
Luis kini berada di rumah, ia langsung meminta pelayan untuk menyiapkan pakaian Rafael selama 1 Minggu.
"Papa, kita mau kemana?" tanya Rafael kepada Luis.
"Besok, Papa ingin mengajakmu liburan selama 1 Minggu." Ucap Luis.
"Dengan Mama Vina?" tanya Rafael yang kurang menyukai kehadiran Vina.
"Tidak, hanya kita berdua dan satu orang bawahan Papa." Jawab Luis.
"Hore..."
Vina yang mengetahui rencana liburan Luis dengan Rafael pun langsung mendatangi Luis.
"Apa maksudnya ini, Mas!" Ucap Vina dengan kesal.
"Apa?" tanya Luis yang masih acuh.
"Kau ingin mengajak anak itu liburan, sementara Anggun tidak di ajak? Sebenarnya yang anak kandung mu itu siapa? Kau malah lebih perhatian kepada Rafael dari pada putri kandung mu sendiri!" Ucap Vina yang kesal.
"Ini bukan keinginan ku, tapi keinginan Sabrina. Lagi pula aku tidak berniat untuk liburan, tapi pergi karena ada urusan bisnis" Jawab Luis.
"Apa? Kau pergi dengan wanita rendahan itu, aku tidak setuju dan melarang mu pergi." Ucap Vina, ia tidak ingin melihat wanita hina itu menggoda Luis.
"Sebaiknya kau diam, aku pergi karena mengurus pekerjaan. Dan sebaiknya kau jangan ikut campur, jika kau terus ikut campur. Aku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan uang untuk belanja." Ucap Luis yang tanpa asa-asa mengancam Vina.
"Mas! Kau mengancam ku hanya demi bisa bermesraan dengan wanita itu?" Protes Vina.
Mendengar Vina yang terus berisik, Luis langsung bergegas pergi meninggalkan Vina. Wanita itu terus berteriak memanggil namanya tapi Luis sama sekali tidak peduli.
Vina yang kesal hanya bisa melampiaskan semua amarahnya pada barang-barang yang ada di dalam kamarnya.
Kini waktu keberangkatan ke Bandung pun tiba, Luis membawa Rafael menuju rumah Sabrina untuk menjemput wanita itu.
"Pa, sekarang kita kemana?" tanya Rafael yang melihat sepanjang jalan hanya ada hutan.
__ADS_1
"Kita akan menjemput Tante Sabrina dulu, baru setelah itu kita langsung pergi ke Bandung." Jawab Luis.
Setelah sampai di depan rumah Sabrina, Luis langsung membantu wanita itu memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi mobil.
"Pak Luis, anda membawa mobil sendiri? Kenapa tidak menggunakan supir saja." Ucap Sabrina yang khawatir dengan kesehatan Luis.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah terbiasa menyetir sendiri."
"Baiklah."
Sabrina langsung masuk ke dalam mobil, ia melihat Rafael tengah duduk di kursi penumpang sendirian.
"Hallo Rafael, kita ketemu lagi." Sapa Sabrina dengan senyuman hangat pada putra kandungnya.
"Hallo Tante, jadi Tante ikut liburan ke Bandung?" tanya Rafael.
"Iya, apa kau tidak senang Tante ikut?" tanya Sabrina memasang ekspresi sedih.
"Tidak, Rafael malah sangat senang jika Tante ikut." Jawab Rafael dengan wajah yang menunduk karena malu.
"Sungguh, kau sangat lucu sekali. Tante sangat menyukai mu," puji Sabrina.
Selama di perjalanan Rafael hanya tidur, Sabrina sesekali tersenyum saat melihat buah hatinya tertidur nyenyak. Ingin sekali Sabrina memeluk dan mencium Rafael, tapi hal itu sangat sulit.
Di saat mobil tengah melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba seekor kucing melintas dan hal itu membuat Luis langsung menginjak rem yang membuat Rafael terjatuh ke depan.
"Apa yang terjadi?" tanya Sabrina panik.
"Tadi ada kucing lewat, dan sekarang dia sudah pergi jauh." Ucap Luis yang melihat kucing itu sudah berjalan masuk ke sela-sela rumah warga.
Lalu Sabrina langsung melihat Rafael yang merintih kesakitan, "Rafael, kau baik-baik saja sayang?" tanya Sabrina panik.
Mendengar panggilan sayang untuk Rafael membuat Luis langsung terdiam dengan wajah sedikit bingung.
Sabrina langsung membuka sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil, ia langsung membuka pintu belakang mobil.
__ADS_1
Dengan perlahan Sabrina melihat Rafael dan mengelus kepalanya, "Untung saja tidak berdarah," ucap Sabrina dengan tatapan mata yang khawatir.
Rafael hanya bisa diam di dalam pelukan Sabrina, untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang mengkhawatirkannya seperti ini.
"Rafael, bagaimana jika kau duduk di depan bareng sama Tante." Ajak Sabrina, Rafael hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu Sabrina langsung menggendong Rafael keluar dari mobil, "Biar aku saja," ucap Luis, tapi Sabrina langsung menolaknya.
Ia segera masuk ke dalam mobil, kini Rafael duduk di pangkuan Sabrina sambil memeluk wanita itu. Rafael merasa pelukan Sabrina sangat hangat dan nyaman.
"Tante," panggil Rafael.
"Iya Rafael, ada apa?" tanya Sabrina.
"Pelukan Tante sangat nyaman, seperti pelukan Mama." Ucap Rafael.
Mendengar hal itu Sabrina langsung terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. "Sungguh?" tanya Sabrina.
"Iya Tante, meski Rafael belum pernah tahu rasanya di peluk sama Mama." Jawab Rafael.
Mendengar hal itu air mata Sabrina pun berhasil lolos, Luis sedikit terdiam saat melihat Sabrina menangis karena Rafael.
"Tante," panggil Rafael sekali lagi.
"Iya sayang?" tanya Sabrina dengan suara berat.
"Apa boleh Rafael terus memeluk Tante?" tanya Rafael.
"Tentu saja boleh," jawab Sabrina.
"Tante sangat baik, Rafael ingin punya Mama seperti Tante." Ucap Rafael yang memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Sabrina.
"Jika Rafael ingin, Tante bisa jadi Mama Rafael." Jawab Sabrina dengan tangan yang mengelus rambut putra kandungnya.
"Sungguh? Apa boleh Rafael memanggil Mama?" tanya Rafael.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, Rafa boleh memanggil Mama." Jawab Sabrina yang kembali memeluk Rafael dengan tatapan mata yang sendu bercampur senang.
Mendengar hal itu Luis langsung salah paham, ia tersenyum karena menyangka jika Sabrina ingin menjadi istri keduanya.