
Luis langsung menggebrak meja yang membuat pria di depannya langsung terdiam dengan perasaan sedikit takut.
"Aku tidak mau tahu, cari informasi yang lebih tentang wanita itu. Latar belakangnya, kedua orang tuanya, dimana ia tinggal sebelum di Jakarta dan semua tentang masa lalunya, itu yang ku mau." Ucap Luis dengan tatapan mata yang serius.
"Baiklah, aku akan mencari informasi yang kau inginkan itu." Jawab Pria itu yang langsung beranjak pergi meninggalkan Luis.
Kini Luis hanya memandangi dokumen berisikan informasi tentang Vira, jadi selama ini wanita itu belum menikah tapi kenapa Vira malah mengaku sudah memiliki seorang suami Luis. Apa dia takut ketahuan oleh orang-orang jika dirinya memiliki seorang anak yang lahir di luar nikah.
Luis mulai berpikir keras, apa sosok Vira ada hubungannya dengan Vina tapi bagaimana ia bisa mencari bukti tentang hubungan mereka berdua karena tidak mungkin ada dua orang yang memiliki wajah sama tanpa memiliki hubungan darah.
Suara dering ponsel Luis kembali berbunyi, rupanya itu dari Vina yang menyuruh Luis untuk pulang tapi Luis menolak dengan alasan masih memiliki pekerjaan di kantor.
Vina hanya bisa menahan kesal saat mendengarkan Jawa dari suaminya, ia terus berusaha sekuat tenaga untuk membuat Luis jatuh cinta kepadanya tapi Luis sama sekali tidak pernah membuka hatinya untuk Vina.
Vina yang kesal langsung membawa tas miliknya dan menyambar kunci mobil yang berada di atas laci, ia ingin pergi ke mall dan menyalurkan semua amarahnya dengan berbelanja.
"Kamu mau kemana?" tiba-tiba suara Maria menggema di seluruh ruangan yang membuat Vina langsung terdiam dengan raut wajah kesal.
"Aku mau pergi belanja," jawab Vina.
"Belanja? Bukankah kau baru saja belanja untuk apa belanja lagi," ucap Maria yang sedikit kesal dengan kelakuan menantunya.
"Ah, Mama. Aku bukan belanja untuk diri ku tapi keperluan Anggun, Mama tahu kan kebutuhan Anggun itu banyak." Ucap Vina yang berbohong.
"Oh, kalau begitu kau segera pergi jangan lupa beli semua kebutuhan Anggun." Ucap Maria yang pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.
Vina hanya bisa menghela nafas lega, wanita tua itu sangatlah mengganggunya dan dengan keberadaan Maria membuat Vina merasa tidak bebas dalam menghamburkan uang milik Luis.
__ADS_1
Kini Vina berada di sebuah mall, ia terus masuk ke setiap toko pakaian bermerek dan membeli barang-barang yang ia inginkan dengan nominal yang besar.
Di saat Vina tengah berbelanja ia tidak sengaja menabrak seorang pria dengan balutan kemeja berwarna biru muda.
"Maaf," ucap pria itu yang langsung melihat ke arah Vina.
Vina yang kesal langsung melihat ke arah pria itu, seketika matanya langsung membulat sempurna saat melihat pria di depan matanya.
"Vina," ucap Satria saat melihat wanita di depan matanya.
"Kak Satria!" Ucap Vina yang menatap penuh kebencian kepada pria di depannya.
Vina langsung bergegas pergi tapi Satria langsung menahan pergelangan tangan Vina, "Mau apa lagi sih?" tanya Vina dengan penuh emosi.
"Apa kau benar Vina?" tanya Satria memastikan.
"Iya, mau apa?" tanya Vina yang langsung menghempaskan tangan Satria dari tangannya.
"Enggak! Enggak ada lagi yang perlu di bicarakan antara kau dan aku, kita sudah selesai." Ucap Vina yang menahan amarah di hatinya.
Satria langsung menarik tangan Vina dan membawa wanita itu keluar dari mall, ia ingin sekali berbicara dengan Vina sekali saja.
"Lepaskan!" Maki Vina yang langsung menghempaskan tangan Satria.
"Vina, dengarkan aku. Aku minta maaf untuk waktu itu," ucap Satria dengan mata yang menatap Vina.
"Minta maaf? Setelah semua yang kau lakukan kepada ku, baru sekarang kau minta maaf!?" Ucap Vina dengan mata yang menatap tak percaya.
__ADS_1
"Aku minta maaf Vina, aku harap kita bisa bersama lagi seperti dulu. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu lagi, sekarang aku sudah sukses dan aku siap untuk melamar mu," ucap Satria.
"Sudah terlambat, semuanya sudah terlambat. Aku sudah menikah dan memiliki seorang anak, dan hidup ku pastinya sudah bahagia bersama dengan Luis. Dan aku harap kau jangan pernah mengganggu ku lagi," ucap Vina yang memberikan peringatan keras kepada Satria.
Vina yang kesal langsung pergi begitu saja meninggalkan Satria, pria itu hanya bisa menatap sendu wanita yang mulai pergi menjauh darinya.
Vina hanya bisa menahan perasaan kesal di hatinya, perlahan ia mulai kembali menangis ketika mengingat apa yang telah di lakukan Satria kepadanya.
Vina yang ingin menenangkan pikirannya langsung mengemudikan mobilnya ke perusahaan Luis, ia ingin bertemu dengan suaminya.
Di saat Vina membuka pintu ruangan Luis, ia melihat Sella tengah mengelus dada Luis. Vina yang marah langsung berjalan dengan cepat dan menjambak wanita itu.
"Dasar wanita murahan, beraninya kau menggoda suami ku!" Maki Vina yang kesal.
"Arg..." Sella hanya bisa menahan sakit saat tangan Vina menjambak rambutnya, Luis yang melihat hal itu langsung melepaskan tangan Vina dari rambut Sella.
Luis segera menyuruh Sella untuk pergi dari ruangannya, kini Vina dan Luis hanya berdua saja.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Luis dengan sorot mata yang tajam.
"Memaki wanita penggoda itu, ia menggoda mu di saat aku tidak ada." Jawab Vina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau salah paham, Sella sama sekali tidak menggoda ku. Ia hanya memberikan jas ku saja yang kotor oleh air," jawab Luis.
"Pembohong, kau hanya ingin menutupi perselingkuhan mu dengan wanita itu." Ucap Vina yang kesal dengan sikap suaminya.
"Jaga mulutmu Vina," ucap Luis.
__ADS_1
Luis yang jengkel pun langsung bergegas pergi, tapi di saat ia hendak membuka pintu terdengar suara gaduh. Saat Luis membalikkan tubuhnya, ia melihat Vina sudah tergeletak di atas lantai.
Lusi yang sedikit panik langsung membawa wanita itu ke rumah sakit, meski Luis yakin jika Vina hanya melakukan sandiwara untuk membuatnya merasa kasihan saja. Tapi meski begitu Luis tetap pria yang memiliki hati jadi ia membawa Vina pergi ke rumah sakit.