
Vina berada di rumah sakit dengan ekspresi yang masih kesal, kedatangan Vira membuat Vina sangat marah. Kini semua orang tahu jika ayah dan ibunya memiliki putri lain selain dirinya.
Terlebih lagi Vina semakin kesal saat mendengar jika Vira memiliki seorang anak laki-laki dan anak itu darah daging suaminya sendiri, Vina tidak bisa membiarkan Vira berdekatan dengan Luis.
"Aw..." Vina merintih kesakitan karena ia terjatuh dan kepalanya terbentur ke lantai, ini semua gara-gara Luis yang tidak mau menahan tubuhnya. Alhasil sekarang kening Vina harus benjol.
Di saat Vina tengah duduk di atas ranjang rumah sakit, tiba-tiba pintu ruang rawatnya di buka dan rupanya itu Maria.
Wanita itu dengan cepat segera datang ke rumah sakit karena mengkhawatirkan kondisi Vina.
"Sayang, bagaimana keadaan mu? Apa kau baik-baik saja." Tanya Maria dengan wajah yang khawatir.
"Ma, aku baik-baik saja. Tapi aku sangat sedih karena tidak bisa menghadiri acara pemakaman kedua orang tua ku," ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sabar yah sayang, kau tidak boleh berkata seperti itu." Maria langsung mengelus rambut Vina.
"Lalu dimana Mas Luis? Apa dia datang ke sini?" tanya Vina.
"Tidak sayang, Luis menghadiri pemakaman orang tua mu." Jawab Maria dengan sedikit ekspresi bersalah.
Vina langsung terdiam, ia mulai menduga jika Vira akan mengambil kesempatan ini untuk berduaan dengan Luis. Tanpa memikirkan keadaannya, Vina langsung bangkit dari tempat tidurnya.
"Kau mau kemana?" tanya Maria panik saat melihat Vina bergegas pergi.
"Aku mau pulang, aku gak mau jika kembaran ku berusaha untuk menggoda Mas Luis." Ucap Vina yang kesal.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, nak?" tanya Maria dengan heran.
__ADS_1
"Ma, ini semua memang masa lalu. Tapi kembaran ku Vira, dia selalu menginginkan apa yang aku punya. Bahkan saat aku menikah, dia dengan lantang ingin memiliki Mas Luis. Lalu ayah dan Ibu yang mengetahui hal itu langsung mengusir Vira dari rumah, sekarang aku sangat terkejut saat melihat kedatangan nya kembali." Ucap Vina yang langsung menangis.
Mendengar tangisan dari Vina, membuat Maria merasa iba. Ia langsung membantu Vina untuk berjalan menuju mobil yang ada di parkiran.
Kini Vina sudah berada di rumah keluarganya, ia bisa melihat sosok Vira tengah duduk di atas sofa. Perasaan marah dan kesal langsung memuncak di benak Vina, wanita itu segera berjalan menghampirinya saudara kembarnya.
Vira langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki mendekatinya, wanita itu hanya menatap lesu ke arah Vina. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan wanita itu karena perasaan sedih atas kehilangan kedua orang tuanya membuat Vira tidak bersemangat dan masih di selimuti rasa duka.
"Sekarang ayah dan ibu sudah di makamkan, sebaiknya kau cepat pergi dari sini!" Ucap Vina yang langsung mengusir Vira.
Vira menoleh ke arah Vina, senyuman penuh ejekan mulai terlihat di wajah cantik Vira dan hal itu membuat Vina semakin marah.
"Kenapa kau buru-buru mengusir ku? Apa kau takut?" tanya Vira dengan alis yang di angkat sebelah.
"A..pa yang kau katakan, lagi pula ayah dan ibu sudah mengusir mu dan kau juga sudah bukan anaknya lagi. Jadi sebaiknya kau pergi atau ku panggil keamanan untuk mengusir mu dari sini," ucap Vina yang semakin kesal.
Dia saat keduanya tengah berdebat, Luis langsung datang dan membuat Vina terkejut.
"Mas, aku sedang mengobrol dengan saudara ku." Jawab Vina dengan perasaan gugup.
"Oh, lalu ku dengar jika kau ingin mengusir Vira?" tanya Luis memastikan pendengarannya.
"Iya, istri mu sudah tidak sabar ingin segera mengusir ku." Jawab Vira yang tiba-tiba bersuara dan hal itu membuat Vina semakin jengkel dengan wanita di depannya.
"Kenapa? Lagi pula ini juga rumah milik Vira, kalian itu saudara kandung. Dan kau Vina, sebaiknya kau bersikap lebih dewasa," ucap Luis dengan nada tegas, hal itu membuat Vina langsung berkaca-kaca hendak menangis.
"Kenapa Mas Luis mengatakan hal itu? Apa menurutmu aku tidak dewasa," ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"CUKUP Luis! Kamu selalu saja membuat Vina menangis, dan sekarang kau membela wanita yang bahkan tidak jelas asal-usul itu." Ucap Maria yang menatap jijik ke arah Vira.
"Asal usul Vira sudah jelas, dia itu saudara kembar Vina. Jadi Mama jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi," ucap Luis yang berusaha tetap tenang.
"Terserah kau saja, tapi meski begitu. Kau tidak seharusnya membela wanita itu, yang harus kau bela itu Vina. Dia itu istri mu yang sah secara agama dan juga negara." Ucap Maria.
Luis hanya bisa menghela nafas panjang, Maria memang sangat keras kepala dan hal itu membuat Luis enggan untuk adu mulut dengan ibu kandungnya sendiri.
"Luis, bawa Vina untuk beristirahat. Dia baru saja keluar dari rumah sakit," ucap Maria yang menyuruh Luis untuk segera membawa Vina ke kamar.
Luis hanya bisa menuruti perkataan dari ibunya, ia langsung membawa Vina menuju kamar yang berada di lantai dua.
Kini hanya ada Maria dan Vira, wanita paruh baya itu menatap sosok Vira dari atas Sampai bawah.
"Jadi kau Vira, kembaran dari Vina!" Ucap Maria yang mulai duduk berhadapan dengan Vira.
"Iya, saya Vira. Dan senang bisa bertemu dengan anda," sapa Vira yang nada bicaranya mengandung keramahan.
"Aku tahu kau kembali lagi ke sini karena sedih atas kepergian kedua orang tua mu dan aku paham itu," ucap Maria yang mulai basa-basi.
"Terimakasih atas perhatiannya," jawab Vira dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Tapi aku ingatkan kepada mu, jika kau datang hanya untuk sekedar mendekati Luis jangan harap kau bisa melakukan nya." Ucap Maria yang langsung memberikan peringatan keras kepada Vira.
Vira nampak bingung dengan perkataan Maria yang secara tiba-tiba menuduhnya, "Maaf, sepertinya anda salah paham. Saya ke sini murni karena ingin menghadiri pemakaman kedua orang tua saya, bukan untuk melakukan hal yang anda tuduhkan barusan." Jawab Vira dengan nada tegas.
Maria yang mendengar Jawa dari Vira, hanya bisa menatap Vira dengan tatapan merendahkannya. Baginya meski Vira saudara kembar Vina, tapi jika wanita itu melukai Vina maka Maria tidak akan pernah bersikap ramah sama sekali.
__ADS_1
Di sela-sela keheningan yang menyelimuti kedua orang itu, pintu rumah terbuka menampik sosok pria yang tadi menemani Vira di pemakaman.
Vira langsung menoleh dan melihat sosok Satria sudah berdiri di depan pintu dengan senyuman yang mengarah kepadanya.