Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 51


__ADS_3

Vina keluar dari mobil Satria, ia merasa sangat kesal dan sakit hati jika berada lebih lama dengan pria itu.


Tapi Satria langsung mengejar Vina dan memegang tangan wanita itu, "Lepas!" Maki Vina yang menghempaskan tangan Satria dengan kasar.


"Vina, aku minta maaf. Maaf karena keegoisan ku dan sikap ku yang tidak mau bertanggung jawab yang membuat mu menjadi sangat menderita."


"Selama aku masih hidup, aku tidak akan pernah memaafkan mu. Semua ini gara-gara kau! Jika kau tidak pergi meninggalkan ku begitu saja, mungkin hidup ku tidak akan se menderita ini. Dan jika kau tidak merayu ku untuk melakukan hal itu, mungkin sekarang aku sudah bahagia bersama dengan Luis. Tapi gara-gara kau, hidup ku sekarang jadi hancur!"


Vina memaki Satria dengan suara yang kencang, "Arg.. Aku membencinya mu!"


Satria langsung memeluk Vina dan berusaha untuk menenangkannya, ia tahu kini Vina sedang berada di titik paling rendah. Dimana semua kehancuran hidup Vina dimulai olehnya yang telah merebut kesucian Vina dan pergi begitu saja.


"Lepaskan!" Vina dengan marah langsung melepaskan pelukan Satria pada tubuhnya, wanita itu mulai berjalan meninggalkan Satria. Tapi belum sampai beberapa langkah, kepalanya terasa pusing dan Vina pun langsung jatuh pingsan.


Satria segera membawa Vina yang sudah tidak sadarkan diri.


***


Sudah 1 Minggu berlalu, kini Luis dan Sabrina sudah harus pulang ke rumah karena liburan mereka di Bandung sudah selesai.


Rafael kini nampak sangat akrab dengan Sabrina yang membuat Luis merasa senang dengan kedekatan mereka berdua.


Setelah mengantarkan Sabrina pulang, Luis langsung pulang ke rumahnya. Tapi ia melihat beberapa pelayan tengah berlalu lalang seperti tengah panik.


"Ada apa?" Luis mendekati seorang pelayan yang tengah memasang ekspresi panik.


"Tuan anda sudah pulang, Nona muda."

__ADS_1


"Ada apa dengan Anggun?"


"Nona muda mengalami demam selama 1 Minggu ini, ia merindukan Nyonya Vina." Jelas pelayan dengan wajah yang menunduk.


"Memangnya Vina kemana?" Luis menatap bingung, ia masih belum tahu tentang keributan yang di buat oleh Vina yang menyebabkan wanita itu di usir oleh Maria.


"Nyonya besar mengusir Nyonya Vina karena beliau menyebabkan keributan." Pelayan itu hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Rafael, kau kembali ke kamar mu dan beristirahat. Papa ingin melihat Anggun dulu." Luis mengelus kepala Rafael dengan lembut, anak itu langsung bergegas pergi ke kamarnya di temani oleh seorang pelayan.


Luis langsung berjalan masuk ke dalam kamar Anggun, ia melihat Maria tengah duduk di samping Anggun dan begitu juga dengan ayahnya yang baru pulang dari luar negeri.


"Luis, anakmu sakit tapi kau malah pergi ke luar kota." Steven langsung memarahi Luis karena baginya Luis sudah teledor dalam mengurus Anggun.


"Iya aku tahu, aku salah. Tapi kenapa Anggun tidak di bawa ke rumah sakit saja?" Tanya Luis.


Maria langsung menggelengkan pelan kepalanya, "Mama sudah membujuknya tapi Anggun malah memberontak dan berteriak, sementara kondisinya sekarang sudah sangat kritis."


Tapi Anggun menggelengkan kepalanya pelan, "Anggun ingin bertemu dengan Mama."


Luis langsung melihat ke arah Maria, "Dimana Vina?"


"Mana ku tahu, aku sudah mengusirnya 1 Minggu yang lalu dan wanita itu tidak kembali lagi."


Luis hanya bisa menghubungi Vina untuk saat ini, tapi rupanya nomor Vina tidak aktif. Lalu Luis langsung meminta anak buahnya untuk mencari Vina karena ia tidak mau melihat Anggun sakit terus menerus.


"Sekarang kau minum obat dulu, Papa janji akan membawa Mama kembali." Luis membelai wajah Anggun, anak itu hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Tapi Papa beneran kan bawa Mama kembali?"


"Iya, ayah janji. Sekarang kau harus minum obat, setelah itu kita perlu ke rumah sakit."


"Enggak mau, aku mau kalau ada Mama."


"Anggun, jangan buat Papa marah."


Tapi Anggun keras kepala, ia tetap tidak mau minum obat dan di bawa ke rumah sakit sebelum Vina di temukan.


Cukup lama menunggu, kini anak buah Luis sudah kembali dengan membawa Vina.


Vina yang kesal dengan perlakuan keluarga Luis hanya memalingkan wajahnya, "Untuk apa kau membawa ku kembali ke sini? Bukankah ibu mu telah mengusir ku?" Vina dengan nada angkuh langsung menyindir Maria.


"Anggun membutuhkanmu dan sekarang dia tengah sakit, ku harap kau bisa membujuknya untuk pergi ke rumah sakit dan meminta obatnya."


"Hah? Kau meminta ku ke sini hanya karena Anggun, kalian semua memang orang yang tidak tahu malu. Di saat kalian tidak menginginkan ku, kalian malah mengusir ku dan sekarang kalian membutuhkan ku. Dan tanpa rasa malu atas apa yang kalian lakukan kalian langsung membawa ku ke sini tanpa meminta persetujuan dari ku."


"Vina, ini bukan saatnya berdebat. Sebaiknya kau cepat bujuk Anggun, aku tidak ingin kondisinya semakin parah."


"Aku tidak peduli, setelah apa yang kalian lakukan. Jadi kenapa aku harus peduli?"


"Vina jangan menguji kesabaran ku!"


"Siapa yang menguji kesabaran mu? Harusnya aku yang mengatakan hal itu, kau selama seminggu ini malah bersenang-senang dengan anak pungut dan wanita hina itu. Lalu apa kau memiliki Anggun? Tidak kan, jadi jangan berpura-pura seolah kau peduli terhadap Anggun. Jika kau peduli kepadanya, harusnya kau juga memberikan perhatian mu kepada Anggun bukan kepada anak pungut itu yang bahkan tidak di ketahui asal-usul ayahnya."


Luis terdiam saat mendengar perkataan Vina yang memang ada benarnya, ia terus memperhatikan Rafael hingga dirinya lupa para sosok Anggun yang juga membutuhkan perhatian darinya.

__ADS_1


"Sebaiknya kau bujuk Anggun!"


Melihat tatapan Luis yang nampak serius dan dingin, Vina hanya bisa melenggang pergi ke arah Anggun. Ia langsung membujuk putrinya untuk mau minum obat dan di bawa ke rumah sakit karena mengingat kondisinya yang semakin buruk.


__ADS_2