Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 41


__ADS_3

Vira terbangun di ranjang rumah sakit, ia ingat apa yang telah terjadi kepadanya. Perlahan tangan Vira memegang wajahnya yang terasa berbeda, kini wajah Vira tengah di perban.


"Ada apa dengan wajah ku?" tanya Vira yang masih belum tahu.


Lalu seorang suster menghampiri Vira, ia menjelaskan jika dirinya sudah 1 Minggu di rawat di rumah sakit.


Vira pun meminta cermin kepada suster di depannya, ia nampak bingung untuk memberikan cermin kepada Vira tapi Vira terus memaksa hingga suster itu akhirnya memberikan sebuah cermin.


Vira melihat wajahnya tengah di perban, "Kenapa wajah ku di perban?" tanya Vira dengan nada tinggi.


Suster itu terdiam dengan raut wajah yang bingung, "Kenapa wajah ku di perban?!" tanya Vira dengan suara yang setelah berteriak.


"Maaf Nona, wajah anda mengalami kerusakan hampir 70%." Jawab suster tersebut dengan wajah yang menatap sendu.


Vira terdiam, ia ingat jika Vina menuangkan sebuah cairan aneh ke wajahnya. Kini ia tahu, cairan itu adalah air keras. "Lalu bagaimana dengan kasusnya, apa orang yang melakukan hal ini kepada ku sudah di tangkap dan di masukan ke dalam penjara?" tanya Vira yang ingin mengetahui.


"Maaf Nona, setahu saya anda mengalami kecelakaan karena ulah anda sendiri, bukan karena orang lain." Jawab Dokter yang mengetahui sedikit alasan wajah Vira hancur.


Vira terdiam, kini ia sadar jika Vina sudah memanipulasi semuanya. Sebuah senyuman di wajah Vira terukir, ia tidak menyangka jika hari ini akan datang kepadanya.


Lalu seseorang masuk ke dalam ruang rawat Vira, wanita itu tidak lain adalah pengasuh Vira. Ia menatap iba wanita yang pernah ia asuh dari kecil.


"Nona Vira," panggil nya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nek, wajah ku sudah hancur." Ucap Vira dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Melihat kerapuhan Vira saat ini Nina langsung memeluk wanita itu, "Nek, wajah ku sudah hancur. Semua ini gara-gara Vina," ucap Vira yang menangis sejadi-jadinya.


"Yang sabar Nona," ucap Nina yang tidak kuasa menahan tangis.


"Bagaimana aku bisa menghadapi hidup saat ini, aku sudah tidak bisa hidup lagi. Aku tidak ingin Rafael memiliki seorang ibu yang berwajah buruk rupa," ucap Vira yang terus menangis.


Nek Nina langsung melepaskan pelukannya dari Vira, ia mulai mengeluarkan sesuatu dari tas miliknya.


"Nona, ini buku tabungan pribadi milik Pak Wisnu dan Bu Sinta. Saya di beri amanah untuk memberikan ini kepada anda, nominal uang di tabungan ini sangat besar dan mungkin anda bisa melakukan operasi untuk memperbaiki wajah anda yang rusak." Ucap Nek Nina.


Vira terdiam, jika ia melakukan operasi bagaimana dengan identitasnya?


Lalu tangan Vira mengambil buku tabungan tersebut, ia melihat jumlah uang yang tidak sedikit. Dan uang itu merupakan tabungan masa tua Wisnu dan juga Sinta dari mereka awal menikah bahkan Vina sama sekali tidak mengerti tentang hal itu.


"Baik, aku akan menerima tabungan ini. Tapi aku ingin minta tolong kepada mu," ucap Vira dengan tatapan mata yang serius.


Di kediaman Vina.


Nampak wanita itu tengah menangis sambil memeluk Luis, berita kematian Vira yang di sampaikan oleh Nek Nina membuat Vina sangat sedih.


Begitu juga dengan Luis, ia masih tidak menyangka jika Vira akan pergi begitu cepat. Bahkan wanita itu mati dengan cara yang sangat tragis.


"Mas, aku baru saja kehilangan kedua orang tau ku. Tapi sekarang aku juga telah kehilangan saudara kembar ku, hiks.. Hiks.. Hiks.." Vina terus menangis dengan sangat kencang, ia terus memeluk Luis yang hanya diam dan tidak bergeming sedikitpun.


Kematian Vira seperti sebuah pukulan yang besar untuk Luis, lalu Luis melepaskan pelukan Vina dari tubuhnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kau segera bersiap, kita harus segera pergi ke rumah duka." Ucap Luis yang pergi begitu saja meninggalkan Vina.


Melihat Luis pergi, Vina mulai menunjukkan jati dirinya. Ia tersenyum puas dan penuh kemenangan, ia tidak menyangka jika Vira akan pergi begitu cepat.


"Bagaimana, apa sekarang kau sedang di siksa di neraka karena telah berbuat dosa?" ucap Vina yang sangat senang membayangkan Vira tengah di siksa di alam baka.


Luis yang kini berada di tepi balkon hanya bisa bersandar di dinding, ia masih tidak percaya dengan kematian wanita itu.


Perasaan cinta muncul tiba-tiba di hati Luis saat bersama dengan Vira selama beberapa waktu, dan dengan kabar meninggalnya Vira membuat hati Luis sangat hancur dan sedih.


Tiba-tiba setetes air mata membasahi pipi kanan Luis, ia dengan senyuman dingin langsung menyeka air matanya. Untuk pertama kalinya, Luis menangisi kepergian seorang wanita yang baru ia temui beberapa saat.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Semua teman dan kerabat dari keluarga Wisnu kembali berkumpul untuk menghadiri pemakaman putri pertama keluarga Wisnu yang meninggal akibat ledakan gas di rumah yang menyebabkan sebagian tubuhnya hancur.


Vina kini menjadi pusat perhatian, ucapan belasungkawa terus terucap dari mulut orang-orang yang berada di samping Vina dan memintanya untuk sabar dalam menghadapi cobaan karena belum lama ini Vina kehilangan kedua orang tuanya, dan kini ia telah kehilangan saudara kembarnya.


Luis hanya diam saat melihat jasad Vira yang di makamkan, ia ingin sekali melihat wajah Vira untuk terakhir kalinya tapi pihak rumah sakit melarangnya karena kondisi wajah Vira sudah hancur parah.


Nek Nina pun berada di samping Luis, di dalam gendongan wanita itu ada Rafael dan tengah tertidur pulas.


Luis melihat sosok bayi yang sangat dekat dengannya, "Biar aku gendong," pinta Luis.


Nek Nina langsung memberikan Rafael kepada Luis untuk di gendong, Luis menatap sendu dan hangat kepada bayi di dalam pangkuannya. Ia mulai memikirkan nasib Rafael yang kini sudah tidak memiliki seorang ibu.


"Nona Vira berpesan, ia ingin jika anda mengurus Rafael setelah kepergiannya." Ucap Nek Nina kepada Luis.

__ADS_1


Mendengar hal itu Luis tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, lalu tatapan langsung tertuju pada sosok Rafael.


"Rafael, aku berjanji akan mengurus dan membesarkan mu seperti anak ku sendiri." Ucap Luis yang mencium kening bayi itu.


__ADS_2