Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 31


__ADS_3

Vira berjalan cepat melewati lorong rumah sakit, ia mendapatkan pesan dari Wisnu jika dirinya buru-buru kembali ke rumah karena ada kekacauan yang lagi-lagi di timbulkan oleh Vina.


Kini Vira sampai di depan ruang rawat Rafael, di belakang Vira sudah ada Luis yang dari tadi menemani Vira.


Lalu Dokter yang menangani Rafael pun keluar dari dalam ruangan, Vira yang panik langsung kembali menanyakan keadaan putranya.


"Anda siapa?" tanya Dokter.


"Saya ibunya, jadi bagaimana keadaan anak saya." Tanya Vira dengan panik.


"Putra anda mengalami cedera tulang punggung tapi untungnya cedera tidak parah, mungkin ia harus di rawat di rumah sakit selama beberapa minggu untuk memulihkan kembali keadaannya." ucap Dokter menjelaskan.


Vira yang mendengar hal itu seketika lemas, entah apa yang harus ia tunjukkan sekarang. Senang karena Putranya tidak mengalami geger otak tapi sedih karena putranya harus mengalami cedera tulang punggung.


Luis yang melihat Vira hampir terjatuh ke lantai langsung menahan tubuh wanita itu, Luis membantu Vira berjalan dan memapahnya menuju tempat duduk.


"Tarik nafas pelan-pelan," ucap Luis yang melihat Vira seperti sesak nafas.


Vira mulai menarik nafas nya dan membuangnya secara perlahan, ia merasa dirinya sangat lemas terlebih setelah mengetahui kondisi Rafael saat ini.


"Kau harus tenangkan dirimu, Rafael pasti akan baik-baik saja. Kita percayakan semuanya kepada Dokter," ucap Luis yang berusaha menenangkan Vira.


"Baik Pak Luis, terimakasih." Ucap Vira.


Kini Vira sangat bersyukur karena ayahnya telah pergi, jika ayahnya tidak pergi mungkin Luis akan curiga jika dirinya memiliki hubungan dengan Vina.


Di lain tempat, Vina dan Sinta terlibat adu mulut. Sinta terus memarahi Vina karena melakukan hal itu kepada Rafael.


"Sebenarnya yang anak Mama itu siapa? Aku atau bayi itu, kok Mama malah bela bayi itu?!" ucap Vina yang marah.

__ADS_1


"Kau memang anak ku, tapi kau harusnya berpikir terlebih dulu. Dia masih kecil dan tulang-tulang nya masih lunak tapi kau malah melemparkan nya ke atas sofa!? Apa kau sudah tidak waras," ucap Sinta yang marah kepada sikap Vina.


"Mama bilang aku sudah tidak waras? Harusnya Mama ngaca, Mama yang udah tidak waras. Mama lebih membela anak pungut itu dari pada aku, dimana hati nurani Mama sebagai seorang ibu?" ucap Vina.


"Jangan bawa-bawa hati nurani, sebaiknya kau pergi dari sini. Aku sudah muak melihat wajahmu," ucap Sinta yang kesal.


"Apa hak Mama mengusir ku!" Maki Vina yang tidak terima dengan perlakuan Sinta.


"Ini rumah ku jadi aku berhak untuk mengusir mu beserta anak mu yang bahkan tidak tahu siapa ayah kandungnya," ucap Sinta.


Vina yang kesal mendengar perkataan dari ibunya langsung menampar Sinta dengan keras, wanita paruh baya itu terdiam dengan wajah yang menunjukkan ekspresi terkejut.


"Kau menampar ku? Kau menyambar ibu kandung mu sendiri!?" Ucap Sinta dengan mata yang berkaca-kaca.


Vina tanpa rasa bersalah sama sekali langsung memaki Sinta, "Harusnya Mama menjaga ucapan mu, dan inilah akibatnya." Ucap Vina yang langsung mendorong Sinta.


Para pelayan yang melihat hal ingin menolong Sinta tapi Vina langsung memperingati mereka semua.


Sinta yang kesal langsung bangkit dan mendorong Vina, "Mama sangat menyesal telah melahirkan mu," ucap Sinta.


"Mama!" ucap Vina yang kesal mendengar perkataan dari Sinta.


"Vira bahkan lebih baik dari pada kau, dan aku juga bisa mengatakan kepada Luis jika wanita yang melakukan hubungan badan dengannya di saat malam pertama itu bukan kau tapi Vira!" Ucap Sinta.


Perkataan Sinta membuat Vina terdiam dengan perasaan yang takut, Vina yang sudah gelap mata pun langsung mendorong Sinta yang membuat wanita itu terjatuh dari tangga.


Vina terdiam saat melihat Sinta tergelak di atas lantai dengan darah yang mulai keluar dari keningnya. Para pelayan langsung berlarian menghampiri tubuh Sinta yang sudah tidak sadarkan diri.


Wisnu yang baru datang langsung panik saat melihat tubuh Sinta sudah tergeletak di atas lantai. Mata Wisnu langsung melihat ke arah Vina yang berada di lantai dua, tanpa mengatakan sepatah katapun Wisnu langsung membawa Sinta ke rumah sakit.

__ADS_1


Vina terdiam dengan wajah yang panik, ia tidak menyangka jika pertengkarannya dengan Sinta malah membuatnya mendorong wanita itu.


"Bagaimana ini, aku tidak mau masuk penjara!" Ucap Vina yang mulai panik, ia tidak mau menjadi narapidana.


Vina langsung bergegas pergi meninggalkan rumah Sinta dan juga Wisnu, ia segera mengajak pengasuh anaknya untuk segera membereskan pakaian Anggun dan segera pergi dari rumah ini.


Di sepanjang jalan Vina terus memikirkan kejadian barusan, ia tidak mau jika sampai di jebloskan ke penjara hanya karena tidak sengaja mendorong tubuh Sinta.


Kini Vina berada di rumahnya, ia langsung mengurung diri ke dalam kamar. Perasaan takut mulai menyelimuti pikiran Vina, ia takut jika dirinya akan di jadikan tersangka.


"Bagaimana ini, aku tidak mau jadi narapidana. Lagi pula aku tidak sengaja mendorong wanita itu, jika bukan karena dia mengatakan hal ini. Mana mungkin aku berani mendorongnya," ucap Vina yang masih tidak menyadari tentang kesalahannya.


Terdengar handphone Vina yang berbunyi, saat ia melihat handphonenya rupanya Wisnu menelpon. Ada rasa takut di hati Vina saat ingin mengangkat panggilan dari ayahnya.


"Hallo, ada apa?"


"Apa yang kau lakukan? Kenapa Mama mu bisa sampai terjatuh dari tangga?"


"Aku tidak sengaja, lagi pula itu salah Mama. Ia mengancam ku dan aku terbawa emosi."


"Kau bilang tidak sengaja? Apa kau sudah gila, dia ibu kandung mu tapi kau dengan tega menyakitinya. Bahkan para pelayan mengatakan jika kau juga menamparnya, apa kau sudah gila?"


"Aku tidak sengaja, apa ayah tidak percaya dengan apa yang ku katakan? Aku bilang aku tidak sengaja."


"Kau masih terus tidak sadar dengan kesalahan mu, jika sampai terjadi apa-apa dengan istri ku. Aku akan membuatmu masuk penjara!"


"Apa ayah gila? Mau memenjarakan putrimu sendiri."


"Iya, aku sudah gila karena telah membesarkan seorang anak yang tidak memiliki hati nurani sama sekali."

__ADS_1


Panggilan pun langsung terputus begitu saja, Vina seketika terduduk lemas. Ia bingung harus bagaimana sekarang, sementara dirinya tidak ingin masuk penjara.


__ADS_2