Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 9


__ADS_3

"Apa 1 Minggu?" tanya Vira yang terkejut saat mengetahui jika dirinya sudah koma selama 1 Minggu.


"Iya Bu," jawab Nila.


"Lalu bagaimana dengan bisnis ku?"


"Bu Lia yang mengurusnya sementara ini," jawab Nila.


"Syukurlah, aku ingin bertemu dengan anak ku." Pinta Vira.


"Baik Bu, saya akan bicara dengan perawat agar bisa membawa bayi anda ke sini."


Nila langsung bergegas pergi meninggalkan ruang rawat Vira untuk mencari perawat, Vira kini hanya bisa diam dengan pikiran yang memikirkan nasib anaknya kelak, ia sama sekali tidak pernah menikah dan tidak memiliki surat nikah. Bagaimana bisa ia membuat akta kelahiran untuk anaknya kelak dan bagaimana nasib pendidikan anaknya?


Semua hal itu langsung menjadi pikirannya saat ini, keadaannya berada di dua sisi yang berbeda antara senang dan bingung. Senang karena memiliki seorang anak yang lucu tapi bingung dengan nasib anaknya kelak.


Hingga pintu kamar rawat terbuka menampilkan sosok perawat, Vira langsung melihat anaknya dan menggendongnya secara perlahan.


Ia bisa melihat anaknya yang sangat mungil dan juga tampan, senyuman penuh rasa bahagia terpancar di wajahnya. Perasaan bingung dan kacau pun seketika sirna saat melihat wajah putra kecilnya, tapi di saat itu pula pikiran Vira kembali teringat akan sosok Luis yang merupakan ayah biologis dari putranya.


"Pasti Vina sudah bahagia bersama dengan Luis," ucap Vira yang terdiam dengan senyuman hambar.


Ia yang harus menjadi menanggung penderitaan atas kesalahan Vina tapi wanita itu yang bahagia, bagi Vira kehidupannya sangatlah tidak adil. Selama ini Vina selalu mendapatkan apa yang ia mau, tapi dirinya? Tidak pernah sama sekali, bahkan kedua orang tuanya tidak pernah mengatakan pada dunia jika mereka memiliki 2 orang anak.


Bahkan mirisnya karena keegoisan Vina, anak yang ia kandung harus menjadi korban. Bahkan anaknya sama sekali tidak memiliki masa depan yang cerah karena ia tidak memiliki seorang ayah.


Di sela-sela Vira menggendong anaknya, Satria masuk ke ruang rawat Vira dengan membawa buah-buahan segar untuk wanita itu.

__ADS_1


"Kau sudah sadar?" tanya Satria dengan senyuman di wajahnya.


"Pak Satria, anda datang? Saya sangat berterimakasih atas bantuan anda yang telah menolong saya waktu itu," ucap Vira yang berterimakasih kepada Satria.


"Sama-sama, saya sangat senang jika anda dan bayi anda selamat," jawab Satria.


Vira tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya kepada putra kecilnya, "Apa Nona Vira sudah menentukan nama untuk bayi anda?" tanya Satria yang penasaran dengan nama apa yang akan di berikan Vira untuk bayinya.


Vira terdiam saat di tanya tentang nama, ia masih belum menentukan nama yang cocok untuk bayinya. Tapi sebuah nama terpikir oleh Vira, "Rafael.. Namanya Rafael," ucap Vira dengan mata yang tertuju ke arah anak yang tengah ia gendong.


"Nama yang bagus," jawab Satria dengan mata yang tertuju pada sosok Vira.


Lalu perawat pun datang dan meminta agar Rafael di bawa kembali ke ruang bayi karena ia masih kecil terlebih lagi Rafael lahir secara prematur.


Kini suasana di dalam ruang rawat kembali sepi, Vira hanya bisa diam dan bingung harus memulai percakapan darimana. Begitu juga dengan Satria, pria itu juga memilih diam dan bingung harus berbicara apa.


"Baik, saya kembali ucapkan terimakasih atas pertolongan Pak Satria tempo hari, jika anda tidak menolong saya mungkin saya tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya," ucap Vira yang kembali berterimakasih kepada Satria.


"Sama-sama dan semoga anda cepat sembuh, kalau begitu saya pamit dulu."


Satria langsung melenggang pergi begitu saja, Vira hanya bisa melihat punggung pria itu yang menghilang di balik pintu.


Sudah beberapa minggu berlalu dan Vira pun kembali menjalankan kehidupannya seperti biasa, tapi kabar kehamilannya pun di ketahui oleh warga sekitar yang membuatnya di jadikan bahan omongan oleh orang-orang.


Meski begitu Vira berusaha untuk tetap diam dan menutup kedua telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar gosip buruk tentangnya.


Bahkan tidak sedikit karyawannya yang tiba-tiba mengundurkan diri secara mendadak, meski begitu Vira tidak terlalu mempermasalahkannya karena masih ada beberapa orang yang mau bekerja di tempatnya.

__ADS_1


Vira yang mulai bingung dengan masa depan Rafael, ia yang tidak pernah menikah tidak akan bisa membuat akta lahir untuk anaknya dan jika besar nanti Rafael akan kesulitan untuk masuk ke sekolah.


Dan yang lebih buruknya anaknya akan di bully oleh anak-anak lain karena tidak memiliki seorang ayah.


Lia berjalan mendekat ke arah Vira yang seperti sedang memikirkan banyak hal, "Bu," Panggil Vira dengan nada lembut.


"Iya Lia, ada apa?" tanya Vina yang tersadar dari lamunannya.


"Maaf jika saya lancang, tapi sepertinya ibu sedang memikirkan suatu hal yang berat jika boleh anda bisa bercerita kepada saya, mungkin saya bisa membantu mencarikannya solusi dari permasalahan Ibu," ucap Lia.


Vira tersenyum saat mendengar perkataan dari Lia, sosok Lia memang sangat peka akan hal-hal yang tengah di alami oleh Vira. Ia sosok yang sangat dewasa dan pengertian, Vira pun sangat menyukai kepribadian Lia yang sangat dewasa.


Vira mulai menarik nafas dan membuangnya dengan kasar, "Aku belum pernah menikah dan sudah memiliki seorang anak, aku senang dengan kehadirannya tapi aku bingung dengan masa depannya. Anak ku kelak pasti akan kesulitan untuk mendapatkan akta kelahiran karena aku sama sekali tidak memiliki suami," ucap Vira yang mengeluarkan unek-unek di hatinya.


"Saya tahu pasti akan sangat sulit, tapi saya yakin putra anda bisa sekolah."


"Tapi bagaimana caranya?"


"Cara yang paling baik dengan Ibu Vira menikah dengan pria lain yang mau menerima keadaan anda," ucap Lia.


"Tapi itu tidak mungkin, jika aku menikah sekarang pasti akan menjadi pertanyaan karena tanggal kelahiran Rafael lebih awal dari tanggal pernikahan ku," ucap Vira dengan nada pasrah.


"Mungkin ini terdengar salah, tapi saya memiliki kenalan yang bisa membantu anda untuk memalsukan tanggal pernikahan di kartu nikah," ucap Lia.


Vira terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari Lia, "Tapi jika pun bisa, siapa pria yang mau menikahi ku? Tidak ada, semua orang di kampung ini sudah memberi ku cap sebagai wanita murahan yang tidak tahu malu," ucap Vira dengan senyuman hambar saat mengingat semua gosip buruk tentangnya.


"Mungkin saat ini belum, tapi bisa saja sebentar lagi Anda akan bertemu dengan orang yang tepat."

__ADS_1


Vira pun tersenyum tipis, harapannya untuk bisa menikah dengan seorang pria hanyalah sebuah impian yang tidak akan pernah ia gapai, karena ia sudah memiliki cap kotor di mata orang-orang.


__ADS_2