil ku Mas, Mas Luis." Jawab Luis yang ingin di panggil Mas oleh Vira.
"Sepertinya tidak, saya tidak ingin membuat Vina salah paham." Jawab Vira.
Luis kurang senang dengan jawaban dari Vira, lalu Vira pun bergegas pergi ke dapur untuk melihat masakannya yang yang tadi ia tinggal sebentar.
"Apa yang sedang kau masak?" tanya Luis yang tiba-tiba datang menghampiri Vira di dapur.
"Saya sedang memasak sup iga," jawab Vira.
"Wanginya sangat harum, apa boleh aku ikut makan di sini?" tanya Luis tanpa tahu malu.
"Silahkan," jawab Vira dengan wajah tersenyum.
Lalu ia langsung menyajikan makanan yang ia buat di atas meja, Luis memakan makanan buatan Vira dengan lahap.
"Apa Vina tahu jika kau datang ke sini?" tanya Vira.
"Tidak," jawab Luis jujur.
"Kenapa? Aku tidak ingin jika sampai salah paham," jawab Vira meski di hatinya berkata lain.
Luis hanya tersenyum dan tidak menjawab, setelah selesai makan Vira langsung membereskan piring-piring kotor. Kemudian wanita itu langsung bergegas ke kamar untuk bersiap-siap karena ia harus pergi ke rumah sakit secepatnya.
Luis yang penasaran pun langsung berjalan dengan pelan menuju lantai dua, dimana kamar Vira berada.
Luis bisa melihat kamar wanita itu yang tidak tertutup dengan sempurna, perlahan Luis mendekati dan mengintip Vira yang tengah tidak menggunakan apa-apa.
__ADS_1