
Sinta hanya bisa diam dan bingung mau menjawab apa.
"Ma, bayi siapa itu?!" tanya Vina dengan nada sedikit tinggi.
Wisnu mulai masuk ke dalam kamar saat ia mendengar jika Vina datang ke rumahnya, "Vina, kau datang ke sini?" tanya Wisnu yang langsung menyapa putrinya.
"Ayah? Bayi siapa yang di gendong oleh Mama?" tanya Vina.
"Itu anak Mama dan ayah," jawab Wisnu.
"Apa? Bagaimana bisa Mama punya anak?" tanya Vina.
"Kami mengadopsinya di panti asuhan, kasihan Mama kamu ia ingin sekali memiliki anak lagi." Ucap Wisnu.
Vina yang mendengar hal itu terdiam dengan raut wajah kesal, "Apa itu benar, Ma? Kalian mengadopsi anak itu dari panti asuhan?" tanya Vina kepada Sinta.
"Benar sayang, sekarang kau punya adik baru." Ucap Sinta yang mengikuti drama dari Wisnu.
"Ini gak bisa, Mama dan ayah gak bisa mengadopsi anak itu!" ucap Vina dengan nada tinggi dan kesal.
"Kenapa?" tanya Sinta.
"Aku gak setuju, aku gak mau punya adik baru. Apalagi anak yang di pungut dari panti asuhan yang bahkan tidak di ketahui asal usulnya, bisa saja dia anak dari seorang p*lacur." Ucap Vina.
"Jaga mulutmu itu, Vina. Yang menentukan di sini bukan kau!" ucap Wisnu yang memberikan peringatan kepada Vina.
"Pokoknya aku gak mau, jadi ayah bisa mengembalikan anak itu lagi ke panti asuhan. Dan aku juga gak mau berbagi warisan dengan anak yang bukan darah daging keluarga ini," ucap Vina yang sudah memikirkan tentang warisan
"Aku dan Mama mu saja belum mati, tapi kau sudah memikirkan tentang warisan!" ucap Wisnu yang marah.
"Terserah ayah saja, pokoknya aku gk mau tahu. Anak itu harus di keluar dari rumah kita, aku gak mau ada anak pungut di rumah ini. Dan jika Mama ingin mengurus seorang bayi, Mama bisa mengurus Anggun. Anggun itu cucu kandung Mama dan anak kandung ku, harusnya Mama lebih memperhatikan Anggun bukan anak pungut ini yang bahkan tidak memiliki ikatan darah dengan kita." Ucap Vina yang marah
Vira langsung mengambil Rafael dari gendongan Sinta, "Apa yang sedang kau lakukan?!" tanya Sinta dengan panik.
__ADS_1
"Aku akan mengembalikan anak ini ke panti asuhan, dan Mama bisa mengurus Anggun saja. Untuk apa repot-repot mengurus anak pungut," ucap Vina yang langsung membawa Rafael keluar dari kamar.
Wisnu pun segera mengejar Vina, "Vina, biarkan ayah saja yang mengantarkan anak itu ke panti asuhan." Ucap Wisnu.
"Apa ayah yakin jika ayah akan mengembalikannya ke panti asuhan? Aku tidak mau jika ini hanya kebohongan ayah saja," ucap Vina.
"Aya berjanji akan mengembalikannya ke panti asuhan, mungkin yang kau katakan ada benarnya. Harusnya aku tidak mengadopsi seorang bayi," ucap Wisnu.
"Benarkan yang ku katakan, harusnya Ayah mengikuti perkataan ku. Jika Mama ingin mengurus seorang bayi, ia bisa mengurus Anggun." Ucap Vina.
"Iya sayang, kalau begitu kembalikan bayi itu. Ayah akan langsung mengembalikannya ke panti asuhan," ucap Wisnu.
Vina yang kesal pun langsung menatap malas ke arah Wisnu, tapi bukannya di berikan kepada Wisnu Vina malam melemparkan Rafael ke atas sofa yang berukuran cukup besar.
Hal itu langsung membuat Wisnu terkejut dan segera mendekati Rafael dan memangku nya, tapi untungnya Vina tidak melemparkan Rafael di atas lantai.
"Apa yang kau lakukan? Dia masih bayi, bagaimana jika terjadi apa-apa kepadanya!" tanya Wisnu.
Terdengar suara tangisan Rafael, mungkin anak itu merasakan sakit.
Wisnu pun langsung bergegas pergi membawa Rafael ke rumah sakit, ia takut terjadi apa-apa kepada Rafael.
"Sabar yah nak, Kakek akan membawa mu ke rumah sakit." ucap Wisnu yang langsung masuk ke dalam mobil.
Di rumah sakit Wisnu nampak cemas dengan keadaan Rafael, suara tangisan Rafael terus terdengar sampai ke luar ruangan.
"Dok, bagaimana kondisi Rafael?" tanya Wisnu yang melihat dokter keluar dari ruang rawat Rafael.
"Apakah bayinya mengalami benturan? Ini sangat berbahaya karena terdapat cedera di tulang punggung yang bisa berefek pada geger otak." Ucap Dokter menjelaskannya kondisi Rafael.
Wisnu yang mendengar hal itu seketika langsung lemas, ia meminta Dokter untuk menyembuhkan Rafael. Wisnu siap membayar berapa pun agar cucu nya bisa sembuh.
"Kami akan berusaha sebisa mungkin," ucap Dokter yang kembali masuk ke ruang rawat Rafael.
__ADS_1
Wisnu langsung menelpon Vira untuk mengatakan hal ini.
Vira yang tengah makan bersama dengan Luis melihat ayahnya menelpon, tapi Vira tidak mengangkat karena ada Luis di depannya. Tapi beberapa kali ayahnya terus menelpon, seketika Vira merasakan ada firasat buruk.
"Hallo, Vira kamu dimana?"
"Aku di restoran, ada apa?"
"Rafael sekarang ada di rumah sakit."
"Apa?! Bagaimana bisa, apa yang terjadi pada Rafael."
"Tadi Vina datang ke rumah dan dia melihat Rafael, kami sudah berusaha menjelaskan dan dia percaya. Tapi tanpa di duga jika Vina malah melemparkan Rafael ke atas sofa dan sekarang Rafael berada di rumah sakit, kata dokter ia mengalami cedera tulang punggung."
"Baik, aku ke sana sekarang!"
Vira langsung mematikan panggilannya, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan sedih di hatinya saat mendengar putra kecilnya mengalami kecelakaan.
"Ada apa?" tanya Luis yang panik melihat Vira tiba-tiba menangis saat menerima telpon.
"Maaf Pak Luis, saya harus pergi ke rumah sakit sekarang." Ucap Vira yang buru-buru membereskan barang-barangnya, saking paniknya Vira sampai menjatuhkan laptop miliknya ke lantai.
"Jangan panik Non Vira," ucap Luis yang membantu Vira membereskan barang-barang yang berserakan di lantai.
Vira hanya bisa menangis, "Maaf Pak Luis, saya terlalu panik." Ucap Vira.
"Mari biar saya antar sekalian," ucap Luis.
Vira yang sudah sangat sedih pun sampai tidak bisa berpikir jernih, bahkan ia menyetujui ajakan Luis yang mau mengantarkannya ke rumah sakit.
Di sepanjang jalan Vira terus menangis, ia tidak bisa membayangkan kondisi Rafael saat ini. Di hati Vira, ia sangat marah dengan apa yang telah Vina lakukan kepada putranya.
"Apa dia wanita iblis, bahkan sampai tega hati melemparkan putra ku ke atas sofa. Rafael masih kecil, bahkan tulang-tulang nya pun masih lunak," ucap Vira dan perkataan Vira pun di dengar oleh Luis.
__ADS_1
Luis sangat penasaran dengan sosok wanita yang telah melukai Rafael, entah kenapa mendengar hal itu Luis pun ikut marah. Ia tidak menyangka jika ada orang yang sekejam itu pada seorang bayi yang masih kecil.