
Luis berjalan pelan memasuki rumahnya, ia mendengar suara tawa para wanita yang bergema di seluruh ruangan. Luis bisa melihat ibu mertuanya yang sedang bermain bersama Anggun, "Ma, apa kau sudah lama?" tanya Luis secara tiba-tiba yang membuat Sinta sedikit terkejut.
"Tidak, baru sekitar 1 jam yang lalu. Kau baru pulang dari kantor? Tumben, bukankah biasanya kau pulang selalu malam?" tanya Sinta.
"Pekerjaan ku di kantor tidak banyak jadi aku pulang lebih awal," jawab Luis yang duduk di depan ibu mertuanya.
"Oh, begitu yah." Jawab Sinta yang kembali mengalihkan pandangannya kepada Anggun.
"Aku tadi bertemu dengan seorang wanita yang sangat unik," ucap Luis dengan mata yang menatap ke arah Sinta.
Mendengar hal itu Sinta sedikit terkejut tapi ia berusaha untuk tetap bersikap tenang, "Apa kau tidak berpikir dua kali membicarakan wanita di depan ibu dari istri sendiri!" Maki Sinta dengan ekspresi kesal.
"Iya, tapi aku hanya ingin memberitahu mu saja. Wanita itu sangat unik dan apa Mama tahu apa yang unik darinya?" tanya Luis yang melihat ke arah Sinta.
Sinta diam dan tidak bisa mengatakan apapun, perasaan terkejut mulai membuatnya menjadi orang bodoh.
"Jangan membicarakan yang tidak masuk akal, sebaiknya kau lebih memperhatikan Vina dan juga Anggun. Aku tidak suka jika putri ku di sakiti oleh mu," ucap Sinta yang memberikan peringatan kepada menantunya.
"Tentu, aku akan menjaga putri mu dengan baik." Jawab Luis.
Lalu Vina datang dengan membawa beberapa kudapan untuk Ibunya, di saat itu pula Luis langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Mas, mau kemana?" tanya Vina dengan raut wajah ramah.
__ADS_1
"Aku mau istirahat," jawab Luis yang pergi begitu saja meninggalkan Vina.
Vina menatap Luis dengan wajah yang penuh rasa kecewa, Sinta bisa melihat ekspresi Vina yang seperti tengah menahan amarahnya.
"Apa Luis selalu memperlakukan mu seperti itu?" tanya Sinta.
"Ya begitulah, pria itu sangat sulit di taklukkan. Hatinya itu seperti sebuah es yang sangat sulit di cairkan, aku sudah berusaha sebisa ku untuk mencoba membuatnya jatuh cinta kepada ku tapi hasilnya tetap sama, ia tetap dingin dan seakan tidak menganggap keberadaan ku." Ucap Vina kesal.
"Jika seperti itu terus, apa kau tidak memiliki niatan untuk berpisah dengan Luis? Kebahagiaan mu juga penting, Nak." Ucap Sinta memberikan saran kepada Vina.
Tapi saran yang di berikan Sinta terdengar aneh dan membuat Vina marah, "Apa maksudmu, menyuruh ku untuk meninggalkan Luis? Aku mendapatkan Luis dengan susah payah dan Mama malah menyuruh ku untuk meninggalkan nya begitu saja?" tanya Vina dengan kedua alis yang mengkerut.
"Bukan begitu sayang, Mama hanya ingin melihat mu bahagia. Itu saja, tidak lebih. Memangnya orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, begitu juga Mama." Ucap Sinta yang berusaha menjelaskan.
Sinta terdiam saat mendengar perkataan dari Vina, "Tuh kan, Mama aja diem itu tandanya Mama gak mampu buat biayain hidup aku. Jadi sebaiknya Mama jangan pernah nyuruh aku buat pisah sama Luis," ucap Vina yang langsung mengambil kudapan di atas meja.
"Iya Nak, maaf." Jawab Sinta yang bingung harus mengatakan apa lagi.
Selama di rumah Vina, Sinta terus menjaga Anggun dan cucu perempuannya itu sangatlah rewel dan pastinya tidak seperti Rafael yang sangat tenang saat di asuh.
"Ma, bisa gak sih ngurus Anggun yang bener. Sumpah telinga aku sampai sakit denger tangisan anak itu, Mama bisa gak sih?" tanya Vina kesal karena Sinta sama sekali tidak bisa di andalkan.
"Vina, mungkin Anggun pengen kamu gendong atau dia lapar, sebaiknya aku beri dulu dia ASI." Ucap Sinta.
__ADS_1
"Mama buatin aja dia susu yang ada di dapur," ucap Vina malas.
"Maksudnya susu formula? Kok kamu malah ngasih Anggun susu kek gitu sih? Bukankah ASI kamu juga gak bermasalah," ucap Sinta.
"Iya memang enggak, tapi coba Mama pikir. Jika aku ngasih dia ASI secara langsung dari ku, p*yudara ku akan kendor dan gak bagus lagi, Mama harusnya mikir ke sana dong." Jawab Vina.
"Kamu malah mikirin bentuk tubuh kamu, kamu itu harusnya mikirin kebaikan Anggun." Ucap Sinta kesal.
"Ma, susu kaleng juga cocok buat Anggun jadi gak perlu ada yang di masalahin. Jika Mama gak mau bikinin Anggun susu ya udah bilang aja," ucap Vina lalu Vina memanggil pengasuh Anggun untuk membuatkan Anggun sebotol susu.
Sinta hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat sikap Vina yang seperti ini, "Vina, kau harus banyak belajar lagi dalam mengurus anak." Ucap Sinta.
Perkataan Sinta membuat Vina sedikit jengkel, "Apa lagi sih Ma? Aku belajar lagi ngurus anak, memangnya apa yang salah dari aku. Kau lihat kan, Anggun saja tumbuh dengan sehat karena di urus oleh ku. Lalu apa yang salah? Enggak ada Ma," ucap Vina yang mulai jengkel.
Pengasuh pun datang dengan membawa sebotol susu kepada Vina, lalu Vina menyuruh pengasuh itu untuk memberikan susu kepada Anggun.
"Ma, sebaiknya Mama pulang aja. Aku mau pergi keluar dan bentar lagi Anggun juga tidur," ucap Vina.
"Baiklah, Mama pulang dulu. Kamu jangan kesehatan yah," ucap Sinta yang mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Iya,"
Sinta langsung bergegas pergi meninggalkan rumah Vina, ia merasa sangat kesal dan sedih melihat sikap anaknya yang semakin keterlaluan. Ia kira sikap Vina yang seperti itu hanya akan terjadi saat ia kecil saja, karena Sinta selalu berpikir jika setelah besar Vina akan lebih bersikap rendah hati dan tidak arogan tapi rupanya ia salah.
__ADS_1