
Vira berjalan dengan perlahan tangan putihnya membuka sedikit tirai yang menutupi jendela kamarnya, ia bisa melihat situasi desa tempatnya tinggal.
Perasaan iri kembali menyelimuti hati Vira, ia sangat ingin merasakan apa yang di rasakan oleh perempuan lain, saat mereka di manja oleh pasangannya.
Tangisan dari Rafael langsung membuyarkan lamunannya, Vira segera berjalan ke arah putra kecilnya. Ia langsung memangku dan memberikan ASI untuk anaknya, senyuman Vira kembali terlihat saat melihat wajah putra kecilnya.
Suara ketukan di pintu kamar membuat Vira langsung menoleh, ia langsung menyuruh orang itu untuk masuk dan rupanya itu Nila.
"Ada apa?" tanya Vira heran.
"Bu Vira, ada Pak RT di luar dan ingin bertemu dengan anda," ucap Nila yang membuat Vira mengerutkan keningnya saat mendengar jika Pak RT datang berkunjung.
"Pak RT? untuk apa dia datang ke sini," tanya Vira.
"Saya tidak tahu Bu," jawab Nila.
Vira langsung menidurkan dulu Rafael, lalu ia langsung bergegas pergi untuk menemui Pak RT.
"Ada apa yah, Pak?" tanya Vira yang langsung pada intinya.
"Begini Bu, para warga mengadu kepada saya jika anda membuat keresahan," ucap Pak RT.
"Keresahan apa? Perasaan saya tidak menggangu para warga sama sekali," ucap Vira tidak paham.
"Warga mendengar jika anda sudah melahirkan anak tanpa seorang ayah, dan para warga meminta anda untuk pergi dari kampung ini," ucap Pak RT yang langsung mengatakan apa tujuannya datang ke rumah Vira.
__ADS_1
Vira terdiam saat mendengar perkataan dari Pak RT, hatinya terasa teriris pisau ketika mendengar perkataan yang di lontarkan pria paruh baya di depannya.
"Meski saya hamil di luar nikah tapi itu tidak membebaninya warga di sini," ucap Vira.
"Maaf Bu, tapi meski begitu warga sudah sepakat." ucap Pak RT.
"Kalau begitu beri saya alasan yang logis, kenapa saya harus pergi dari rumah ini. Saya membeli rumah dan tanah ini menggunakan uang saya tanpa melibatkan kalian semua," ucap Vira yang sedikit kesal karena ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli rumah di tempat ini.
"Ini menyangkut moral dan dosa," tiba-tiba seorang wanita paruh baya langsung menjawab pertanyaan dari Vira.
Vira langsung melihat ke arah wanita itu yang merupakan salah seorang warga, "Moral?" tanya Vira.
"Iya, kau ini wanita yang tidak memiliki moral dan telah memiliki anak di luar nikah, aku yakin jika kau pasti seorang p*lacur, dan orang-orang di desa ini tidak mau terkena azab karena ulah wanita rendahan seperti mu dan anak yang kau lahir kan itu adalah anak haram yang akan jadi pembawa sial untuk kami semua," ucap wanita paruh baya dengan nada memaki, ia langsung melihat ke arah Vira dengan tatapan jijik tak lupa tangannya pun di kibas-kibas yang memperlihatkan deretan gelang emas yang terpasang di lengan kanan dan kiri.
"Lantas apa jika bukan anak haram? Anak yang lahir tanpa seorang ayah itu adalah anak haram," jawab wanita paruh baya itu dengan nada sombong dan meledek.
"Jaga mulut mu itu dan sebaiknya kalian cepat pergi dari sini," usir Vira yang sudah terlanjur marah.
"Harusnya kau yang segera pergi dari tempat ini, kami para warga tidak menerima perempuan berdosa seperti mu," ucap wanita paruh baya itu dengan tangan yang menunjuk-nunjuk ke arah Vira.
"Ini rumah ku, aku membelinya dengan uang ku dan aku memiliki hak untuk tinggal di sini. Jika anda tetap ingin mengusir saya dengan alasan yang tidak logis, saya bisa melaporkan tindakan kalian atas tindakan yang tidak menyenangkan dengan menganggu privasi orang lain," ucap Vira yang sangat kesal.
"Kau.. Jika kau tidak mau pergi dari rumah ini, maka kami para warga akan menyeret mu secara paksa." Ancam wanita paruh baya dengan nada tinggi.
"Sudahlah Bu Tini, jangan marah-marah. Kita bisa menyelesaikan semuanya dengan musyawarah," ucap Pak RT berusaha menenangkan warganya agar tidak membuat keributan.
__ADS_1
"Jangan halangi saya Pak RT, wanita seperti itu memang harus segera di usir dari kampung kita. Jika dia tidak di usir, kita semua akan kena azab." Ucap Bu Tini dengan nada tinggi yang membuat nyali PK RT langsung ciut.
"Pak RT, anda sebagai seorang RT harus bisa menengahi permasalahan. Jangan berat sebelah dan harusnya anda juga mengajarkan Bu Tini ini sopan santun dan menjaga bicaranya," ucap Vira dengan nada kesal dan marah.
"Sudah ibu-ibu sudah, Bu Tini sebaiknya anda pulang. Masalah ini saya yang urus," ucap Pak RT.
"Anda yang urus? Ya jelas pak RT pasti akan membela wanita rendahan ini karena dia pastinya akan menggoda Anda untuk tidak di usir dari kampung ini," ucap Bu Tini dengan kesal dan langsung menumpu kedua tangannya di dada.
"Jaga mulutmu yah, saya tidak pernah menggoda pria. Dan saya pun tidak mau.." Ucap Vira kesal.
"Omong kosong, kau itu hanyalah wanita penggoda dan sudah merayu para pria," ucap Bu Tini.
"Apa anda punya bukti jika saya pernah merayu atau menggoda para pria?" tanya Vira.
Bu Tini langsung terdiam saat mendengar pertanyaan dari Vira, tapi ia dengan angkuh langsung memaki wanita itu.
"Mana ada maling ngaku maling, semua orang di sini juga tahu kau ini hanyalah wanita rendahan yang suka menggoda para pria, di tambah kau hamil di luar nikah. Itu sudah membuktikan jika kau wanita murahan dan bisa saja sebelum pindah ke sini kau adalah wanita penghibur," ucap Bu Tini dengan nada sombong dan merendahkan.
Vira yang kesal dan marah langsung mengusir wanita itu dengan kasar, ia juga langsung mendorongnya wanita paruh baya itu hingga tersungkur ke tanah.
"Beraninya kau mendorong ku, dasar wanita murahan. Kau dan anak haram mu itu tidak akan pernah di terima di kampung ini," ucap Bu Tina marah.
"Aku tidak peduli, sebaiknya kalian berdua pergi dari rumah ku karena aku tidak menerima tamu yang tidak memiliki moral dan sopan santun seperti mu," ucap Vira.
Vira langsung masuk ke dalam rumahnya dengan kasar ia menutup pintu rumahnya, Bu Tini yang kesal langsung bangkit dan segera pergi meninggalkan rumah Vira, begitu juga dengan Pak RT.
__ADS_1