
"Vina, sebaiknya kau jangan membahas tentang hal ini lagi. Menikah dengan ku? bukankah harta dan kekuasaan yang kalian inginkan. Jadi ku harap kau tidak memiliki harapan yang lebih kepada ku."
Setelah mengatakan itu Luis pergi begitu saja tanpa melihat ke arah Vina, dengan perasaan yang hancur. Vina hanya bisa kembali berjalan ke kamar tidurnya, pikirannya pun langsung tertuju pada sosok Vira.
"Bagaimana kabar Vira sekarang?"
*
*
Sudah berbulan-bulan kini usia kandungan Vira sudah menginjak 8 bulan, selama itu pula wanita itu tidak pernah keluar rumah.
Usaha yang ia lakukan pun hanya di lakukan di rumah dengan beberapa orang yang ia percaya karena Vira tidak ingin sampai ada berita jelek tentang nya karena hamil di luar nikah.
"Bu, ini laporan penjualan Minggu kemarin." Ucap seorang wanita yang merupakan pegawai di tempat Vira.
"Terimakasih, kau bisa kembali bekerja." Ucap Vira dengan mata yang langsung tertuju pada laporan keuangan yang baru saja ia terima.
Kehamilannya pun semakin besar dan hal itu juga membuat ia kesulitan untuk berjalan, rasa sakit kadang di rasakan oleh Vira.
Tapi kini pikirannya terus memikirkan masa depan anaknya karena pasti akan sulit untuk memasukkan anaknya ke sekolah karena ia sendiri belum menikah.
"Apa yang harus ku lakukan?"
Vira berada di tengah-tengah perasaan bingung dan dilema, masa depan anaknya terus menjadi rasa takut yang menghantuinya setiap saat.
Jika ia tahu dirinya akan hamil, mungkin Vira tidak akan pernah setuju dengan perjanjian waktu itu.
Vira berjalan mendekati jendela, tatapannya tertuju pada dua sosok wanita dan pria yang tengah berjalan menyusuri jalanan kampung, mereka nampak sangat bahagia dan sesekali pria itu mengelus perut wanita di sampingnya.
Perasaan iri mulai muncul di benak Vira, ia juga menginginkan hal seperti itu. Bisa bersama dengan orang yang ia sayangi di saat dirinya tengah mengandung.
Tapi kenyataan seperti menampar dirinya dengan keras, bahkan ia hamil tanpa memiliki seorang suami dan yang lebih parahnya ia hamil oleh suami adiknya sendiri.
__ADS_1
Hingga seorang pegawai datang dan mengatakan jika orang yang ingin bekerja sama dengan dirinya telah datang.
Vira berjalan dengan memegang perut besarnya, ia melihat sosok pria tampan dengan jas rapi.
"Selamat siang Pak Satria, maaf telah membuat anda menunggu lama." Ucap Vira dengan tatapan lembut seraya melihat ke arah pria di depannya.
Pria itu langsung melihat ke arah Vira, tapi nampak sebuah tatapan terkejut ketika melihat wajah Vira.
Vira mengerutkan keningnya saat melihat tatapan Satria yang melihatnya aneh.
"Ah, maaf. Selamat siang juga Nona Vira, senang bertemu dengan anda." Jawab Satria yang tersadar dari lamunannya.
Lalu Vira dan Satria pun duduk berhadapan, wanita itu langsung menyerahkan dokumen yang ia ajukan untuk kerja sama dengan perusahaan milik Satria.
Satria mulai membaca setiap poin yang ada di dalam kontrak tersebut, "Saya sangat puas dengan kontrak ini, tapi apa boleh saya tahu. Apa benar nama anda Nona Vira?"
Vira langsung mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Satria, "Iya nama saya Vira." Jawab Vira dengan tegas.
Mendengar hal itu Satria tersenyum lalu tanpa banyak bicara lagi, pria itu langsung menandatangani surat perjanjian kerjasama antara dirinya dan juga Vira.
"Senang juga bisa bekerjasama sama dengan anda Pak Satria."
Satria melihat perut Vira yang sudah membesar, pria itu langsung menebak jika Vira tengah hamil.
"Nona Vira sepertinya akan segera melahirkan, boleh saya tahu berapa usia kandungan anda? Maaf jika saya lancang."
"Tidak apa-apa, sudah sekitar 8 bulan lebih."
"Syukurlah, saya harap bayi anda bisa lahir menjadi anak yang baik dan juga cerdas."
"Terimakasih, Pak Satria."
Vira dan Vina kini sama-sama mengandung bedanya usia kandungan Vina lebih tua satu bulan dari pada Vira.
__ADS_1
Di saat Vira tengah berjalan untuk mengantarkan Satria pulang, ia tidak sengaja terpeleset di genangan air.
"Arg..."
Vira langsung terdiam dengan mata yang membulat sempurna, tangan kanannya memegangi perutnya yang terasa sakit. Satria yang melihat Vira terjatuh dengan keadaan terlentang pun langsung membantu wanita itu, tapi tatapan mata pria itu mulai tertuju pada genangan darah yang keluar dari ************ Vira.
Satria langsung memanggil para karyawan Vira untuk membantunya membawa Vira masuk ke dalam mobil, di temani dua orang karyawan. Satria langsung membawa Vira pergi ke rumah sakit yang berada cukup jauh, di sepanjang jalan Satria mengemudikan mobilnya dengan cepat ia takut jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan kepada wanita itu.
"Cepat telpon suami Nona Vira, katakan jika istrinya sedang mengalami kecelakaan. Dan katakan jika dia akan di bawa ke rumah sakit X."
Tapi kedua karyawan Vira hanya bisa diam dan bingung untuk menjawab perkataan dari Satria.
"Apa kalian tuli!?" Maki Satria yang emosi.
Tapi keduanya hanya kembali diam, Satria yang tidak ingin ambil pusing kembali melanjutkan mobilnya.
Hingga kini Vira sudah di tangani pihak rumah sakit, Satria masih belum bisa bernafas lega karena Dokter belum keluar dari ruang operasi.
Karena Vira harus menjalankan operasi sesar untuk mengeluarkan bayi nya, karena Dokter menuturkan jika dengan kondisi Vira yang saat ini wanita itu tidak akan bisa melahirkan secara normal terlebih usia kandungannya pun baru menginjak 8 bulan.
Tatapan Satria kembali melihat ke arah dua orang karyawan Vira, sekali lagi Satria menyuruh mereka untuk menelpon suami Vira agar pria itu cepat datang untuk melihat kondisi istrinya.
"Tapi Bu Vira tidak memiliki suami." jawab seorang karyawan, Satria di buat terkejut dengan kenyataan yang ia ketahui.
"Maksudnya, suami Vira sudah meninggal?"
Kedua karyawan itu langsung menggelengkan kepalanya mereka dengan pelan, "Bu Vira hamil di luar nikah." jelasnya.
Satria kembali di buat terkejut, jadi Vira belum memiliki seorang suami. Tapi pria mana yang tega menghamili wanita itu dan meninggalkan nya tanpa mau bertanggung jawab.
Setelah mengetahui keberadaannya Satria hanya bisa diam dan enggan untuk bertanya lebih banyak, pikirannya kembali melayang pada sosok wanita yang sangat ia kenal.
Wanita yang pernah menjadi pengisi di hatinya tapi kini wanita itu telah pergi bersama dengan kenangan yang selama ini mereka lalui.
__ADS_1
Satria tersenyum dingin jika mengingat pria yang tega menghamili Vira dan meninggalkan wanita itu begitu saja, baginya ia dan pria itu tidak ada bedanya.
Ia juga seorang pria pengecut yang telah meninggalkan kekasihnya hanya karena tidak memiliki keberanian.