Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 50


__ADS_3

Vina kini berada di ambang kemarahan, ia terus menghubungi Luis tapi pria itu sama sekali tidak menjawab panggilan darinya bahkan Luis malah mematikan handphone miliknya.


"Arg.. Wanita sialan, beraninya kau menggoda Luis." Vina berteriak dengan kencang, ia langsung membanting kan semua barang-barang yang ada di depan matanya.


Para pelayan hanya bisa diam dan tidak mampu mencegah Vina melemparkan barang-barang karena mereka takut kena marah dan malah di pecat.


Anggun yang masih kecil hanya bisa diam melihat Vina tengah marah, mata kecil Anggun mulai berkaca-kaca saat melihat ibunya melakukan tindakan seperti itu.


"Mama." Panggil Anggun dengan mata yang berkaca-kaca, ia takut melihat Vina seperti itu.


Vina langsung melihat ke arah Anggun, wanita itu bukannya melunak tapi malah balik memarahi Anggun.


"Apa?!" Tanya Vina dengan nada tinggi yang membuat Vina ketakutan.


Seorang pelayan langsung berlari dan membawa Anggun untuk menjauh dari Vina, mereka takut jika Vina yang tengah emosi malah menyakiti Anggun.


"Ada apa ini?" Maria tiba-tiba datang saat mendengar keributan dari lantai atas.


"Nyonya besar, nyonya Vina tengah marah-marah dan sekarang beliau sedang melemparkan barang-barang." Jelas seorang pelayan.


Anggun langsung menangis dan memeluk Maria. "Oma, hiks.. Hiks.. Anggun takut liat Mama.."


Melihat Anggun yang ketakutan sampai menangis seperti itu membuat Maria langsung turun tangan untuk menghentikan aksi Vina.


"Anggun sekarang sama bibi dulu, Oma mau bicara dengan Mama kamu."


"Baik Oma." Anggun langsung berjalan ke arah pelayan, sementara Maria langsung berjalan masuk ke dalam kamar Vina di susul oleh 3 orang pelayan.


"Apa yang kau lakukan!?" Maria berteriak, matanya menatap ke seluruh ruangan yang kini porak poranda.


"Sebaiknya aku jangan ikut campur!" Maki Vina yang kesal dengan sikap Luis.


"Kau jelas akan ikut campur, ingat Vina. Ini rumah ku jika kau membuat keributan di rumah ku sampai menghancurkan barang-barang ku. Maka aku yang akan turun tangan!" Maria langsung memberikan peringatan keras kepada Vina.

__ADS_1


"Apa kau kira aku takut dengan ancaman omong kosong mu itu!" Vina sama sekali tidak takut, tapi ia malah seakan menantang Maria.


Kesal dengan sikap Vina, Maria langsung meminta 3 pelayan nya untuk menyeret paksa Vina keluar dari rumahnya.


Vina yang kesal langsung memberontak tapi ia tetap kalah tenaga dengan tiga orang.


"Lepaskan aku, dasar pelayan rendahan. Aku ini majikan mu! Lepaskan, atau kalian kan ku pecat!"


"Percuma kau berteriak dan mengancam mereka, para pelayan itu tidak akan pernah menuruti perkataan mu karena akulah majikan mereka."


Vina hanya menatap kesal ke arah Maria, "Awas kau Maria, akan ku buat kau menyesal!" Maki Vina yang kesal.


Maria hanya tersenyum mengejek saat melihat menantunya berteriak-teriak seperti orang gila, para pelayan membawa Vina keluar dari gerbang rumah Luis.


Saat pintu gerbang di tutup Vina hanya bisa teriak dengan tangan dan kaki yang memukul gerbang, dan hal itu membuat dirinya menjadi bahan perbincangan orang-orang yang tengah berlalu lalang.


"Arg.. Maria sialan, beraninya dia mengusir ku! Akan ku buat dia membayar atas apa yang telah di lakukan nya kepada ku."


Vina yang bahkan tidak membawa uang sepeser pun, langsung berjalan kaki pergi dari tempat tinggalnya.


"Vina? Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Satria, pria itu buru-buru keluar dari dalam mobil untuk menghampiri Vina.


Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun tidak bertemu, kini Vina kembali bertemu lagi dengan mantan kekasihnya.


"Kau? Masih mengingat ku?" tanya Vina.


Satria yang melihat keadaan Vina hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia langsung menutupi pundak Vina dengan jas miliknya.


"Pakai jas ku, angin sedang berhembus kencang dan kau malah keluar dengan menggunakan pakaian tipis."


Mendengar hal itu Vina hanya diam dan tidak menjawab, lalu Satria mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Vina hanya diam dan enggan untuk berbicara, hingga Satria membuka percakapan untuk mencairkan suasana yang terasa canggung.

__ADS_1


"Apa kau bertengkar dengan suami mu?" tanya Satria dengan mata yang masih fokus pada jalan raya.


"Kau tidak perlu tahu!" Jawab Vina dengan suara yang serak.


"Meski kau tidak mengatakannya aku tahu jika kau sedang di kecewakan oleh suami mu itu."


"Berisik, kau jangan ikut campur."


"Oke, aku tidak ikut campur. Dan aku turun berduka cita atas meninggalnya Vira," ucap Satria dengan nada sendu.


Vina terdiam saat mendengar nada bicara Satria yang seperti sedih atas kehilangan Vira, sebuah senyuman hambar muncul di wajah Vina.


Ia sangat kesal kepada Vira karena semua orang selalu menyayangi wanita itu daripada dirinya.


"Vina, aku ingin bertemu dengan anak ku." Satria tiba-tiba mengatakan hal itu yang membuat Vina langsung melihat ke arahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Vina kesal.


"Anggun itu adalah darah daging ku dan aku ingin bertemu dengannya."


"Hahaha.. Apa kau gila? Setelah beberapa tahun berlalu, kau baru mengakui jika Anggun adalah anakmu? Selama ini kau kemana saja!?"


Satria hanya bisa diam, "Aku minta maaf, tapi aku ingin bertemu dengan putri ku."


"Tidak, aku tidak akan membiarkan mu bertemu dengan anak ku. Jika sampai itu terjadi, masa depan ku dengan Luis akan hancur!"


"Masa depan apa yang kau bicarakan? Kau sama sekali tidak memiliki masa depan dengan Luis. Dia tidak pernah mencintaimu!"


Vina yang mendengar hal itu hanya bisa diam dengan mata yang mendengar hal itu seketika langsung marah.


"Iya, dia emang tidak pernah mencintai ku! Sama seperti mu, kau juga tidak pernah mencintai ku bahkan kau meninggalkanku setelah kau mengambil kesucian ku!"


Vina kini menangis, ia sangat kesal dengan kehidupannya yang kacau hanya karena satu pria yang telah merusak masa depannya.

__ADS_1


Satria seketika merasa bersalah, karena ia telah menyakiti Vina di masa lalu.


__ADS_2