
Vira menghembuskan nafas secara perlahan, lalu ia kembali melihat kedua orangtuanya. Sinta langsung mengeluarkan beberapa makanan yang ia bawa dan sengaja ia buat karena itu adalah makanan kesukaan Vira.
"Mama, kenapa repot-repot harus membawa makanan ke sini?" tanya Vira dengan senyuman.
"Mama tahu ini adalah makanan kesukaan mu jadi Mama sengaja bawa hanya untukmu," ucap Sinta yang langsung menyuapi Vira, dengan lembut Vira menerima setiap suapan yang di berikan oleh Ibunya.
"Terimakasih, Ma. Tapi bagaimana kabar Vina?" Tanya Vira.
"Begitulah, kabarnya sepertinya kurang baik karena Luis tidak memperhatikannya terlebih lagi setelah Vina melahirkan Luis sama sekali tidak peduli," jawab Sinta.
"Vina sudah melahirkan? Laki-laki atau perempuan?" tanya Vira.
"Perempuan, tapi itu bukan anak Luis." Ucap Sinta.
"Apa? Bukan anak Luis, bagaimana bisa? Lalu itu anak siapa?" Tanya Vira penasaran.
"Itu anak pria yang mengambil keperawanan Vina, dari dulu Mama tidak suka dengan pria itu." Ucap Sinta.
"Memangnya Mama sudah bertemu dengannya?" tanya Vira penasaran.
"Belum, tapi yang jelas dia pria brengsek yang merayu Vina dan mengambil kesuciannya, apa pria seperti itu pantas untuk di jadikan sebagai seorang suami? Bukannya bertanggung jawab ia malah menghilang begitu saja," ucap Sinta kesal.
"Sudahlah biarkan saja, lagi pula percuma kita menasehati Vina. Semua omongan kita malah tidak pernah di dengar sama sekali," ucap Wisnu.
Di saat ketiganya tengah mengobrol bersama, suara tangis Rafael mulai terdengar. Vira pun langsung bergegas menghampiri putra kecilnya, Sinta dan Wisnu langsung terkejut dengan suara bayi dari sebuah kamar.
__ADS_1
Sinta dan Wisnu langsung mengikuti kemana anaknya pergi, nampak mereka terkejut saat melihat Vira tengah memberikan ASI kepada seorang bayi.
"Vira, anak siapa itu? Kenapa kau memberikannya ASI?" tanya Sinta.
"Ma, ini anak ku." ucap Vira yang membuat Sinta langsung terkejut.
"Apa! Anakmu tapi siapa ayahnya? Apa jangan-jangan.."
"Iya Ma, Luis ayah dari anak ku," jawab Vira.
"Tapi bagaimana bisa, Mama lupa jika kau sudah.. Ya Tuhan, kau pasti sangat menderita sayang selama beberapa bulan terakhir, maafkan Mama yang tidak bisa mendidik Vina dengan baik yang membuat mu harus ikut menderita," ucap Sinta dengan mata yang berkaca-kaca penuh rasa penyesalan.
"Tidak Ma, ini bukan salahmu. Tapi ini mungkin takdir ku, aku memang sangat menderita selama beberapa bulan terakhir tapi di saat putra ku datang entah kenapa rasa sakit ku seketika sirna saat melihat wajah putra ku," ucap Vira dengan senyuman lembut.
"Mungkin itu adalah naluri seorang ibu, sayang."
"Tapi Vira, kau bahkan belum pernah menikah. Lalu bagaimana dengan masa depan anakmu, pendidikan nya pasti akan terhambat dan kau akan sulit memasukkan ke sekolah," ucap Wisnu.
Vira langsung menatap sendu ayahnya, "Itulah masalahnya, Ayah. Aku juga bingung harus bagaimana, aku tidak ingin jika anak ku tidak bisa bersekolah tapi aku sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Vira.
Wisnu dan Sinta saling menatap satu sama lain, mereka tidak tega melihat masa depan cucu laki-lakinya akan hancur hanya karena masalah seperti ini.
"Begini saja, anakmu akan masuk ke dalam kartu keluarga Ayah sebagai anak ayah. Tapi dia tetap anakmu dan dengan cara seperti itu anakmu bisa bersekolah," ucap Wisnu.
"Tapi memangnya bisa?" tanya Vira.
__ADS_1
"Tentu saja bisa, jadi di akta anakmu nama ayahlah yang akan di tulis. Dan Mama kamu akan jadi ibu dari anakmu di mata pemerintah, tapi meski begitu dia tetap anakmu. Ini hanyalah agar dia bisa bersekolah," ucap Wisnu.
Mendengar hal itu Vira tersenyum senang, meski di mata pemerintah ia bukanlah ibunya tapi yang terpenting Vira tetaplah ibu kandung Rafael dan bagi Vira masa depan anaknya adalah yang paling utama. Terutama pendidikan Rafael, Vina tidak ingin jika anaknya kelak akan di hina dan tidak bisa masuk ke sekolah hanya karena kesalahannya di masa lalu.
"Bagaimana, sayang?" tanya Sinta kepada putrinya.
"Iya Ma, aku setuju." Ucap Vira.
"Syukurlah, tapi siapa nama anakmu?" Tanya Sinta dengan mata yang masih terpaku pada sosok kecil di depannya.
"Rafael, namanya Rafael, Ma." Jawab Vira.
"Rafael, nama yang sangat indah." Puji Sinta.
"Iya Ma, Tapi Ayah untuk urusan akta Rafael dan yang lainnya, apa aku harus kembali lagi ke Jakarta?" tanya Vira.
"Iya sayang, kau harus kembali lagi ke Jakarta. Sekalian Ayah juga akan memperbarui kartu keluarga kita dan menghapus Vina karena dia sudah memiliki keluarga sendiri," ucap Wisnu.
"Gak bisa, aku gak mungkin kembali lagi ke Jakarta. Bagaimana jika Vina sampai tahu?" tanya Vira yang enggan untuk kembali lagi ke Jakarta.
"Kau tenang saja, Ayah akan menyiapkan tempat yang khusus untuk mu dan pastinya Vina tidak akan pernah tahu jika kau kembali lagi ke Jakarta," ucap Wisnu.
"Tapi bagaimana dengan rumah ku di sini? Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli rumah ini dan bagaimana dengan usaha ku dan para karyawan ku?" tanya Vira.
Wisnu langsung terdiam saat Vira mengatakan hal itu, "Mungkin ayah tidak bisa bantu banyak tapi ayah memiliki sebuah gudang yang tidak di gunakan dan dekat dengan rumah lama yang dulu ayah beli, dan tempat itu bisa kau gunakan. Dan jika kau mau, kau juga bisa membawa para karyawan mu untuk tinggal di Jakarta karena rumah itu memiliki banyak kamar dengan fasilitas yang bagus." Ucap Wisnu.
__ADS_1
Vira yang mendengar hal itu langsung menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika ayahnya akan membantunya sampai seperti ini.
"Terimakasih, hiks.. Kalian sudah membantu ku baik secara materi maupun kasih sayang, kalian adalah orang tua yang paling terbaik.. Hiks.. Hiks.. Hiks.."