
Luis terdiam saat mendengar perkataan dari Dokter yang mengatakan jika Vina memiliki penyakit jantung yang akan kambuh jika ia mengalami guncangan di mentalnya.
"Apa penyakitnya akan membahayakan nyawanya?" tanya Luis.
"Iya, itu sangat membahayakan nyawanya jadi saya sarankan jangan membuat Nona Vina merasakan depresi ataupun banyak pikiran karena hal itu akan membahayakan nyawanya," ucap Dokter dengan tatapan mata yang serius.
Luis hanya diam, lalu ia langsung beranjak pergi. Tangannya mulai mengambil handphone dan menelpon Sinta untuk memberitahukan jika Vina masuk rumah sakit.
Kini Luis berada di dalam ruang rawat Vina, wanita itu menatap Luis dengan tatapan lemah dan sendu.
"Mas, maaf aku telah merepotkan mu." Ucap Vina dengan nada sendu.
"Kenapa kau tidak bilang memiliki penyakit?" tanya Luis yang masih menatap dingin ke arah Vina.
"Aku tidak ingin membuat Mas Luis khawatir dan juga tidak ingin menjadi beban untuk semua orang," ucap Vina dengan kepala yang menunduk.
Luis hanya bisa terdiam dengan perasaan yang bingung, lalu Luis langsung pergi meninggalkan Vina begitu saja.
Setelah kejadian itu Vina pun kini sudah bisa pulang ke rumah, Maria yang mengetahui penyakit Vina langsung menegur Luis.
"Mama harap kau memperlakukan Vina dengan baik, kasian gadis itu. Ia bahkan menderita penyakit mematikan dan selama ini ia tidak pernah mengatakan kepada kita," ucap Maria.
"Aku sudah berusaha bersikap sebaik yang ku bisa, lalu apa yang Mama inginkan dari ku." Ucap Luis yang sedikit jengkel.
"Cobalah mencintai Vina dan jangan pernah menyakiti perasaannya." Ucap Maria yang berusaha memberikan pengertian kepada Luis.
"Aku tidak mencintainya dan aku tidak bisa, menikahi nya saja membuat hidup ku sengsara, apalagi harus mencintai nya. Aku tidak bisa," ucap Luis.
"Luis, ini nyawa Vina. Bagaimana jika ia merasa kepikiran dan membuatnya penyakitnya kembali kambuh, apa kau ingin melihat Anggun tidak memiliki seorang ibu? Bagaimana jika dengan sikap mu yang seperti itu malah membuat nyawa Vina dalam bahaya, jika kau tidak bisa mencintainya maka lakukanlah demi keselamatan Vina." Ucap Maria yang membuat Luis terdiam.
Vina yang tidak mendengar obrolan antara Luis dan Maria pun tersenyum tipis, kini ia bisa mendekati Luis dengan cara yang lebih baik.
Kini Vina hanya bisa duduk di atas ranjang, perasaan senang dan bahagia bercampur menjadi satu di hatinya. Lalu tiba-tiba pintu kamar pun terbuka menampilkan sosok Luis.
__ADS_1
"Mas, kau datang?" tanya Vina karena ia meminta Luis untuk menemaninya tidur.
"Iya, kau belum tidur?" tanya Luis yang mulai duduk di tepi ranjang.
"Belum, aku sangat merindukanmu. Mas," ucap Vina dengan tangan yang langsung memeluk tubuh suaminya.
Luis tidak mampu untuk mengatakan apapun, ingin sekali dirinya melepaskan pelukan Vina dari tubuhnya tapi mengingat penyakit Vina membuat Luis mengurungkan niatnya.
"Sebaiknya kau cepat tidur," ucap Luis dengan mata yang tidak melihat ke arah Vina.
"Iya Mas, tapi kau janjikan akan tidur bersama ku di sini?" tanya Vina dengan raut wajah penuh harap.
"Iya, aku janji." Jawab Luis.
Vina langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia sengaja menggunakan pakaian seksi untuk sekedar menggoda Luis. Tapi Luis sama sekali tidak tergoda, ia juga membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan segera memejamkan matanya.
Vina dengan perasaan senang langsung memeluk Luis dan dengan sengaja mendekatkan buah persik miliknya ke tangan Luis, tapi Luis sama sekali tidak tergoda.
Luis hanya bisa memejamkan mata dan berusaha untuk tidur, sementara Vina nampak kesal karena Luis hanya diam dan tidak merespon godaan yang ia berikan. Vina mulai meraba-raba dada bidang suaminya, ia bisa mencium wangi tubuh Luis yang membuatnya mabuk kepayang.
Selama menikah Vina belum pernah merasakan sensasi memeluk Luis seperti ini, ia sangat menyukai saat-saat nya bersama Luis.
Jika waktu bisa di putar Vina sama sekali tidak ingin memberikan malam pertamanya bersama Luis kepada Vira.
"Mas, apa kau sudah tidur?" tanya Vina dengan suara lembut dan menggoda.
Tapi tidak ada respon sama sekali dari Luis, Vina hanya bisa menahan perasaan kesal di hatinya. Ia pun mulai memejamkan mata dan terlelap ke dalam alam mimpinya yang indah dengan tangan yang terus memeluk tubuh Luis.
Sementara itu.
Vira terdiam dengan raut wajah yang bingung dan juga sendu, ia mendengar kabar jika Vina masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya.
Meski Vina selalu memperlakukan Vira dengan kejam tapi Vira tetap khawatir saat mendengar kabar jika Vina kembali masuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Mama, bagaimana keadaan Vina? Apa sudah ada kabar tentang nya?" tanya Vira dengan raut wajah khawatir.
"Keadaannya baik-baik saja, sekarang ia sudah berada di rumah." Jawab Sinta dengan mata yang menatap lembut putri sulungnya.
"Syukurlah," ucap Vira dengan senyuman bahagia.
"Kenapa kau masih sempat mengkhawatirkan Vina setelah apa yang telah ia lakukan kepada mu?" tanya Sinta.
"Emm.. Mungkin Vina sudah melakukan banyak hal buruk kepada ku, tapi mau bagaimana pun ia tetap adik ku. Kami pernah melewati banyak momen indah di waktu kecil, meski tidak banyak tapi berkesan bagi ku." Ucap Vira yang mengingat kenangan indahnya bersama Vina saat waktu kecil.
Sinta hanya tersenyum, ia memang tidak salah mendidik Vira. Meski ia membenci Vina tapi Vira tidak pernah bisa melakukan hal buruk kepada Vina karena baginya Vina adalah adik yang paling ia sayangi.
"Kau terlalu baik kepada Vina, tapi Vina tidak pernah memikirkan perasaan mu." Ucap Sinta.
"Sudahlah Ma, jangan bahas hal itu lagi. Tapi kenapa Mama tidak pergi menjenguk Vina, kasian dia." Ucap Vira.
"Tidak, Mama sedang tidak ingin bertemu dengan Vina." Ucap Sinta yang mengingat perlakuan Vina kepadanya.
"Ma, Vina juga anakmu dan lagi sekarang dia sedang sakit," ucap Vira yang berusaha membujuk Sinta.
"Tidak sayang, sebaiknya kau jangan bahas tentang Vina. Mendengar namanya Mama sangat kesal, jika waktu bisa di putar Mama tidak akan pernah memanjakan nya seperti itu," ucap Sinta dengan ekspresi sedih.
"Sudahlah Ma, sebaiknya Mama sekarang istirahat saja karena sepanjang hari Mama terus mengasuh Rafael," ucap Vira.
"Tidak apa-apa sayang, Mama malahan sangat senang bisa mengurus Rafael." Ucap Sinta.
"Terimakasih Ma," jawab Vira.
"Lalu bagaimana dengan kerja sama mu bersama dengan Luis? Apa dia curiga terhadap mu?"
"Entahlah, tapi dia sering menantang informasi tentang ku."
"Kau sebaiknya hati-hati dan jangan sering bertemu dengannya."
__ADS_1