Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 44


__ADS_3

Luis langsung menarik tangan Vina dan membawanya ke dalam ruangan miliknya.


"Ada apa, Mas?" tanya Vina dengan kesal.


"Aku sudah memperingatkan mu dari dulu, jangan pernah kau coba-coba menyakiti putra ku." Ucap Luis memperingatkan Vina.


"Kenapa sih, kau terus membela Rafael. Bahkan kau juga mengabaikan Anggun, anakmu sendiri!?" Tanya Vina dengan nada tinggi.


"Sebaiknya kau cepat pulang dan bawa Anggun sekalian," usir Luis.


Tapi Vina tidak ingin pergi begitu saja, ia sangat kesal dengan sikap Luis selama 5 tahun ini.


"Apa kau tidak pernah mencintai ku? Selama 5 tahun ini, apakah tidak pernah ada rasa cinta untuk ku di hati mu?" tanya Vina dengan tangan yang memegang tangan Luis, berharap jika pria itu memiliki rasa cinta untuknya.


"Tidak pernah, jika bukan karena Anggun anak ku. Aku sudah lama ingin menceraikan mu," jawab Luis dengan tatapan dingin, ia seperti tidak peduli dengan perasaan Vina yang hancur saat mendengar Jawa darinya.


Vina terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, "Kenapa kau tidak pernah mencintai ku? Selama ini aku kurang apa buat mu?!" Tanya Vina dengan nada tinggi.


"Kau kurang segalanya, kau tidak seperti dia." Jawab Luis yang membuat Vina kembali terdiam saat mendengar kata 'dia'.


"Dia? Dia siapa? Jawab aku!" Ucap Vina yang penasaran dengan sosok wanita yang telah merebut hati Luis.


"Vira, selama ini wanita yang ku cintai adalah Vira. Meski ia memiliki wajah yang sama denganmu tapi dia sangatlah berbeda denganmu dan aku mencintai nya." Jawab Luis dengan tegas.


Mendengar hal itu Vina langsung berbalik pergi, ia bahkan meninggalkan Anggun sendirian.

__ADS_1


Luis yang keluar dari ruang kerjanya langsung menghampiri anak-anaknya, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Anggun di tinggalkan pulang oleh Vina.


"Terimakasih, Sabrina sudah menjaga Rafael." Ucap Luis berterimakasih.


"Sama-sama, Pak." Jawab Sabrina.


Lalu Anggun langsung menghampiri Luis dan memintanya untuk di gendong, dengan senyuman tipis Luis langsung menggendong Anggun dan menuntun Rafael untuk ikut bersamanya pulang ke rumah.


Sabrina bisa melihat perhatian Luis yang sangat besar untuk Rafael, Sabrina sangat senang setidaknya putranya bisa dekat dengan ayah kandungnya sendiri.


Wanita itu pun mulai berjalan dan kembali duduk di depan meja kerjanya, pekerjaan masih banyak dan ia harus menyelesaikannya.


Tapi Sabrina kembali teringat dengan kata-kata Anggun yang menyebut Rafael sebagai anak pungut.


Perkataan Anggun yang masih kecil sangatlah kejam dan Sabrina tahu, orang yang pertama mengajarkan kalimat itu pastilah Vina.


Luis yang kini berada di dalam mobil tengah pokus mengemudi, tapi Anggun terus saja mengoceh dan protes terhadap Luis.


"Papa, kenapa anak pungut itu malah duduk di depan. Sementara aku malah duduk di belakang!" Maki Anggun yang kesal, meski suaranya terdengar menggemaskan tapi kalimat yang terucap dari mulutnya sangatlah menyakitkan.


"Anggun, siapa yang mengajarimu bicara seperti itu. Sudah berapa kali Papa bilang jangan pernah panggil Rafael sebagai anak pungut, dia itu Kakak mu." Ucap Luis berusaha memberikan pengertian kepada Anggun.


"Aku tidak peduli, bagiku orang itu adalah anak pungut! Dasar anak pungut," ucap Anggun yang tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya dan menjambak rambut Rafael dari belakang.


Rafael yang kesakitan pun langsung menangis, Luis segera menghentikan mobilnya dan melerai pertengkaran diantara kedua anaknya.

__ADS_1


"Anggun, hentikan. Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin Papa menurunkan mu di tengah jalan jika kau terus bersikap seperti ini?" Ucap Luis dengan nada tegas, Luis bingung bagaimana Vina bisa mengajari Anggun hingga anak itu bisa senakal ini.


Anggun yang mendengar perkataan Luis pun langsung menangis dengan keras, Luis yang kesal hanya bisa melajukan kembali mobilnya.


Sesampainya di rumah, Anggun langsung turun dari mobil dengan tangisan yang sangat kencang. Ia segera berlari menghampiri Maria yang berada di depan pintu, "Sayang, kamu kenapa menangis?" tanya Maria heran karena melihat cucu perempuannya tiba-tiba menangis.


"Hiks.. Hiks.. Hiks... Papa memarahi Anggun dan bahkan ingin membuang Anggun." Jawab Anggun yang langsung memeluk Maria.


Mendengar hal itu Maria langsung melihat ke arah Luis, ia menatap Luis dengan tatapan dingin dan kesal.


"Apa yang kau lakukan sampai Anggun menangis seperti ini," ucap Maria kesal.


Luis yang tengah memangku Rafael pun langsung menjawabnya dengan santai, "Anggun berbicara tidak sopan bahkan dia sampai menjambak rambut Rafael, jadi aku menegurnya." Jawab Luis.


Setelah itu Luis pergi begitu saja dan membawa Rafael ke dalam kamar, "Hiks.. Hiks... Oma, apakah Papa tidak menyayangi Anggun. Bahkan Papa lebih sayang dengan anak pungut itu," ucap Anggun.


Mendengar hal itu Maria cukup tersentak dengan panggilan Anggun pada Rafael, "Sayang, Papa sangat menyayangi mu. Tapi mungkin Anggun tadi nakal jadi Papa sedikit marah. Lagi pula Anggun jangan memanggil Rafael dengan sebutan anak pungut, itu tidak baik sayang." Ucap Maria yang memberikan nasehat kepada cucunya.


"Baik Oma," jawab Anggun dengan kepala yang menunduk.


"Tapi siapa yang mengajarimu kalimat seperti itu?" tanya Maria yang ingin tahu siapa yang mengajari Anggun untuk memanggil Rafael dengan sebutan anak pungut.


"Mama," jawab Anggun dengan wajah polosnya.


Mendengar hal itu Maria tersenyum, ia langsung mengajak Anggun untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2