Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 19


__ADS_3

Vina yang baru pulang dari perusahaan Luis, langsung di datangi oleh pengasuh yang sedang menggendong Anggun.


"Lihat Non Anggun, nyonya sudah pulang." Ucap pengasuh itu seraya mengajak tertawa Anggun.


Vina yang melihat pengasuh memberikan Anggun kepadanya untuk di gendong pun semakin kesal.


"Apa kau ingin di pecat?" tanya Vina.


Pengasuh itu terdiam dan langsung menggelengkan kepalanya, "Jika kau tidak ingin di pecat, kerja yang becus. Kau seorang pengasuh tapi tidak becus mengurus seorang anak," ucap Vina dengan nada tinggi.


"Maaf Nyonya," ucap pengasuh itu dengan kepala yang menunduk.


Vina yang melihat Anggun tersenyum saat melihatnya pun langsung kesal, ia meninggalkan pengasuh dan anaknya begitu saja.


"Vina," panggil Maria yang melihat Vina pergi begitu saja tanpa memperdulikan Anggun.


"Ada apa, Ma?" tanya Vina.


"Kamu kenapa malah mengacuhkan Anggun, dia dari tadi menangis ingin melihat mu." Ucap Maria.


"Aku tidak mengacuhkan Anggun, Ma. Kau hanya ingin membersihkan make up ku, aku tidak ingin jika Anggun menghisap jari atau kulit ku yang masih di lapisi oleh make up dan itu sangat berbahaya untuk nya," ucap Vina yang langsung mencari alasan.


"Mama kira kau akan mengacuhkan Anggun, kalau begitu cepat bersihkan make up mu. Kasihan Anggun sudah menunggu mu dari tadi," ucap Maria yang langsung pergi begitu saja.


Vina yang jengkel hanya bisa menatap malas dan langsung pergi begitu saja, setelah itu ia langsung merawat Anggun dengan perasaan jengkel dan kesal.


"Kenapa sih kau tidak bisa diam sehari saja, gara-gara kau! Aku sampai harus kehilangan waktu bersama dengan Luis, jika bukan karena kau mungkin sekarang aku masih bersama dengan suami ku dan sedang bermesraan." Ucap Vina kesal.


Tapi semua ocehan dan makian yang ia lontarkan kepada Anggun hanya di dengar olehnya karena tidak ada satupun orang yang ada di kamar.


Vina mulai ingat dengan kedua orang tuanya, sudah beberapa bulan mereka tidak menelpon ataupun menanyakan kabarnya.


"Kemana mereka berdua, bahkan sudah beberapa bulan mereka tidak datang berkunjung? Apa mereka sudah tidak menyayangi ku lagi?" ucap Vina kesal.


Lalu Vina mengambil handphone miliknya untuk menelpon Sinta.


"Hallo?"


"Iya Vina, ada apa?"

__ADS_1


"Mama kemana aja, sudah beberapa bulan tidak datang berkunjung bahkan tidak menghubungi ku?"


"Mama tidak kemana-mana, maaf Mama selama beberapa bulan terakhir sibuk arisan bersama dengan teman-teman. Memangnya ada apa?"


"Tidak, aku harap Mama besok bisa datang ke rumah ku."


"Ada perlu apa yah?"


"Kok Mama nanya gitu sih? Emang salah yah jika aku minta Mama datang ke sini?"


"Enggak kok sayang, ya udah besok Mama datang ke sana yah."


"Oke, aku tunggu yah. Tapi Mama, nanti pas datang ke sini tolong bawain makanan kesukaan aku yah, aku kangen masakan buatan Mama."


"Iya sayang, nanti Mama bawain buat kamu."


"Oke deh."


Vina langsung mematikan panggilan kepada Sinta, ia sangat kesal tinggal di rumah seharian dan harus terus menjaga Anggun. Ia menikah dengan keluarga Luis untuk bisa menikmati kenyamanan dan kekayaan dari Luis, bukan malah harus mengurus anak sepanjang hari.


Vina pun memanggil pengasuh Anggun untuk masuk ke dalam kamar, "Ini kau tidurkan Anggun, aku lelah dan ingin istirahat." Ucap Vina yang langsung memberikan Anggun pada pengasuhnya.


"Dan satu lagi, jika Anggun menangis jangan panggil aku. Kau cari cara sendiri agar bisa menenangkan anak itu, aku malas mendengar suara tangisannya." Ucap Vina.


"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu." Pengasuh pun langsung pergi meninggalkan kamar Vina.


Di tempat lain, Vira tengah memangku dan menenangkan Rafael yang baru saja menangis.


"Kenapa dengan Rafael?" tanya Sinta yang ikut melihat ke arah cucunya.


"Biasa Ma, Rafael kadang suka rewel kalau dia lagi ngantuk." Ucap Vira dengan senyuman di wajahnya.


"Begitu yah, apa kau perlu bantuan?" tanya Sinta.


"Tidak Ma, sepanjang siang aku sudah merepotkan mu untuk mengurus Rafael jadi biarkan sekarang aku mengurusnya. Dan Mama bisa istirahat," ucap Vira.


"Baiklah, tapi jujur Mama sangat bangga kepada mu sayang. Kau merawat dan menjaga Rafael dengan penuh kasih sayang, meski kelahiran Rafael bukan sesuatu yang kau inginkan dari awal." Puji Sinta yang melihat bagaimana cara Vira merawat putranya sendiri.


"Mungkin ini naluri seorang Ibu, meski aku tidak menyukai Rafael saat dia baru ada di rahim ku. Tapi entah sejak kapan, aku mulai menyayanginya dan sangat menantikan kelahirannya," ucap Vira yang mengelus wajah tampan putra kecilnya.

__ADS_1


"Mama harap kau bisa menikah dengan pria yang menerima keadaan mu dan juga Rafael," ucap Sinta.


"Iya semoga aja, Ma."


Kini Vira sudah selesai menidurkan Rafael, ia langsung keluar dari kamar tidur Rafael karena Rafael memiliki kamar tidurnya sendiri.


"Apa Rafael sudah tidur?" tanya Sinta.


"Iya sudah, Ma." Jawab Vira.


"Tadi Vina menelpon Mama dan dia ingin besok Mama datang ke rumahnya, sekalian membawa makanan kesukaan Vina." Ucap Sinta.


"Sungguh?"


"Iya, meski Mama sebenarnya kurang suka pergi ke rumah Vina. Terutama jika mengingat bagaimana dia membentak dan memaki kami berdua waktu itu hanya karena permasalahan sepele," ucap Sinta dengan tatapan sendu.


Dari dulu ia dan Wisnu memanjakan Vina karena Vina memiliki penyakit yang mengancam nyawa anak itu, tapi tanpa mereka sangka perlakuannya kepada Vina malah membuat wanita itu menjadi sangat manja dan memanfaatkan kelemahan kedua orang tuanya untuk keuntungannya sendiri.


"Mama, kenapa?" tanya Vira yang menepuk pundak Sinta.


"Ah, Mama tidak apa-apa kok sayang. Kau sebaiknya cepat istirahat, hari sudah mulai menjelang malam dan besok aku harus pergi untuk mengurus bisnis mu." Ucap Sinta.


"Iya Ma, aku juga berencana ingin mengajukan kerja sama dengan perusahaan Andara." Ucap Vira.


"Apa perusahaan Andara? Apa kau sudah mengirim surat perjanjiannya atau aku sudah memiliki jadwal pertemuan?" tanya Sinta memastikan.


"Iya sudah, memangnya kenapa?" tanya Vira bingung melihat ekspresi ibunya.


"Apa kau tahu siapa CEO dari perusahaan Andara?" tanya Sinta memastikan jika anaknya tahu siapa pemilik dari perusahaan Andara.


"Aku tidak tahu, tapi ku dengar dia CEO muda." Jawab Vira.


"Ya ampun, CEO dari perusahaan Andara itu Luis." Ucap Sinta.


Perkataan dari Sinta membuat Vira langsung lemas seketika, ia berusaha mati-matian menghindari Luis dan Vina.


Tapi pada akhirnya ia sendirilah yang menyerahkan dirinya ke hadapan Luis, Vira hanya bisa memaki kebodohannya karena tidak mencari dulu informasi mengenai pemilik perusahaan yang akan menjadi target kerja sama dengannya.


"Lalu bagaimana sekarang, Ma? Besok aku ada janji temu dengan pihak perusahaan Andara."

__ADS_1


__ADS_2