Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 18


__ADS_3

Luis berjalan masuk ke dalam sebuah restoran, ia berjalan ke sebuah meja yang sudah ada Vina menunggu kedatangannya.


"Aku sudah memesan beberapa makanan kesukaan mu, Mas." Ucap Vina dengan senyuman manis.


"Iya, dimana Anggun?" tanya Luis yang tidak melihat keberadaan Anggun.


"Anggun ku titipkan dulu di pengasuh bayi," ucap Vina.


"Kau jangan sering-sering menyuruh pengasuh untuk merawat Anggun, harusnya kau yang lebih banyak memegang peran penting dalam merawat Anggun," ucap Luis memberikan teguran.


"Iya Mas," jawab Vina.


Lalu seorang pelayan datang dengan membawakan beberapa makanan untuk Luis dan juga Vina, dengan senang Vina memakan makanan.


Ia sesekali melirik ke arah Luis yang tengah makan dengan santai, "Mas, selama menikah kita belum pernah bulan madu." Ucap Vira.


Luis yang mendengar perkataan istrinya hanya diam, "Untuk apa bulan madu? Lagi pula aku masih memiliki banyak urusan penting, jika kau ingin liburan. Lakukanlah sendiri, untuk biayanya aku yang akan membayarnya." Jawab Luis.


"Baik, Mas."


Vina kembali memakan makanan, meski ia sangat kesal dengan jawaban yang di berikan oleh Luis.


"Aku sudah selesai, dan aku harus pergi karena masih ada pekerjaan yang harus ku selesai kan," ucap Luis yang menyimpan alat makan miliknya.


"Tapi Mas, kau baru saja datang dan makanan mu belum selesai. Kau tidak bisa pergi begitu saja, aku sudah menunggu mu dari tadi." Protes Vina yang kesal melihat sikap acuh Luis kepadanya.


"Vina, sebaiknya aku ingat kata-kata dari ku." Bisik Luis yang langsung membuat Vina bungkam seketika.


"Baiklah, tapi biarkan aku ikut denganmu ke kantor. Aku bosan di rumah dan aku ingin lebih memiliki waktu bersama mu," ucap Vina dengan mata yang penuh harap.


"Sebaiknya kau jaga saja Anggun," ucap Luis dengan ekspresi yang acuh.

__ADS_1


"Tapi Anggun sudah di urus oleh pengasuh dan juga Mama, jadi tidak masalah. Lagi pula hanya sekali ini saja aku ikut ke kantor mu dan lagi pula selama kita menikah aku belum pernah ikut ke perusahaan mu," ucap Vina dengan senyuman penuh harap.


"Baiklah, tapi kau jangan menggangguku." Ucap Luis memperingatkan.


"Baik Mas, aku jamin aku tidak akan menggangu mu." Jawab Vina.


Vina dan Luis langsung bergegas pergi dari restoran tersebut, Vina sangat senang bisa berjalan berdua bersama dengan suamiku. Di tambah lagi tangannya yang menggandeng tangan Luis membuat semua tatapan orang-orang melihatnya, yang pastinya para wanita akan menjadi iri kepadanya karena mendapatkan seorang suami yang sangat tampan dan juga kaya raya.


"Apa kau bisa melepaskan tangan ku?" tanya Luis yang merasa kurang nyaman.


"Tidak, lagi pula ini hal wajar. Kita suami istri," Ucap Vina dengan perasaan yang masih senang.


Luis yang enggan untuk berbicara lagi memilih untuk membiarkan Vina kali ini, kini Vina berada di kantor milik suaminya. Ia melihat setiap dekorasi ruang kerja Luis yang dominan lebih ke warna dark blue, dengan sedikit hiasan di setiap sudut ruangan.


Hingga Sella masuk ke ruang kerja Luis untuk memberikan berkas dan tanpa mengetuk pintu. Vina yang kesal melihat Ke lancangan Sella ingin sekali menegur dan memaki wanita itu tapi ia tidak mungkin memaki Sella di depan Luis yang akan membuat Luis semakin membencinya.


"Pak Luis, ini adalah beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani," ucap Sella dengan tangan yang menyerahkan dokumen tersebut ke Luis.


Setelah selesai Sella langsung bergegas pergi, ia merasa kurang nyaman dengan tatapan dingin dan aura membunuh yang keluar dari tubuh Vina.


Suara ponsel Vina pun mulai berbunyi dan rupanya itu adalah pengasuh anaknya.


"Ada apa?"


"Maaf Nyonya, Nona Anggun dari tadi menangis terus dan tidak bisa berhenti menangis. Sepertinya beliau ingin bertemu dengan anda."


"Kau ini bagaimana sih? Aku membayar mu untuk mengasuh anak ku tapi kau tidak becus sama sekali."


"Maaf Nyonya, tapi sepertinya Nona Anggun ingin bertemu dengan anda. Bahkan Nyonya besar pun tidak bisa membujuk Anggun agar berhenti menangis."


"Aku sedang sibuk dan tidak bisa pulang, aku tidak mau tahu. Kau urus anak itu dan jangan sampai dia menangis."

__ADS_1


"Tapi Nyonya bagaimana caranya?"


"Pake nanya lagi? Pikir dong sendiri, kau ini seorang pengasuh harus sudah tahu apa yang harus kau lakukan."


Vina langsung mematikan panggilan dari pengasuh Anggun, "Siapa yang menelpon?" tanya Luis.


"Ini teman ku, dia meminta ku untuk meminjamkan uang kepadanya," jawab Vina bohong karena jika Luis tahu yang menelpon barusan adalah pengasuh Anggun, pasti pria itu akan langsung menyuruhnya untuk segera pulang.


"Lalu kenapa kau tidak pinjamkan saja?" tanya Luis yang kembali melihat ke arah laptop miliknya.


"Dia sudah sering berhutang kepada ku dan tidak pernah membayarnya, jadi aku tidak mau memberikannya pinjaman lagi." Jawab Vina.


Luis kembali diam, ia kembali memfokuskan dirinya pada laptop di depan matanya. Vina sangat takjub dengan penampilan Luis yang sedang bekerja, suaminya sangatlah tampan dan juga keren.


"Suami ku sangat tampan, aku sangat beruntung bisa menikah dengan pria seperti Luis. Dan yang pasti semua wanita akan iri melihat ku mendapatkan pria setampan dan sekaya Luis."


Luis yang menyadari tengah di perhatikan oleh Vina merasa tidak nyaman, "Vina, sebaiknya kau pulang untuk mengurus Anggun. Lagi pula aku masih memiliki banyak pekerjaan dan akan pulang malam," ucap Luis.


"Gak papa Mas, aku akan menunggu mu." Jawab Vina.


"Vina, Anggun itu merupakan anakmu dan dia juga butuh perhatian darimu. Dan sebaiknya kau pulang dulu," ucap Luis.


"Tapi Mas, Anggun sudah ada yang mengurus kok. Jadi kamu tenang saja," jawab Vina.


"Vina, aku tidak suka dengan wanita yang meninggalkan kewajibannya dalam mengurus seorang anak." Luis langsung menatap dingin ke arah Vina.


Wanita itu hanya bisa tersenyum hambar, "Baik Mas, aku akan pulang sekarang. Ku harap kau jangan pulang lama-lama," ucap Vina yang mulai bangkit dari tempat duduknya.


"Iya, supir akan mengantarmu pulang." Ucap Luis yang kembali fokus ke laptop miliknya.


Vina dengan perasaan kesal dan marah hanya bisa menahan emosinya di dalam hati, untuk kesekian kalinya Luis kembali mengabaikannya dan mengacuhkannya meski ia sudah beberapa kali mencoba untuk merayu dan menggoda Luis.

__ADS_1


__ADS_2