Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 39


__ADS_3

Keributan terjadi di kediaman Luis, semua orang hanya bisa menjadi orang bisu dan tuli. Makian dan amukan terus keluar dari mulut Vina, ia mencari keberadaan Luis yang pagi-pagi sudah tidak ada di rumah.


Maria yang melihat Vina tengah marah-marah langsung menghampiri dan menegur menantunya.


"Vina, apa yang sedang kau lakukan? Pagi-pagi seperti ini kau malah membuat keributan?!" Maria memaki dengan nada sedikit jengkel karena tidur cantik nya harus terganggu oleh suara Vina.


"Ma, wajar aku marah dan membuat keributan di pagi hari. Mas Luis tidak ada di rumah!" Jawab Vina yang semakin kesal.


"Dia pasti ke kantor, untuk apa sih harus di permasalahkan."


"Ke kantor? Aku sudah menelpon pihak kantornya tapi Mas Luis tidak ada, bahkan dia mengatakan jika hari ini dirinya tidak akan datang ke kantor. Menurut Mama aku harus tenang saat mengetahui suami ku sedang berada di luar?! Dan mungkin saja sekarang Mas Luis tengah bersama wanita lain." Vina mengatakan itu dengan nada setengah berteriak.


Maria langsung menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku menantu perempuannya yang membuat jengkel.


"Jika kau ingin mencari Luis, sebaiknya kau cari di luar. Tapi jangan membuat keributan di rumah ini, telinga ku hampir pecah mendengar suara mu yang terus-menerus berteriak-teriak di dalam rumah. Dan lagi sebaiknya kau urus Anggun, sudah beberapa hari kau bahkan tidak mengurus anakmu!" Maria langsung memarahi Vina yang di nilai kurang memperhatikan Anggun.


"Anggun itu sudah ada pengasuh, jadi gak perlu repot-repot untuk mengurusnya." Jawab Vina yang kini sudah mulai menunjukkan wajah aslinya kepada Maria.

__ADS_1


Maria langsung mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban Vina yang di nilai keterlaluan, "Kau itu ibunya tapi kau sama sekali tidak memperhatikan Anggun, meski ada pengasuh sekalipun Anggun tetap harus mendapatkan perhatian darimu." Ucap Maria yang kesal.


"Aku ini sibuk, mana sempat mengurus Anggun." Jawab Vina dengan mata yang menatap malas ke arah Maria.


Maria yang kesal pun langsung menghina Vina habis-habisan, "Sibuk? Memangnya kau sibuk apa? Apa kau kerja? Tidak kan, bahkan selama ini kau hanya numpang di hidup pada Luis. Dan kau masih menyebut dirimu orang sibuk," Ucap Maria yang tanpa rasa bersalah langsung menghina Vina habis-habisan.


"Apa yang Mama katakan? Kau menghina ku, ingat aku istri Luis dan aku nyonya di rumah ini. Jika Mama menghina ku satu kali lagi, aku akan menyuruh Mas Luis untuk mengusir mu dari sini!" Ucap Vina yang mulai kesal setelah mendengar penghinaan dari ibu mertuanya.


"Apa kau bilang? Kau ingin mengusir ku, ingat Vina. Luis memang suami mu tapi dia anak ku, meski Luis yang mengurus perusahaan tapi aku adalah orang yang memegang semua kendali. Dan satu lagi, jangan sampai kau lupa. Jika Luis sama sekali tidak pernah mencintaimu, jika bukan karena aku membela mu mungkin sudah sejak lama kau di usir dari rumah ini." Ucap Maria yang menyadarkan posisi Vina di rumah ini. "Aku heran dengan orang miskin yang menyebut dirinya sibuk, padahal kegiatan nya hanyalah menghambur-hamburkan uang." Ucap Maria yang melenggang pergi meninggalkan Vina.


Vina langsung bergegas menghampiri Maria yang kini tengah duduk di teras rumah, mata Maria menatap sinis ke arah Vina yang datang menghampirinya.


"Ada perlu apa Nyonya rumah ini," ucap Maria yang menekan kata Nyonya.


Vina hanya bisa mengubur rasa malu dan amarahnya karena ia tidak ingin kehilangan sosok berharga seperti Maria, karena keberadaan Maria di sampingnya sangat di butuhkan untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai istri Luis.


"Ma, aku minta maaf atas apa yang ku katakan kepada mu tadi. Hal itu karena aku sedang terbawa emosi karena kepergian Mas Luis," ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Maria dengan tenang meminum teh miliknya, "Vina, apa yang kau katakan itu bukan suatu kekhilafan. Melainkan itu memang watak mu dan kau mengganggap ku sebagai orang yang mudah di gertak tapi kenyataannya tidak." Ucap Maria yang seperti sudah membaca pikiran Vina.


"Itu tidak benar, Ma." Ucap Vina yang langsung duduk dan memegang tangan Maria.


"Baiklah, aku percaya. Tapi ingat Vina tanpa aku. Kau tidak akan pernah bisa bertahan lama di rumah ini terlebih lagi dengan kenyataan jika Luis sama sekali tidak mencintai mu," ucap Maria yang langsung melepaskan tangannya dari genggaman Vina.


"Baik, aku tahu itu." Jawab Vina dengan menahan amarah di hati nya.


"Sebaiknya kau jaga Anggun, aku tidak ingin cucu perempuan ku tidak mendapatkan kasih sayang yang bagus. Dan satu lagi, jangan pernah kau coba-coba berbuat kasar kepada cucu ku, jika kau melakukan hal seperti itu lagi. Aku akan pastikan kau keluar dari rumah ini bahkan mendekam di penjara," ucap Maria yang memperingatkan Vina.


Mendengar hal itu Vina terkejut bukan main, ia tidak tahu jika Maria sudah mengetahui perbuatannya kepada Anggun.


"Apa yang Mama bicarakan, mana mungkin aku melakukan perbuatan hina seperti itu. Terlebih lagi Anggun adalah anak ku, aku tidak mungkin sekejam itu kepada putri kandung ku sendiri." Jawab Vina yang masih berusaha untuk menutupi kesalahannya.


"Aku bukan orang tuli dan buta, jadi meski kau mengatakan hal itu aku sudah tahu kebenarannya." Jawab Maria yang langsung bangkit, "Sebaiknya kau jangan datang hanya untuk mengganggu waktu ku,"


Setelah itu Maria langsung meninggalkan Vina begitu saja, kini posisi Vina di rumah ini berada di ujung tanduk. Jika saja dari awal ia tidak macam-macam dengan Maria, mungkin hal seperti itu tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2