Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 53


__ADS_3

Anggun terbangun dari tidurnya, ia tidak menemukan siapapun di ruang rawatnya. Rasa haus mulai menggerogoti kerongkongannya, dengan tubuh yang masih lemas. Anggun mulai bangkit untuk mengambil segelas air yang berada di sebuah meja yang berada cukup jauh dari ranjang.


Tapi kaki mungil itu tidak sampai ke lantai karena ranjangnya yang sangat tinggi, Anggun pun langsung lompat dari ranjang tapi saat ia hendak loncat kakinya malah tersangkut ke selimut yang membuat Anggun terjatuh dengan kepala terlebih dahulu menyebabkan kepala anak malang itu terbentur.


Darah langsung mengalir dari kepala Anggun, gadis kecil itu kini tidak sadarkan diri. Lalu seorang perawat datang, ia langsung terkejut saat melihat Anggun sudah tergeletak di bawah lantai dengan darah yang mengalir.


Luis berjalan dengan kencang, ia sangat khawatir saat mendapatkan kabar jika Anggun mengalami kecelakaan saat berada di kamar rawat.


"Bagaimana keadaan Anggun sekarang?"


"Keadaannya sangat buruk," jawab Maria.


"Lalu dimana Vina?" Mata Luis melihat ke sekeliling tapi ia tidak melihat Vina sama sekali, bahkan Vina malah meninggal Anggun sendirian di ruang rawat.


"Mama tidak tahu!" Pekik Maria marah terhadap kelalaian Vina dalam menjaga Anggun.


Seorang Dokter menghampiri Luis, ia menjelaskan keadaan Anggun saat ini dan gadis itu membutuhkan golongan darah B, tapi untuk saat ini rumah sakit tidak memiliki stok darah golongan B.


"Ambil saja darah ku, aku ayahnya." Luis langsung menyerahkan dirinya untuk mendonorkan darahnya kepada Anggun.


"Baik, tapi kita harus memeriksa dulu darah anda."


Luis langsung berjalan masuk ke sebuah ruangan untuk memeriksa golongan darahnya.


Kini Luis dan kedua orang tuanya langsung terdiam saat mengetahui jika golongan darahnya dengan Anggun tidak sama dan itu artinya ia dan Anggun tidak memiliki hubungan darah sama sekali.


Marah, mungkin itulah suasana hati Luis saat ini. Selama bertahun-tahun ia menjaga dan mengurus anak dari pria lain.


Di saat semuanya di landa kebingungan dan amarah, tiba-tiba seorang pria datang. Luis sangat mengenal pria yang datang menghampirinya.

__ADS_1


"Satria untuk apa kau ke sini?" Luis memasang wajah kesal dan marah.


"Dokter, ambil saja darah ku karena aku ayah kandung dari Anggun."


Perkataan Satria membuat ketiga orang tersebut langsung melihat ke arah Satria dengan tatapan terkejut.


"Brengsek!" Pekik Luis yang langsung memberikan bogem mental kepada Satria.


"Kau boleh memukul atau menanyakan pertanyaan, tapi untuk saat ini aku ingin menolong putri ku." Satria langsung pergi mengikuti Dokter yang membawanya ke ruang rawat.


Vina berjalan dengan cepat saat mengetahui jika Anggun mengalami kecelakaan.


"Mas, bagaimana keadaan Anggun sekarang?" Tanya Vina dengan nafas terengah-engah.


Luis menatap dingin wanita di depannya, wanita yang sudah membohonginya selama ini bahkan wanita itu mengandung anak pria lain dan malah mengaku jika anak itu adalah anaknya.


"Keadaan Anggun sangat parah dan ia kini tengah membutuhkan donor darah." Jelas Luis dengan wajah dingin tanpa ekspresi.


"A..pa?" Vina sedikit terkejut saat mengetahui hal itu.


"Tapi kau tenang saja, keadaan Anggun kini baik-baik saja karena ia sudah mendapatkan donor darah."


"Ah, syukurlah jika rumah sakit memiliki stok darah untuk Anggun." Vina langsung bernafas lega saat mengetahui hal itu.


Luis tersenyum mengejek, "Rumah sakit tidak memiliki stok darah untuk Anggun, jadi gadis itu mendapatkan donor darah dari ayah kandungnya!"


Vina terdiam dengan mata yang membulat sempurna, mulutnya mulai terbuka dengan bibir yang gemetar.


"Aku yakin kau pasti tahu siapa ayah kandung dari Anggun!" Perkataan Luis terdengar sangat dingin dan penuh penekanan yang membuat Vina hanya bisa bergidik ngeri.

__ADS_1


"Vina, kau membuat ku sangat kecewa!" Steven melayangkan perasaan kecewa nya terhadap Vina karena selama ini wanita itu telah membohongi semua orang.


"A..ku bi..bi..bi..sa je...je..je..laskan!"


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, semuanya sudah jelas!" Ucap Luis.


Satria yang sudah selesai mendonorkan darahnya pun keluar dari ruangan tersebut, ia bisa melihat Vina menatapnya dengan tatapan marah dan kesal.


Tapi Satria tidak peduli karena baginya keselamatan putri kandungnya lebih penting daripada kemarahan Vina.


"Ma, sebaiknya kita pergi. Biarkan Ibu dan ayah kandung Anggun yang mengurus anak itu, lagi pula kita tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka!" Luis mengatakan hal itu dengan penuh penekanan kata 'ayah kandung' Vina yang panik langsung berusaha untuk menghentikan Luis, tapi pria itu segera menghempaskan tubuh Vina agar menjauh darinya.


Vina kini hanya bisa menangis, Satria langsung menenangkan Vina tapi wanita itu segera memaki Satria dengan kata-kata kasar.


"Apa kau gila! Kau datang ke rumah sakit dan kini semuanya hancur! Rumah tangga ku dengan Luis kini hancur oleh mu, untuk apa kau datang ke sini, Hah? Untuk apa?"


"Meskipun aku tidak datang, semuanya akan tetap terbongkar karena Luis sudah melakukan tes darah dan hasilnya tidak cocok dengan darah Anggun! Dan jika aku tidak datang, anak kita akan mati."


"Aku tidak peduli meski dia mati sekalipun!"


Plak...


Satria menatap Vina dengan tatapan marah, ia kecewa dengan sikap Vina yang bahkan tidak peduli terhadap putri kandungnya sendiri.


Sementara Vina terdiam dengan tangan yang memegangi pipinya, "Kau menampar ku? Atas dasar apa pria brengsek seperti mu menampar ku?!"


"Atas dasar karena kau tidak memiliki naluri seorang ibu! Kau bahkan dengan tega mengatakan tidak peduli meski Anggun mati sekalipun, aku sangat kecewa dengan sikap mu seperti ini. Dan aku sangat kasihan kepada Anggun yang harus terlahir dari rahim seorang wanita yang hatinya seperti iblis!"


Satria langsung pergi meninggalkan Vina begitu saja, kini Vina hanya bisa diam. Kakinya terasa sangat lemas hingga ia terjatuh ke lantai dengan air mata yang mulai mengalir membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


__ADS_2