
Vina tengah berbaring di ranjang rumah sakit, beberapa dokter yang perawat tengah mengelilinginya tapi matanya masih mencari sosok suami yang ia cintai, tapi tidak terlihat batang hidungnya pun.
Dengan rasa sakit yang mulai menjalar keseluruhan tubuhnya, ia merasakan sakit yang sungguh sangat luar biasa. Tadinya Vina akan melahirkan secara normal tapi wanita itu memilih melahirkan secara sesar dengan alasan jika bayinya lahir prematur. Tapi kenyataannya bayinya lahir tepat di bulan ke 9, hal itu hanya alasan agar keluarga Luis tidak curiga kepadanya.
Perlahan mata Vina pun mulai menutup, obat bius yang di berikan oleh dokter mulai menunjukkan efeknya.
Di luar ruangan, kedua orang tua Vina tengah duduk dengan raut wajah yang panik dan khawatir. Mereka masih memikirkan kondisi Vina di ruang operasi, terlebih lagi Luis tidak bisa di hubungi.
"Mas, cepat hubungi lagi Luis. Pasti Vina sedang menunggu kedatangan suaminya." Pinta Sinta kepada suaminya.
"Aku sudah berusaha untuk menghubungi Luis tapi pria itu tidak mengangkat sama sekali panggilan dari ku." jawabnya dengan wajah yang putus asa.
"Bagaimana sekarang, Vina pasti sedang menunggu Luis. Pria itu tidak bertanggung jawab kepada Vina, ia bahkan mengabaikan istrinya di saat dia sedang melahirkan." ucap Sinta dengan perasaan kesal dan juga kecewa terhadap sikap menantu laki-lakinya.
"Sudahlah, kita juga tidak bisa menyalahkan Luis sepenuhnya. Ini pilihan Vina yang memilih untuk menikah dengan Luis." ucap Wisnu berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Tapi Mas, Vina itu anak kita. Aku sebagai ibunya merasa sakit hati jika anak ku di perlakukan seperti itu."
Di saat keduanya tengah beradu mulut, suara langkah kaki terdengar menggema di lorong rumah sakit. Sosok pria tampan dengan balutan kemeja biru muda berjalan mendekati kedua mertuanya.
"Luis." ucap Sinta saat melihat sosok Luis datang.
"Syukurlah kau datang, Vina sedang menjalankan operasi. Tapi tadi Dokter mengatakan jika kau juga bisa masuk untuk melihat keadaan Vina." ucap Wisnu kepada menantunya.
Tapi tatapan Luis seakan tidak tertarik sama sekali dengan berita tersebut, ia hanya menatap dingin tanpa senyuman sama sekali.
"Aku tidak ada waktu untuk menemani Vina, untuk semua biaya rumah sakit aku sudah membayarnya dan setelah operasi ia akan di tempatkan langsung di ruang VIP dengan perawatan yang bagus," ucap Luis dengan tatapan mata yang tertuju pada handphonenya.
"Apa urusanmu lebih penting dari pada persalinan Vina?" Tanya Sinta yang tersulut emosi saat mendengar perkataan dari menantunya.
__ADS_1
"Urusan ku sangat penting dan akan menghasilkan miliaran," jawab Luis tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Tapi istri mu sedang melahirkan, ia sekarang sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anakmu," ucap Sinta berusaha untuk menyadarkan menantunya.
"Melahirkan seorang anak itu sudah kewajiban seorang wanita dan tugas ku mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya. Terutama gaya hidup Vina yang sangat glamor, bahkan ia bisa menghabiskan ratusan juta dalam satu minggu. Jadi ku harap ia tidak manja, hanya melahirkan saja harus di temani."
"Kau itu suaminya, kau yang harus berperan banyak dalam mengurus Vina. Ia juga butuh perhatian darimu terutama di saat dirinya tengah melahirkan, ia pasti sangat menanti kedatangan mu," ucap Sinta yang mengatakan itu dengan nada tinggi.
Seorang perawat pun datang dan langsung menegur mereka bertiga, "Pak, Bu. Sebaiknya kalian jangan berisik, ini rumah sakit dan saya mohon kalian untuk tenang dan selesai urusan pribadi di luar rumah sakit."
"Baik," jawab Luis.
Lalu perawat itu pun langsung pergi, tatapan mata Luis kembali melihat ke arah ibu mertuanya. "Aku harus pergi," ucap Luis yang langsung melenggang pergi begitu saja.
Ingin sekali Sinta menjambak rambut menantunya, ia melihat punggung Luis yang mulai menjauh.
"Sudahlah, kita duduk saja dulu."
Wisnu langsung menuntunnya istrinya untuk duduk dan menunggu hingga proses persalinan Vina selesai, di saat mereka menunggu mertua Vina pun datang dengan raut wajah yang panik.
"Bagaimana keadaan Vina? Kenapa dia bisa melahirkan di usia kandungan yang masih belum 9 bulan," ucap Maria karena yang ia tahu jika usia kandungan Vina masih 8 bulan tapi sebenarnya sudah 9 bulan.
"Mungkin sudah waktunya dan bayinya harus lahir secara prematur," jawab Sinta dengan nada sendu.
"Lalu dimana Luis? Apa dia belum datang?" tanya Maria yang tidak melihat keberadaan Luis.
Sinta dengan pelan menggelengkan kepalanya, "Luis sudah datang tapi ia langsung pergi karena ada urusan," jawab Sinta.
Mendengar hal itu Maria sangat marah ia tidak menyangka jika anaknya akan meninggalkan Vina di saat wanita itu tengah melahirkan.
__ADS_1
"Steven, kau lihat anakmu dia bahkan pergi meninggalkan istrinya di saat istrinya tengah melahirkan. Aku yakin ini sikap yang di turunkan darimu," maki Maria kepada suaminya.
"Kenapa kau malah memaki ku, sebaiknya kau diam dan kita duduk sambil menunggu Dokter keluar dari ruang rawat," bujuk Steven dengan tangan yang memegang kedua pundak Maria dan mengajaknya untuk duduk.
Maria yang masih kesal langsung mengambil handphone miliknya untuk menelpon Luis dan menyuruhnya datang ke rumah sakit.
"Luis, kau dimana?"
"Aku sedang di kantor."
"Cepat datang ke rumah sakit, istri mu sedang melahirkan. Apa kau tidak punya pikiran sampai meninggalkan istri mu dan lebih memilih pergi ke kantor!"
"Aku sudah membayar semua perawatan Vina, lagi pula dia hanya melakukan operasi sesar dan itu tidak akan membahayakan nyawanya."
"Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu, meski itu hanya operasi sesar tapi kau sebagai suami harus berada di samping Vina."
"Aku masih sibuk, jadi ku tutup dulu."
"Luis.. Luis.? Halo? Halo?"
Luis langsung mematikan panggilan dari ibunya secara sepihak, Maria yang kesal hanya bisa kembali menelpon Luis tapi pria itu langsung mematikan handphone miliknya.
"Luis, kenapa kau malah menjadi suami yang tidak bertanggung jawab seperti ini. Bu Sinta dan Pak Wisnu, saya sebagai ibu Luis sangat-sangat menyesal atas sikap putra kami. Jika kamu mendidiknya dengan benar, ia tidak mungkin menjadi pria yang membangkang seperti sekarang," ucap Maria yang meminta maaf kepada kedua besannya.
"Tidak apa-apa, Bu Maria. Saya yakin yang Luis lakukan mungkin ada alasannya dan bisa saja pekerjaan nya memang sangat penting," jawab Wisnu dengan senyuman ramah.
Kini mereka berempat hanya bisa duduk dengan perasan khawatir dan cemas karena Dokter yang melakukan operasi kepada Vina masih belum keluar dari ruang operasi.
Hingga tiba-tiba lampu di pintu ruang operasi pun berubah menjadi hijau yang menandakan operasi sudah selesai.
__ADS_1