Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti

Belenggu Cinta Si Wanita Pengganti
Bab 11


__ADS_3

Luis duduk terdiam, ia masih memikirkan sosok Vina yang berbeda jauh dengan Vina yang ia tiduri saat malam pernikahan mereka.


Meski Luis curiga tapi ia tidak mendapatkan bukti apapun, beberapa kali Luis menyewa detektif swasta untuk mencari tahu tentang keluarga Vina tapi yang ia dapatkan hanyalah informasi bisa.


Dan lagi Pak Wisnu dan Sinta hanya memiliki 1 anak yaitu Vina, Luis berusaha berpikir jernih mungkin saat itu ia terlalu banyak minum tapi hati kecilnya selalu mengatakan jika wanita itu bukanlah Vina tapi orang lain.


Hingga Luis mendapatkan pesan dari sekertaris nya yang mengatakan jika Maria dan Vina tadi baru datang ke rumahnya untuk menanyakan beberapa hal, Sella juga mengatakan jika Maria dan Vina menuduhnya memiliki hubungan dengan dirinya.


Luis yang mendapati pesan dari Sella langsung jengkel dengan sikap Vina dan Maria, kedua wanita itu sangat membuatnya muak. Jika bukan karena Maria ibunya, ia pasti sudah memaki wanita itu habis-habisan.


Luis memejamkan matanya ia mulai membayangkan sosok wanita yang tidur bersamanya di saat malam pernikahan mereka, wanita yang sangat unik dan tidak kaku.


Sikapnya yang seperti anak kecil membuat Luis tergoyahkan tapi ia tidak bisa melihat sikap itu di Vina, wanita saat itu seperti dua orang yang berbeda tapi memiliki wajah yang sama.


Pintu ruangan Luis tiba-tiba di buka secara paksa, pria itu mulai membuka matanya secara perlahan dan melihat sosok yang datang tanpa tahu sopan santun.


"Luis," panggil Maria yang langsung menghardik anaknya.


"Ada apa?" tanya Luis dengan tatapan kesal.


"Aku ingin kau pecat sekertaris sialan mu itu," ucap Maria.


"Tidak," jawab Luis dengan tegas.


"Kenapa?" tanya Maria sedikit emosi.


"Sella bekerja di bawah perintah ku dan di perusahaan ku, Mama yang sebaiknya jangan ikut campur karena kau hanya orang luar di perusahaan ku," ucap Luis.


"Apa? Aku ini ibumu. Orang yang telah melahirkan mu, ingat itu!" ucap Maria.


"Hubungan pribadi tidak bisa di bawa ke dalam urusan perusahaan, dan aku adalah orang yang profesional." Jawab Luis dengan tatapan yang tegas.


"Tapi kau harus memikirkan perasaan Vina, dia pasti sangat marah saat mengetahui jika kau malah makan bersama dengan sekertaris mu," ucap Maria.

__ADS_1


"Harusnya dia yang bisa bersikap dewasa dan bisa membedakan mana urusan kantor dan yang bukan," jawab Luis yang masih bersikap tegas.


Maria hanya bisa terdiam saat mendengar Jawa dari anaknya, dengan lembut Luis langsung menyuruh Maria untuk segera keluar karena ia masih memiliki banyak urusan.


Dan di saat Maria keluar, Luis langsung meminta pelayan untuk memanggil Vina datang ke ruangannya.


"Ada apa, Mas?" tanya Vina dengan tatapan bingung.


"Apa maksud dari semua ini?" tanya Luis yang langsung pada inti permasalahannya.


"Apa maksud mu, aku tidak paham?"


"Kau tidak paham? Kau dan Ibu ku datang ke rumah Sella, untuk apa?" tanya Luis dengan berjalan mendekati Vina.


Wanita itu terdiam dengan wajah yang sedikit panik, "Vina, aku kecewa dengan sikap mu yang kekanak-kanakan seperti ini. Kau bahkan tidak bisa membedakan mana sikap profesional ku," ucap Luis yang masih menatap dingin istrinya.


"Maafkan, aku Mas. Aku janji tidak akan seperti ini lagi, tapi aku dari awal tidak memiliki niatan untuk pergi ke rumah Sella," ucap Vina yang langsung membela dirinya.


"Baik Mas, tapi Anggun sangat merindukanmu. Apa kau bisa meluangkan waktu bersama dengan anak kita?" tanya Vina dengan nada lembut.


"Akan ku usahakan," jawab Luis yang kembali pokus kepada beberapa dokumen yang ada di depan matanya.


Vina tersenyum, lalu ia langsung membalikkan tubuhnya dan di saat itu pula senyumannya berubah menjadi tatapan marah dan penuh kekesalan.


Vina berjalan masuk ke dalam kamarnya, ia sangat marah dan kesal terhadap sikap Luis yang memperlakukannya sangat dingin.


Mereka sudah menikah beberapa bulan tapi selama itu pula Luis sama sekali tidak pernah membuka hati untuknya.


"Sebenarnya apa kurang ku? Aku cantik, aku berpendidikan, berpenampilan menarik dan dari kelas atas. Tapi kenapa kau selalu mencampakkan ku," ucap Vina yang sangat kesal.


Terdengar suara tangisan bayi yang menggema di kamar Vina, emosinya semakin tidak terkendali saat mendengar suara tangisan bayinya.


"Apa kau bisa diam, bayi sialan!" maki Vina yang kesal, ia kesal meski dirinya sudah memiliki anak tapi hal itu tidak membuat Luis baik kepadanya.

__ADS_1


"Harusnya kau lahir menjadi seorang bayi laki-laki bukan malah perempuan, sia-sia aku mengandung mu selama 9 bulan." Ucap Vina yang semakin marah dan suara tangisan Anggun pun semakin kencang.


Vina yang kesal langsung menampar dengan cukup kencang pipi bayinya, tapi suara Anggun malah makin kencan.


"Apa kau bisa diam, sadar bodoh." Maki Vina yang menutup mulut Anggun dengan tangannya.


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Vina, "Vina, ada apa dengan Anggun?" Suara Maria terdengar dari luar pintu.


Vina yang panik langsung menggendong bayinya dengan lembut dan berusaha seakan tengah menenangkan Anggun, Vina langsung berjalan ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa? Kenapa Anggun menangis terus-menerus dan sangat kencang?" tanya Maria.


"Tadi hiasan di tempat tidur bayi jatuh dan sepertinya mengenai wajah Anggun," ucap Vina mencari alasan.


"Astaga, bagaimana bisa? Siapa pelayan yang memasang hiasan bayi di atas tempat tidur, beraninya dia tidak memasang dengan benar." Maria sangat marah saat mendengar perkataan dari Vina.


"Sudah Ma, jangan salahkan pelayan. Sebaiknya aku memberinya ASI dan berusaha untuk memenangkan," ucap Vina.


"Kita harus ke dokter, Nak. Mama takut terjadi apa-apa pada Anggun, bagaimana jika kepalanya cedera. Lagi pula dia masih kecil dan tulang-tulang nya masih lunak," ucap Maria yang khawatir melihat keadaan cucunya.


Vina terdiam dengan wajah yang sedikit panik, "Tidak perlu Ma, biar aku saja yang menenangkan Anggun. Mungkin Anggun hanya kaget dan bisa saja benda itu juga tidak mengenai wajahnya," ucap Vina.


"Baiklah jika itu mau mu, tapi jika ada apa-apa kita harus langsung pergi ke rumah sakit."


"Baik Ma, kalau begitu aku akan memberi Anggun ASI dulu di kamar," ucap Vina.


"Baiklah, jika kau butuh bantuan ataupun apa-apa, kau bisa memanggil Mama."


"Baik Ma."


Vina langsung kembali masuk ke dalam kamar, ia sangat khawatir setengah mati karena hampir saja ia ketahuan melakukan kekerasan pada anaknya.


"Jika sampai wanita tua itu tahu Anggun, gue tampar. Bisa habis gue di maki atau bisa saja di usir."

__ADS_1


__ADS_2