
Vina terdiam dengan tatapan mata yang membulat sempurna, "Bagaimana, apa berita itu sudah membuat jantung mu kumat?" tanya Vira dengan tatapan dingin.
"Kau!" Ucap Vina yang langsung bangkit dan mencengkram kerah baju Vira.
"Dan satu lagi, bayi yang kau lukai kemarin itu adalah anak ku dan anak suami mu!" Ucap Vira dengan mata yang menatap tajam ke arah Vina.
Pertengkaran antara keduanya pun di saksikan oleh Luis, tapi Luis tidak bisa mendengar pembicaraan antara keduanya. Vina yang kesal langsung memukul dan menghajar Vira habis-habisan, tapi hal itu segera di hentikan oleh Luis.
"Apa yang kau lakukan, Vina." Ucap Luis yang bisa membedakan mana Vina dan juga Vira.
"Mas," panggil Vina yang terkejut saat melihat Luis.
Luis langsung membantu Vira berdiri, Vina yang melihat hal itu seketika marah besar tapi ia hanya bisa menahan amarahnya.
"Jelaskan semuanya!" Ucap Luis dengan nada tegas, tatapan matanya menyiratkan perasaan ingin tahu.
"Vina tidak akan bisa menjelaskan, biar aku yang menjawab semua pertanyaan yang ingin kau ketahui." Ucap Vira.
Mendengar hal itu Luis langsung melihat ke arah Vira, tatapan wanita itu berbeda dengan yang ia sering lihat. Tatapan amarah dan kebencian terlihat jelas dari sorot mata Vira.
"Katakanlah." Ucap Luis.
"Aku Elvira, saudara kembar sekaligus Kakak dari Elvina." Ucap Vira yang memperkenalkan dirinya pada Luis.
Luis kini tahu jawaban kenapa Vira dan Vina memiliki wajah yang sama, "Jadi kau saudara kembar dari istri ku, lalu kenapa aku belum pernah mengetahui tentang mu. Mungkin bukan hanya aku tapi semua orang juga karena yang mereka ketahui jika mertua ku hanya memiliki satu anak." Ucap Luis yang penasaran.
"Cerita nya sangat panjang tapi jika kau ingin tahu lebih banyak, kau bisa saja tanyakan kepada istri mu yang egois itu. Istri mu yang penyakitan dan menjadikan penyakitnya sebagai tameng untuk mendapatkan simpati semua orang." Ucap Vira dengan tatapan dingin dan penuh amarah.
Luis langsung menatap ke arah Vina, wanita itu segera menghampiri suaminya dan memegang tangan Luis.
"Mas, jangan pernah percaya omongan wanita itu. Ayah dan Mama sangat membencinya karena Kak Vira itu anak yang nakal, itulah kenapa ayah sengaja menyembunyikan identitas Kak Vira. Bahkan Kak Vira juga hampir membunuh ku," ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Vira yang mendengar hal itu tidak ada niatan untuk membela diri, ia memilih untuk pergi dan berada di samping jenazah kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya.
"Mau kemana kau?" Tanya Vina yang melihat kepergian Vira.
"Aku datang ke sini hanya untuk melihat kedua orang tua ku untuk terakhir kalinya dan menemani mereka sampai di kuburkan, bukan untuk melayani drama yang kau buat." Ucap Vira yang berlalu pergi meninggalkan Vina dan Luis.
Luis yang melihat kepergian Vira hanya bisa diam, Vina segera memegangi kedua tangan suaminya. "Mas, dada ku sakit." Ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa? Apa penyakit mu kambuh lagi?" tanya Luis dengan sorot mata yang langsung melihat ke arah Vina.
"Iya..." Sebelum melanjutkan perkataannya Vina langsung jatuh pingsan ke lantai dan Luis sama sekali tidak menahan tubuh istrinya.
Luis yang melihat Vina jatuh pingsan langsung memanggil pihak keamanan untuk membawa Vina ke dalam mobil dan segera membawa wanita itu ke rumah sakit.
Kini Luis hanya bisa diam dengan sorot mata yang melihat ke arah Vira, wanita itu duduk di depan jenazah Sinta dan Wisnu. Mata merah dan berkaca-kaca menunjukkan betapa sedihnya Vira atas kehilangan Sinta dan juga Wisnu.
Maria tiba-tiba datang menghampiri Luis, ia baru saja tiba dan Maria sangat terkejut dengan berita yang baru saja ia dapatkan jika Vina memiliki kembaran.
"Berita apa?" tanya Luis yang tidak paham.
"Berita jika Vina memiliki seorang kembaran, itu semua tidak benar kan?" tanya Maria memastikan.
"Itu semua benar," jawab Luis.
"Apa, tapi bagaimana bisa? Selama ini Vina tidak memiliki kembaran, lalu kenapa tiba-tiba ada seorang wanita yang mengaku sebagai kembaran Vina. Mungkin wanita yang mengaku sebagai kembaran istri mu itu hanya wanita pembohong yang melakukan operasi plastik agar bisa mendapatkan warisan dari mendiang Mertua mu." Ucap Maria yang menebak-nebak.
"Apa sih Ma, kalau ngomong jangan ngaur. Mungkin kita baru tahu jika Vina memiliki kembaran tapi bisa ada alasan khusus kenapa kembaran Vina tidak di kenalkan ke publik." Ucap Luis.
"Terserah kau saja, laku dimana Vina sekarang?" tanya Maria yang tidak melihat menantunya.
"Vina sekarang di rumah sakit, jantung nya kumat lagi." Jawab Luis dengan ekspresi yang biasa saja.
__ADS_1
"Astaga?! Bagaimana bisa kau meninggalkan Vina sendirian di rumah sakit, kau ini suaminya." Ucap Maria yang kesal.
"Lagi pula Vina sudah sering keluar masuk rumah sakit, aku yakin jika dia sudah nyaman dengan keadaan rumah sakit jadi aku tidak perlu menemaninya." Jawab Luis.
Maria hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia langsung buru-buru pergi ke rumah sakit untuk menemani Luis.
Tatapan mata Luis masih tertuju pada sosok Vira, wanita itu kini terdiam dengan tatapan mata yang kosong.
"Ayah... Mama, bagaimana hidup ku sekarang? Aku bahkan sudah tidak punya pijakan lagi untuk hidup. Kenapa kalian pergi begitu cepat? Lalu kenapa sangat mendadak, bahkan hati ku masih belum siap menerima kenyataan jika kalian sudah pergi." Ucap Vira dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Di saat Vira tengah berada di depan jenazah, tiba-tiba seorang pria datang menghampiri Vira. Hal itu pun membuat Luis langsung melihat ke arah pria yang mendekati Vira.
"Nona Vira, saya turut berdukacita." Ucap Satria yang tiba-tiba datang.
Vira langsung melihat ke arah Satria, ia sedikit terkejut saat melihat kedatangan Satria.
"Pak Satria, anda di sini?" tanya Vira.
"Iya, saya mengetahui kabar duka ini dari asisten anda." Ucap Satria.
Lalu Satria duduk di samping Vira, ia hanya diam dan mendoakan kedua orang di depan matanya.
Waktu pun tak terasa berjalan sangat cepat, kini jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB dan ini adalah waktunya untuk menguburkan jenazah Sinta dan juga Wisnu.
Vira yang hendak bangkit pun sangat lemas, Satria langsung spontan memegang pinggang wanita itu dan membantunya untuk bangkit.
"Apa kau kuat untuk berjalan?" tanya Satria.
"Entahlah," jawab Vira dengan nada yang lemah.
"Baiklah, aku akan membantu mu untuk berjalan."
__ADS_1
Satria langsung membantu Vira berjalan menuju tempat pemakaman, sekilas Satria melihat sorot mata Luis yang menatapnya dengan tajam.