
Sabrina terbangun dengan tubuh yang di balut selimut, ia melihat ke sekeliling tapi tidak menemukan keberadaan Luis.
Lalu Sabrina melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 18.300 WIB.
Sabrina buru-buru bangun, ia mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya polosnya. Perlahan Sabrina membuka pintu kamar, ia melihat ke sekeliling dan tidak untungnya tidak ada orang.
Dengan langkah cepat Sabrina berjalan ke kamarnya, saat masuk ke kamar. Sabrina sama sekali tidak menemukan keberadaan Rafael.
Tapi Sabrina tidak terlalu memikirkannya karena ia yakin jika Rafael sekarang pasti tengah bersama dengan Luis.
Setelah selesai menggunakan pakaiannya, Sabrina langsung berjalan ke luar kamar seraya mencari keberadaan Luis dan Rafael.
Rupanya kedua orang itu tengah berada di meja makan, "Tante, sudah bangun?" tanya Rafael dengan tatapan mata yang terlihat sangat lucu bagi Sabrina.
"Iya, maaf Tante ketiduran."
"Gak papa, Tante. Ayo kita makan, bibi sudah memasak makanan untuk kita."
Sabrina hanya tersenyum ia duduk di samping Rafael, Sabrina langsung mengambil nasi dan beberapa lauk pauk untuk makan Rafael.
"Tante, Rafa tidak suka sayur." Rengek Rafael.
"Rafa sayang, kau harus makan sayur. Karena sayur sangat enak."
"Tapi Tante."
"Di makan yah, nih liat Tante juga makan dan rasanya sangat enak." Sabrina langsung memakan sayuran tersebut.
Lalu Rafael dengan perlahan memakan sayuran, melihat Rafael yang mau makan dengan sayuran Sabrina langsung tersenyum tipis. Setidaknya ia ingin mengajarkan putranya untuk menyukai sayuran.
"Kau sangat hebat bisa membujuk Rafael untuk makan sayuran," puji Luis.
"Pak Luis bisa saja, yang terpenting bagaimana cara kita berkomunikasi dengan mereka." Jawab Sabrina dengan mata yang masih melihat ke arah Rafael.
__ADS_1
Setelah acara makan malam selesai, Luis mengajak Sabrina dan Rafael untuk duduk di teras rumah.
Mereka bertiga duduk bersama dengan Rafael yang berada di pangkuan Luis, jika orang yang melihat pasti akan menyangka jika mereka merupakan pasangan suami istri.
Rafael nampak pokus melihat pemandangan langit yang sangat indah, sementara Sabrina dan Luis tengah berciuman. Tapi mata Luis sesekali melirik ke arah Rafael, ia takut jika anaknya melihat kegiatan yang ia lakukan dengan Sabrina.
Hingga tiba-tiba suara ponsel milik Luis berbunyi dan membuat Sabrina kaget, "Siapa yang menelpon?" tanya Sabrina yang bersandar di pundak Luis.
Lalu Luis mengeluarkan handphone miliknya dan benar saja, Vina menelponnya.
"Apa itu istri mu?" tanya Sabrina.
"Iya."
"Jadi kau akan angka?" tanya Sabrina dengan ekspresi yang kurang senang.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku angkat."
Luis langsung menolak panggilan dari Vina, ia segera mematikan handphone miliknya agar Vina tidak lagi bisa menggangu waktunya.
"Emm.. Pak Luis, geli." Ucap Sabrina saat tangan Luis mulai meraba tubuh bagian atasnya.
"Jangan berisik, nanti Rafael dengar." Bisik Luis yang terus meremas persik milik Sabrina.
Di saat keduanya tengah berada di pundak gairah satu sama lain, tiba-tiba Rafael bicara yang membuat Luis dan Sabrina kaget.
"Papa, ini sudah malam. Rafa ngantuk." Rafael melihat wajah ayahnya yang nampak seperti bingung dan malu.
"Papa kenapa?" tanya Rafael yang masih polos.
"Papa enggak papa, ya udah. Sekarang kita tidur," ajak Luis.
Lalu Luis mengajak Rafael untuk tidur di dalam kamar, sementara Sabrina masih berada di luar dan ingin menikmati keindahan malam.
__ADS_1
Hawa panas mulai datang, Sabrina melihat kolam berenang yang ada di sampingnya. Tiba-tiba Sabrina merasa ingin berenang di tengah malam seperti ini.
Sabrina mulai bangkit dan mengambil bikini miliknya untuk berenang, meski hawa malam tapi Sabrina cukup menikmati berenang di malam hari.
Di saat wanita itu tengah menikmati bermain air, tiba-tiba Luis datang dengan piyama tidurnya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Luis yang melihat Sabrina tengah berenang.
"Aku senang berenang, memang nya kenapa?" tanya Sabrina dengan wajah polos.
"Sabrina, hari sudah malam dan kau malah berenang. Apa kau ingin masuk angin?"
"Tapi aku ingin bermain air,"
"Oke, bagaimana jika kita berendam air panas. Itu lebih menyenangkan daripada berenang dengan air dingin."
"Tidak mau! Jika Pak Luis ingin berendam air panas, sama pergi saja. Lagi pula aku juga tidak mengajakmu berenang,"
Mendengar perkataan Sabrina, Luis tersenyum tipis. Ia langsung membuka piyama miliknya dan menyisakan celana boxer.
Luis langsung turun ke kolam berenang dan memeluk Sabrina dari belakang.
"Pak Luis."
"Jangan panggil Pak, kau bisa memanggilku ku Mas."
Lalu Luis langsung mencium bibir Sabrina dengan lembut, sementara kedua tangannya mulai meremas pegunungan yang masih segar.
"Sabrina kau sangat cantik," bisik Luis tepat di telinga Sabrina.
"Kau juga, kau pria yang sangat tampan yang pernah aku temui."
"Aku telah jatuh cinta kepada mu, apakah kau ingin menerima cinta dari pria kesepian seperti ku?"
__ADS_1
"Pria kesepian? Bukankah aku sudah memiliki wanita lain yang sudah menemani mu selama bertahun-tahun."
"Aku tidak mencintainya, walau ada dia. Aku merasa selalu sendirian," Luis mencium tangan Bianca seraya memeluk wanita itu.