
Beberapa minggu berlalu, hubungan antara Luis dan Sabrina semakin dekat. Bahkan Luis seperti memiliki perasaan berbeda untuk Sabrina, wanita itu sangat lembut kepadanya. Sikapnya mengingatkan Luis pada sosok Vira.
"Pak Luis, besok lusa anda harus pergi ke Bandung untuk pertemuan dengan klien." Ucap Sabrina yang memberitahukan jadwal Luis.
"Baik, cuman 1 hari kan?" tanya Luis.
"Iya Pak, cuman 1 hari. Tapi mungkin bisa saja 2 hari untuk beristirahat sejenak dan juga waktu untuk di perjalanan," jawab Sabrina.
"Baiklah, perpanjangan jadwal ku jadi 1 Minggu di Bandung." Ucap Luis yang langsung mengeluarkan handphone miliknya.
"1 Minggu? Baik Pak." Jawab Sabrina.
"Iya dan kau bawa pakaian lebih, aku ingin mengajakmu berlibur di Bandung." Ucap Luis dengan senyuman di wajahnya, lalu ia menunjukkan sebuah villa mewah yang ada di Bandung kepada Sabrina.
Sebuah Villa dengan nuansa alam yang sangat indah, melihat hal itu Sabrina sangat senang.
"Tapi Pak Luis, bagaimana jika liburan kali ini kita ajak Tuan muda Rafael." Ucap Sabrina karena ia ingin bisa memiliki waktu yang lebih banyak dengan putra kandungnya.
"Apa dengan Rafael, tapi kenapa?" tanya Luis heran karena karyawan yang ada di perusahaan sama sekali kurang menyukai keberadaan Rafael.
"Emm.. Saya hanya menyukai Tuan muda Rafael, karena beliau sangat lucu." Jawab Sabrina.
"Baiklah, aku akan mengajak Rafael sekalian. Tapi bisakah kau tidak memanggilnya Tuan muda? Lagi pula kau bukan pelayannya untuk apa memanggil Tuan muda." Ucap Luis.
"Baik Pak Luis." Jawab Sabrina.
Tak terasa jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, Luis langsung mengajak Sabrina untuk makan siang bersama.
Saat keduanya sampai di sebuah restoran, rupanya Vina juga ada di restoran itu. Ia menatap Luis tengah bersama dengan Sabrina, tatapan marah dan kesal nampak jelas dari raut wajah Vina.
"Mas, kau di sini?" tanya Vina yang langsung menghampiri suaminya, dan mendorong tubuh Sabrina agar menjauh.
__ADS_1
"Iya," jawab Luis.
"Kebetulan sekali, bagaimana jika kita makan siang bersama." Ucap Vina dengan tatapan mata yang sinis ke arah Sabrina.
"Baik."
Lalu Luis dan Vina bergegas ke sebuah meja untuk empat orang, Vina duduk berhadapan langsung dengan Luis. Ia senang karena Sabrina telah pergi, tapi senyuman kesenangannya itu seketika luntur saat melihat Sabrina berjalan mendekat dan duduk di samping Luis.
"Maaf, Pak. Tadi saya ke toilet dulu." Ucap Sabrina tanpa memikirkan tatapan Vina yang seperti ingin membunuhnya.
"Iya, kau menggunakan rok mini lagi?" tanya Luis yang melihat paha bagian atas Sabrina terekspos.
"Iya, dan dari tadi saya sudah menggunakan rok mini." Jawab Sabrina.
Luis hanya tersenyum tipis, lalu ia melepaskan jas miliknya dan memberikannya kepada Sabrina untuk menutupi pahanya.
"Mas!" Panggil Vina dengan kesal melihat Luis yang perhatian kepada Sabrina.
"Aku ada di depan matamu, tapi kau malah memperhatikan wanita itu?!" Ucap Vina yang kesal.
"Sudahlah, sebaiknya kita makan. Aku hanya memiliki jam makan siang yang singkat jadi jangan membuat masalah," ucap Luis yang kesal.
Mendengar hal itu Vina terdiam, meski di dalam hatinya ia sangat marah.
Saat pelayan datang dan memberikan buku menu, Sabrina mulai memesan makanan untuk Luis bahkan Sabrina secara teliti memesan makanan untuk Luis dengan tidak menambahkan beberapa komponen makanan yang tidak Luis suka.
Vina yang mendengar hal itu hanya diam, ia merasa telah kalah oleh wanita itu.
"Terimakasih Sabrina, bahkan kau tahu apa saya yang tidak aku sukai." Ucap Luis yang merasa takjub dengan perhatian Sabrina kepadanya.
"Tentu saja, Pak. Lagi pula saya sekretaris anda jadi ini kewajiban saya untuk mengetahui apa yang anda sukai dan yang tidak anda sukai," jawab Sabrina dengan mata yang melirik ke arah Vina, ia tersenyum seakan tengah meremehkan Vina.
__ADS_1
Setelah makanan datang, Sabrina dengan Anggun memakan makanan miliknya. Begitu juga dengan Luis, bahkan ia membantu Sabrina untuk memotong steak yang wanita itu pesan.
Vina yang berada di antara kedua orang itu merasa di abaikan, keberadaannya di sini seperti sebuah benda mati yang bahkan tidak di anggap sama sekali.
"Cukup Mas!" Ucap Vina yang sudah hilang kesabaran.
"Ada apa lagi?" tanya Luis dengan ekspresi yang acuh.
"Kau terus saja memperhatikan wanita itu, aku istrimu dan kau lebih mementingkan wanita itu dari pada aku?" Ucap Vina yang sudah sangat kesal.
Seketika selera makan Luis langsung hilang, ia segera membanting kan sendok miliknya ke atas meja dan pergi begitu saja.
Sabrina yang melihat kepergian Luis pun langsung melihat ke arah Vina.
"Nyonya Vina, apa yang telah kau lakukan? Sekarang Pak Luis sudah marah dan kehilangan selera makannya," ucap Sabrina dengan nada sedikit mengejek.
"Ini semua gara-gara kau, dasar wanita rendahan. Berani-beraninya kau menggoda suami ku di depan mata ku sendiri." Maki Vina yang kesal dengan tingkah Sabrina.
"Menggoda? Tapi harusnya anda berkaca dulu, bahkan sebenarnya anda sangat gagal untuk di sebut sebagai seorang istri. Bahkan anda sama sekali tidak mengetahui komponen makanan apa saja yang tidak di sukai oleh Pak Luis." Ucap Sabrina yang langsung merendahkan Vina habis-habisan.
Kesal dengan sikap Sabrina, Vina langsung bangkit dan hendak menampar wanita itu. Tapi sebelum tangannya sampai di pipi Sabrina, wanita itu langsung mencengkeram tangan Vina dengan erat hingga wanita itu merengek kesakitan.
"Arg.. Lepaskan, sakit!" Ucap Vina.
Sabrina langsung menghempaskan tangan Vina, wanita itu melihat pergelangan tangannya yang berdarah akibat di cengkeram kuat oleh Sabrina.
"Beraninya kau melukai ku," ucap Vina kesal.
Sabrina hanya tersenyum, ia langsung bangkit dan segera bergegas pergi meninggalkan Vina.
"Vina, kali ini aku tidak akan pernah kalah darimu. Jika kau melukai ku 1 kali maka aku akan membalasnya ratusan kali."
__ADS_1