
Setelah pemakaman Vira, Luis langsung pulang menggunakan mobil yang berbeda dengan Vina. Ia juga membawa Nek Nina sebagai pengasuh Rafael kelak.
Kini Vina sudah berada di rumah, ia terdiam saat melihat suaminya tengah menggendong seorang bayi.
"Anak siapa itu?" tanya Vina dengan tatapan mata marah.
"Ini Rafael, anaknya Vira." Jawab Luis.
"Apa?! Mas, kenapa kau membawa bayi itu ke sini?" tanya Vina yang tidak terima dengan keputusan Luis yang membawa Rafael ke rumah ini.
"Rafael sudah tidak memiliki keluarga dan aku sebagai Pamannya memiliki tanggung jawab untuk merawatnya." Jawab Luis dengan tegas.
"Gak bisa, aku gak mau nampung anak itu di rumah kita. Lagi pula kita bisa menitipkan nya di panti asuhan, untuk apa kita repot-repot mengurusnya." Protes Vina dengan tegas.
Luis langsung memberikan Rafael kepada Nek Nina, ia langsung menyuruh wanita itu untuk masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan.
Perlahan Luis mulai berjalan ke arah Vina, tatapan mata yang tajam dan dingin membuat bulu kuduk Vina berdiri.
"Jika kau tidak suka dengan keberadaan Rafael, kau bisa angkat kaki dari rumah ini." Ucap Luis tanpa ragu.
"Apa? Kau mengusir ku demi anak itu?" tanya Vina dengan tatapan mata yang sedih dan kesal.
"Iya, lagi pula dia masih kecil dan tidak sanggup untuk hidup sendirian di luar sana. Sementara kau sudah dewasa, aku yakin kau bisa mengurus hidup mu di luar sana." Jawab Luis.
"Aku tidak mau, yang harusnya keluar dari rumah ini adalah anak haram itu. Dan lagi pula kau sudah memiliki seorang anak perempuan, untuk apa kau malah mengurus anak orang lain. Bagaimana jika Anggun sedih?" tanya Vina.
"Sebaiknya kau jaga mulutmu, di dunia ini tidak pernah ada anak haram." Jawab Luis yang berlaku pergi begitu saja.
__ADS_1
Vina yang kesal hanya bisa menahan dirinya, ia takut jika Luis mengetahui kebenaran tentang ayah kandung Rafael.
"Aku harus cepat menyingkirkan anak itu dari sini," ucap Vina yang penuh emosi.
Maria yang baru datang langsung menghampiri Vina, ia menatap menantunya dengan tatapan merendahkan.
"Kenapa, kau seperti nya sangat ketakutan saat melihat Luis membawa anak itu?" tanya Maria dengan tatapan mata dan senyuman yang merendahkan Vina.
"Apa maksud Mama? Sebaiknya Mama jangan ikut campur urusan ku, lagi pula untuk apa aku takut melihat kedatangan anak itu." Jawab Vina yang balik menyerang Maria.
"Sungguh, aku orang yang sudah lama hidup di dunia ini. Dan aku tahu, kau tengah menyembunyikan sesuatu dan cepat atau lambat apa yang kau sembunyikan akan terungkap." Ucap Maria yang ingin menakuti Vina tapi di luar dugaan, wanita itu malah terlihat lebih tegang.
"Tidak ada yang ku sembunyikan, Mama jangan asal ngomong. Bagaimana jika Mas Luis sampai mendengar perkataan Mama yang ngaco itu, lalu ia salah paham kepada ku." Ucap Vina yang langsung memberikan teguran kepada mertuanya.
"Jika memang kau tidak bersalah atau tidak menyembunyikan sesuatu, lalu untuk apa takut?" tanya Maria.
Vina masuk ke dalam kamar tempat Rafael berada, ia melihat Nek Nina tengah duduk dan menidurkan Rafael.
"Nona Vina," ucap Nek Nina yang melihat Vina masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba.
"Kenapa Luis bisa membawa anak ini ke rumah ku?" tanya Vina yang yakin jika Nek Nina tahu alasan Luis membawa Rafael ke sini.
"Ini permintaan dari Nona Vira sebelum ia meninggal," jawab Nina dengan wajah yang menunduk.
"Alasan, aku tidak mau tahu. Kau bawa anak haram itu keluar dari rumah ku," usir Vina dengan nada tinggi.
"Tapi Pak Luis sudah setuju untuk menampung Rafael di sini. Lagi pula ini adalah keponakan anda, apa Nona Vina tega membiarkan keponakan anda tinggal di luar sana tanpa pengawasan?" tanya Nina.
__ADS_1
"Aku tidak peduli mau anak itu tinggal dimana, yang terpenting anak itu tidak boleh tinggal di sini. Dan satu lagi, aku akan memberikan uang yang sangat banyak tapi kau harus membawa anak itu keluar dari rumah ku." Ucap Vina yang marah.
"Siapa yang mengizinkan mu untuk mengusir Rafael dari rumah ku," tiba-tiba suara Luis terdengar di belakang Vina, wanita itu dengan perasaan takut dan terkejut langsung membalikkan tubuhnya secara perlahan.
"Mas, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Vina.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengusir Rafael dari rumah ku?" tanya Luis dengan tatapan dingin.
"Aku tidak bermaksud untuk mengusir Rafael, lagi pula dia keponakan ku mana mungkin aku tega mengusir keponakan ku sendiri." Jawab Vina dengan jantung yang terus berdetak dengan kencang.
"Lalu, perkataan mu barusan itu apa? Kau ingin mengusir Rafael." Ucap Luis yang membuat Vina langsung terdiam.
"Vina, jika sampai kau berani mengusir Rafael dari rumah ini. Aku tidak akan segan-segan untuk menendang mu keluar dari rumah ini dan satu lagi, sebaiknya kau jangan mencoba untuk menyakiti Rafael." Ucap Luis yang memberikan peringatan kepada Vina.
"Tapi Mas, kenapa kau malah lebih membela anak itu dari pada aku? Aku istrimu, sementara Rafael? Bahkan ia tidak memiliki hubungan darah denganmu tapi kau sangat membelanya seperti kau membela anakmu sendiri." Ucap Vina yang kesal dengan sikap Luis.
"Mulai sekarang Rafael anak ku," jawab Luis yang membuat Vina terkejut.
"Apa maksud mu?" tanya Vina dengan mata membulat sempurna, ia tidak terima jika Luis mengangkat Rafael sebagai anaknya.
"Aku mengangkat Rafael sebagai anak ku dan kini ia telah sah menjadi anak ku secara hukum, dan kau! Jangan berani-berani mengusir atau menyakiti putra ku, jika sampai itu terjadi kau akan membayar mahal." Luis langsung memberikan peringatan keras kepada Vina.
"Bagaimana dengan Anggun, dia juga anakmu." Ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lalu apa masalahnya, aku akan tetap memberikan kasih sayang yang sama kepada Anggun dan Rafael. Jadi tidak perlu ada yang di permasalahkan lagi," ucap Luis.
Lalu Luis meminta Vina untuk segera keluar dari kamar tidur Rafael, Vina yang marah hanya bisa mengutuk Vira yang sudah pergi.
__ADS_1
"Dasar Vira sialan, mau kau hidup atau mati. Kau selalu membuat hidup ku menderita, untuk apa kau malah menitipkan putra mu kepada Luis. Dasar Vira sialan, ku harap kau di siksa di neraka..!"