
Vira langsung duduk kembali dengan raut wajah yang kesal seraya menahan tangis, Pak RW pun langsung angkat bicara.
"Bagaimana ibu-ibu, Bu Vira bersedia untuk pindah dari kampung ini tapi beliau ingin salah satu dari kalian untuk membeli rumahnya. Jadi siapa di antara kalian yang bersedia untuk membeli rumah Bu Vira?" tanya Pak RW.
Tapi tidak ada satupun orang berani menjawabnya, mereka lebih diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Pak RW.
"Bagaimana ibu-ibu, bapak-bapak? Apa ada yang berani untuk membeli rumah milik Bu Vira, jika saya lihat rumahnya masih bagus dan halamannya juga luas," ucap Pak RW tapi mereka kembali diam dan tidak menjawab perkataan dari Pak RW.
"Sudahlah Pak tidak perlu di tanya lagi, jika sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan saya pulang dulu," ucap Vira yang langsung bangkit dari tempat duduk.
Vira langsung pergi begitu saja, hatinya masih terasa sakit. Di saat sudah mulai menjauh Vira langsung mengelap air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, apa yang di lakukan oleh Bu Tini dan yang lainnya sungguh sangat keterlaluan karena ia di tuduh habis-habisan tanpa bukti sama sekali.
Vira kini terduduk di tepi telaga yang berada tidak jauh dari desa, hari sudah mulai menjelang malam. Bukan purnama pun mulai bersinar memancarkan cahayanya ke setiap penjuru, Vira kembali menangis hatinya terasa sangat sakit jika mengingat semua perlakuan orang-orang kepadanya.
"Kenapa semuanya selalu menyalahkan ku," ucap Vira dengan nada pelan.
Angin sepoi-sepoi mulai menerpa wajahnya yang memerah, sebuah jas tiba-tiba menutupinya tubuh Vira yang membuat wanita itu langsung menoleh ke belakang.
"Pak Satria," ucap Vira yang langsung menyeka air matanya dengan kasar.
"Em.. Sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat," ucap Satria yang melihat ke arah Vira.
"Tidak, apa yang sedang Pak Satria lakukan di sini?" tanya Vira.
"Harusnya saya yang bertanya seperti itu kepada Nona Vira, di tengah malam seperti ini anda malah datang ke tempat sepi dan sangat bahaya jika seorang wanita berkeliaran malam-malam di tempat sepi seperti ini," ucap Satria.
"Emm.. Saya hanya ingin menghirup udara segar," jawab Vira bohong.
"Kalau begitu, mari saya antar pulang. Saya yakin jika orang-orang yang ada di rumah anda pasti khawatir karena jam segini anda masih belum pulang," ucap Satria.
"Baik, terimakasih." jawab Vira.
Di dalam mobil Vira hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun, meski begitu Satria sudah tahu apa yang telah di alami oleh Vira. Tapi Satria tidak berani bertanya karena ia yakin hal itu malah akan kembali melukai hati Vira.
Sesampainya di rumah Vira, Satria langsung pamit pulang dengan sopan Vira langsung mengucapkan terimakasih karena telah mengantarkannya pulang.
__ADS_1
Di dalam rumah Vira bisa melihat Lia yang tengah duduk, "Bu Vira sudah pulang?" tanya Lia yang buru-buru bangkit dari tempat duduk.
"Iya, bagaimana Rafael apa dia rewel saat saya pergi?" tanya Vira.
"Tidak Bu, Rafael tidak rewel. Lalu bagaimana musyawarah nya?" tanya Lia yang ingin mengetahui hasil dari perundingan tersebut.
"Saya akan pergi dari kampung ini," ucap Vira.
"Ibu serius?" tanya Lia dengan tatapan terkejut.
"Iya tapi jika salah satu dari mereka membeli rumah ku secara cash, baru aku akan pergi dari kampung ini." Jawab Vira dengan kaki yang mulai berjalan menuju sofa.
"Jadi Bu Vira tidak akan pergi untuk saat ini?" tanya Lia.
"Iya tidak akan, kau pikir saja. Mereka menyuruh ku untuk pergi dari sini dan meninggalkan rumah yang ku beli dengan harga mahal. Aku juga tidak mau rugi secara finansial," ucap Vira kesal.
"Bu Tini dan gerombolan nya memang suka seperti itu, mereka selalu tidak suka dengan perempuan muda dan cantik," ucap Lia.
"Iya, aku tidak habis pikir dengan pola pikir mereka semua."
Perlahan Vira mulai memejamkan matanya tapi tiba-tiba bayangan Luis muncul di benaknya yang membuat Vira langsung terbangun.
"Kenapa pria itu muncul di pikiran ku?" ucap Vira dengan bingung.
Entah kenapa pikirannya saat ini penuh dengan Luis, segala ingatannya tentang malam pertama yang ia lakukan dengan pria itu. Segalanya seperti mimpi, pria itu memperlakukannya dengan lembut saat di atas ranjang.
Sudah hampir 1 tahun ia pergi dari rumah dan selama itu pula Vira merasakan perasaan rindu kepada kedua orang tuanya, meski mereka terlihat pilih kasih tapi Vira akui jika keduanya juga menyayanginya hanya saja mereka selalu melakukannya tanpa di ketahui oleh Vina.
Terdengar suara tangisan Rafael yang membuat Vira langsung sadar dari lamunannya, ia segera menenangkan bayi kecilnya.
"Kau pasti lapar yah, sayang?" tanya Vira yang langsung memangku Rafael dan memberikannya ASI.
Vira bisa melihat bayi kecilnya tengah menyusu kepadanya dan hal itu mengingatkannya kepada Luis yang menempelkan bibirnya tepat di kedua ujung buah persik nya.
Vira kembali tersadar saat melihat Rafael yang sudah mulai tertidur lelap, ia langsung kembali menidurkan tubuh bayi kecilnya.
__ADS_1
Di saat Vira hendak tidur tiba-tiba ada pesan masuk ke handphonenya dan rupanya itu nomor Sinta yang ingin menanyakan kabar Vira. Kemudian handphone Vira langsung bergetar saat tiba-tiba Sinta menelpon Vira, ada perasaan ragu saat ingin mengangkat panggilan dari ibunya.
Dengan menarik nafas Vira langsung mengangkat panggilan dari ibunya.
"Hallo?"
"Vira, bagaimana kabarmu?"
"Kabar ku baik, ada apa Ma?"
"Mama sangat merindukanmu, maaf atas kejadian waktu itu."
"Tidak apa-apa, aku juga paham."
"Iya, jika bisa kau pulang lah nak. Ayah dan Mama sangat merindukanmu."
"Mungkin aku tidak akan pulang, lagi pula ini sudah sesuai dengan perjanjian kita waktu itu."
"Perjanjian? Jangan hiraukan itu, perjanjian itu hanyalah untuk menyenangkan Vina tidak lebih, kau tetap putri ku. Dan jika kau ingin pulang, pintu rumah ini akan tetap terbuka untuk mu sayang."
"Lalu bagaimana dengan Vina?"
"Jangan pikirkan dia, Vina sudah memiliki keluarga."
"Tapi jika dia tahu aku pulang, bagaimana dengan penyakitnya. Vina pasti akan jatuh sakit lagi seperti dulu saat ia tahu jika kalian memberikan ku hadiah."
"Iya, tapi bagaimana jika Mama dan ayah mu ke sana? Kami sangat merindukanmu."
"Tentu saja boleh, tapi bagaimana kabar Vina? Apa dia bahagia?"
"Emm.. Begitulah dan Vina juga sudah punya anak."
"Sungguh? Dia sudah punya anak?"
"Iya Nak, kalau begitu Mama matiin dulu. Nanti kau kirim alamat mu, setelah kerjaan Ayahmu selesai. Kami akan datang berkunjung."
__ADS_1
"Baik."