
Sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi Vina, wanita itu langsung melihat ke arah Maria yang tiba-tiba datang dan menamparnya.
"Apa maksudmu, tiba-tiba menampar ku?!" Maki Vina yang tidak terima.
"Tamparan itu sangat layak untuk orang yang bahkan mendidik anaknya dengan buruk," ucap Maria.
"Apa maksudmu, aku mendidik Anggun dengan buruk?" tanya Vina yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Maria.
"Kau mengajarkan Anggun untuk memanggil Rafael sebagai anak pungut, apa kau lupa? Jika sekarang Rafael juga menjadi bagian dari keluarga ini. Apalagi Rafael masih kecil, tapi kau malah mengintimidasinya seperti itu!" Maki Maria yang kesal dengan sikap Vina karena beraninya dia mengintimidasi seorang anak kecil.
"Tapi itu memang faktanya, anak itu adalah anak pungut jadi wajar jika Anggun memanggilnya seperti itu." Jawab Vina dengan senyuman mengejek.
"Meski begitu, tapi kau tidak sepantasnya memanggil Rafael seperti itu. Jika hal ini terulang lagi, aku akan meminta Luis untuk memberikan pelajaran kepada mu." Ucap Maria yang langsung berlalu pergi meninggalkan Vina.
Kini Maria berjalan melewati kamar Rafael, ia melihat Rafael tengah tidur siang. Secara perlahan wanita masuk ke dalam kamar dan rupanya Luis juga sedang berada di dalam kamar.
"Luis, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Maria yang langsung melihat ke arah putranya.
"Aku hanya menemani Rafael sampai dia tertidur," jawab Luis yang mulai bangun dari tempat duduknya.
"Begitu, sebaiknya kau beri tahu istri mu untuk tidak mengajari Anggun hal yang aneh-aneh." Maria langsung menyuruh Luis, agar bisa mendidik Vina dengan benar.
"Pasti." Jawab Luis.
Mata Maria terpaku pada sosok Rafael yang tengah tertidur pulas, tangannya membelai rambut Rafael yang sangat lembut.
"Entah kenapa, Rafael sangat mirip denganmu saat masih kecil." Ucap Maria dengan mata yang masih terpaku pada sosok Rafael.
Luis yang mendengar hal itu hanya diam, ia memang selalu berpikir jika wajah Rafael sangat mirip dengannya.
"Awalnya Mama berpikir mungkin hanya perasaan ku saja, tapi setelah beberapa tahun. Rafael tumbuh dan wajahnya sangat mirip dengan mu," ucap Maria yang melanjutkan perkataannya.
Lalu Maria pun langsung bangkit dan keluar dari kamar tidur Rafael, begitu juga dengan Luis. Ia harus kembali lagi ke kantor karena ada beberapa urusan yang belum di selesaikan.
Sabrina sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia sangat lelah dan letih dengan pekerjaan yang menumpuk.
__ADS_1
Hingga sosok Luis terlihat tengah berjalan menuju ruang kerja miliknya, Sabrina pun tersenyum tipis.
Ia mengambil sebuah dokumen yang memang harus di lihat dan di tanda tangani oleh Luis.
"Selamat sore, Pak Luis." Sapa Sabrina.
"Ada apa?" tanya Luis dengan mata yang melihat ke arah Sabrina, tapi entah kenapa tampilan Sabrina sangatlah cantik dan familiar baginya.
"Ini ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani dan di lihat," ucap Sabrina yang langsung menyerahkan dokumen itu kepada Luis.
Luis bisa mencium wangi parfum yang tidak asing baginya, tanpa melihat dokumen itu Luis langsung menandatanganinya.
"Terimakasih, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Sabrina.
"Kau mau pulang?" tanya Luis yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB.
"Iya Pak," jawab Sabrina.
"Bagaimana jika aku mengantarmu pulang," ucap Luis, entah kenapa ia merasa tidak asing dengan sosok Sabrina.
"Tentu saja boleh, lagi pula pekerjaan saya sudah selesai." Jawab Luis.
Luis langsung membereskan mejanya, ia segera mengambil kunci mobil dan mengajak Sabrina untuk pulang.
Di dalam mobil Sabrina merasa kurang nyaman dengan rok miliknya yang terus terangkat hingga ke atas, melihat hal itu Luis langsung melepaskan jasnya dan memberikan kepada Sabrina untuk menutupi pahanya.
"Terimakasih, Pak." Ucap Sabrina dengan senyuman manis.
Kini mobil Luis sudah sampai di sebuah rumah yang berada jauh dari perkotaan, bahkan Luis sedikit heran kenapa Sabrina malah tinggal di rumah yang bahkan cukup jauh dari tempatnya bekerja.
"Pak Luis, apa anda mau masuk dulu?" tanya Sabrina ramah.
"Tentu saja," jawab Luis.
Ia langsung mengikuti Sabrina masuk ke dalam rumah, Luis bisa melihat isi rumah wanita itu yang sangat rapi dan banyak jendela kaca yang langsung menghadap ke pemandangan hutan.
__ADS_1
"Apa kau tidak takut tinggal sendirian di sini?" tanya Luis penasaran.
"Tidak, saya lebih menyukai tinggal di tempat seperti ini." Jawab Sabrina. "Apa Pak Luis lapar? Jika lapar, saya akan membuatkan makanan untuk anda." Sambung Sabrina.
Mendengar hal itu Luis terdiam, mungkin Sabrina adalah wanita kedua yang memasak makanan untuknya.
"Iya aku lapar," jawab Luis.
Mendengar hal itu Sabrina tersenyum, ia langsung pergi ke dapur dan memasak makanan untuk Luis.
Luis bisa melihat bagaimana cara Sabrina memasak dan sangat mirip dengan Vira, seketika perasaan rindu pada Vira pun muncul.
Meski sudah 5 tahun sejak kepergian Vira, Luis sama sekali tidak pernah bisa melupakan wanita itu. Dan kini setelah kehadiran Sabrina, entah kenapa Luis merasa Sabrina sangat mirip dengan Vira. Bahkan wangi tubuhnya pun sangat mirip dengan Vira dan hal itu membuat Luis ingin memeluk Sabrina.
Di saat Sabrina tengah memasak, sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluk pinggangnya tapi Sabrina tidak kaget sama sekali.
"Pak Luis," panggil Sabrina.
Luis yang menyadari ketidaksopanan pun hendak melepaskan pelukannya, tapi Sabrina langsung berbalik hingga wajah mereka saling menatap satu sama lain.
"Saya melihat jika Pak Luis seperti tengah menanggung sebuah beban yang sangat berat," ucap Sabrina dengan mata yang melihat ke arah Luis.
"Iya, aku sekarang tengah memikirkan seseorang." Jawab Luis.
"Apa boleh saya tahu, siapa orangnya?" tanya Sabrina.
"Dia orang yang paling ku cintai dan setelah melihatmu rasa rindu ku kepadanya semakin memuncak karena kau sangat mirip dengannya," jawab Luis.
"Siapa nama wanita yang beruntung itu?" tanya Sabrina.
"Vira, namanya Vira." Jawab Luis.
Mendengar hal itu Sabrina tersenyum bahagia, ia sangat bahagia karena Luis begitu mencintai dirinya.
"Jika aku mirip dengannya, maka aku bersedia menjadi penggantinya untuk melampiaskan rasa rindu mu." Jawab Sabrina, meski sebenarnya ia adalah Vira.
__ADS_1
Mendengar hal itu Luis langsung memeluk Sabrina dengan erat, entah kenapa ia seperti memeluk Vira baik tubuh maupun wangi parfumnya.