
Vira mulai sibuk dengan masakan miliknya, hari ini ia memilih memasak soto sapi, telur goreng dan juga nasi putih.
Luis hanya bisa bersandar di tembok dengan mata yang melihat ketelatenan Vira dalam memasak makanan, untuk pertama kalinya ia melihat seorang wanita sibuk memasak untuknya karena biasanya Vina selalu meminta para pelayan untuk memasak makanannya.
Vira mulai mencicipi soto buatannya, menurutnya rasanya sangat enak tapi Vira belum tahu bagaimana menurut Luis. Lalu Vira mengambil satu sendok air soto dengan sendok bekas bibirnya dan menyuruh Luis untuk mencicipinya.
Luis dengan lembut memegang tangan Vira yang tengah memegang sendok, lalu Luis mencicipinya soto buatan Vira yang sangat enak.
"Bagaimana rasanya?" tanya Vira.
"Rasanya sangat enak," ucap Luis.
"Syukurlah, Pak Luis bisa tunggu di meja makan. Sebentar lagi makanannya siap," ucap Vira.
"Baik."
Luis memegangi bibirnya yang tadi mencicipi soto buatan Vira dengan menggunakan sendok yang sama dengan wanita itu, dan secara tidak langsung itu merupakan ciuman.
Vira mulai memasukkan soto buatannya pada sebuah mangku berukuran besar, tak lupa Vira juga menyimpan telur buatannya pada sebuah piring dan juga nasi.
Vira membawa satu persatu masakannya ke atas meja makan, Luis hanya diam dengan tatapan mata yang takjub saat melihat masakan buatan Vira.
"Maaf membuat Pak Luis menunggu lama," ucap Vira yang melihat jam sudah menunjuk pukul 18.00 WIB.
"Tidak masalah, saya yang harus meminta maaf karena membuat Nona Vira kerepotan harus memasak makanan untuk saya." Ucap Luis dengan mata yang menatap langsung ke arah Vira.
"Tidak masalah, ini sebagai tanda terimakasih saya kepada Pak Luis."
Lalu Vira langsung duduk di depan Luis, mereka berdua saling berhadapan. Vira dengan telaten mengambilkan nasi dengan soto dan juga telur untuk Luis, "Terimakasih, Nona Vira." Ucap Luis yang nampak senang saat mendapatkan perhatian dari Vira.
Vira dan Luis pun makan bersama, hanya keheningan yang menyelimuti keduanya. Yang terdengar hanyalah suara sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring, keheningan itu membuat Vira semakin gugup dan juga canggung.
__ADS_1
Berbeda dengan Vira, Luis nampak menikmati makanan yang di masak oleh Vira. Sosok Vira yang cantik dan juga pintar memasak, bagi Luis itulah sosok wanita yang sempurna.
"Makanan buatan Nona Vira sangatlah enak," ucap Luis yang langsung memuji makanan Vira.
"Terimakasih, Pak Luis. Anda terlalu melebih-lebihkan," ucap Vira dengan wajah yang mulai memerah.
"Tidak tapi ini fakta, makanan anda sangatlah enak. Mungkin ini makanan terenak yang saya makan selama ini," ucap Luis.
"Anda terlalu sering bercanda, bahkan makanan yang saya masak tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan makanan restoran kelas atas," ucap Vira yang kembali memakan makanannya.
"Ini bukan soal harganya, memang masakan restoran bintang lima tidak perlu di ragukan lagi soal rasa. Tapi ada yang tidak di miliki oleh masakan restoran bintang lima," ucap Luis yang menggantungkan kata-katanya.
"Apa itu?" tanya Vira dengan penasaran.
"Ketulusan mereka dalam memasak makanan, mereka memasak hanya sekedar karena prioritas pekerjaan. Tapi berbeda denganmu, kau memasak dengan perasaan tulus di hatimu dan itu semua terlihat dari raut wajahmu selama memasak." Ucap Luis.
Perkataan Luis membuat Vira langsung salah tingkah, ia hanya bisa tersenyum dan menyembunyikan perasaan malu nya.
"Terimakasih, Pak Luis." Jawab Vira.
Luis langsung meminta Vira untuk menambahkan nasi dan juga lauk pauk yang lainnya, hari ini Luis makan makanan sangat banyak bahkan lebih banyak dari porsi makannya seperti biasa.
"Makanan mu sangat enak, aku bahkan makan sangat banyak." Ucap Luis.
"Baguslah, setidaknya makanan ini tidak terbuang." Jawab Vira yang mulai membereskan piring kotor.
Luis hanya diam dan memperhatikan Vira yang tengah membersihkan piring-piring kotor, pria itu tersenyum tipis saat melihat wanita itu tengah mencuci piring.
Setelah Vira selesai, ia kembali berjalan ke arah Luis dan duduk di depan pria itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB, tapi Luis belum menunjukkan tanda-tanda ingin pulang. Pria itu seperti betah tinggal di rumah Vira yang membuat Vira merasa kurang nyaman karena Luis adalah suami dari adiknya.
__ADS_1
"Dari tadi aku tidak melihat Rafael, dimana dia?" tanya Luis yang baru sadar jika Rafael tidak ada.
"Rafael sedang berada di rumah Neneknya," jawab Vira.
"Nenek? Maksudnya ibumu?" tanya Luis.
"Iya," jawab Vira.
"Oh, begitu yah. Sayang sekali, aku sangat ingin bertemu dengan Rafael." Ucap Luis.
Vira langsung terdiam sesaat ketika mendengar perkataan dari Luis, hari pun mulai menjelang malam dan selama itu pula Luis dan Vira saling berbicara tentang diri mereka masing-masing.
Meski Vira tidak mengungkapkan identitas aslinya kepada Luis, Vira hanya menceritakan masa-masa indahnya saat bersama dengan Rafael dan begitu juga dengan Luis.
Ia menceritakan tentang dirinya hingga bagaimana ia bisa berada di puncak bisnis, dan perbicangan itu pun membuat keduanya tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB.
"Rupanya hari sudah sangat malam, saya permisi pulang dulu. Nona Vira," ucap Luis yang mulai bangkit dari sofa.
"Baik, hati-hati di jalan Pak Luis." Ucap Vira yang menatap ke arah Luis.
"Baik, saya sangat senang dengan hari ini. Terimakasih telah menjadi teman bicara saya untuk hari ini," ucap Luis yang kini berada di depan pintu keluar.
"Sama-sama, saya ucapkan juga terimakasih karena telah menemani saya." Ucap Vira.
"Baik, kalau begitu saya pulang dulu. Sampai jumpa lagi, Nona Vira." Ucap Luis yang mulai keluar dari rumah Vira dan segera masuk ke dalam rumah.
Vira hanya diam di depan pintu keluar dengan mata yang melihat kepergian mobil Luis yang mulai menjauh dari rumah.
Kini Vira mulai masuk ke dalam rumah, saat ia kembali masuk ke dalam rumah. Seperti ada sesuatu yang hilang, rumahnya kembali sepi seperti sedia kala.
Kepergian Luis seakan membawa kehangatan yang sempat ada di rumah ini, kini Vira kembali ke dalam kesendirian dan kesunyian yang menyelimuti dirinya seperti sedia kala.
__ADS_1
Di saat Vira ingin kembali ke kamar, ia melihat sofa tempat duduk Luis tadi. Vira merasa melihat bayangan Luis yang tengah mengobrol bersamanya, kenangan yang ia lakukan barusan seperti sebuah kenangan indah yang mungkin akan sulit untuk di lupakan.