
5 tahun kemudian.
Seorang wanita cantik berjalan dengan anggun dan elegan, di tangannya sudah ada sebuah dokumen berisikan CV miliknya. Ia datang ke perusahaan Luis untuk mendaftar sebagai sekertaris pribadi pria itu.
Hingga sesi wawancara pun di mulai, banyak pertanyaan yang di ajukan oleh pihak HRD dan wanita itu menjawabnya dengan tepat. Dan Luis yang ikut mengajukan pertanyaan pun merasa puas dengan jawaban yang di berikan wanita itu.
Sabrina seorang wanita cantik yang memiliki tubuh indah, ia tidak segan-segan menggunakan pakaian mini dan hal itu membuatnya di tatap oleh para pria.
Kini Sabrina sudah di perbolehkan untuk memulai pekerjaannya, ia terdiam sesaat. Tatapan matanya menatap sebuah cermin kecil di tangannya.
"Meski sudah 5 tahun, aku masih belum terbiasa dengan wajah baru ku." Ucap Sabrina dengan senyuman tipis.
Lalu tatapan matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang tengah berjalan dengan seorang gadis kecil di sampingnya, Sabrina sudah sangat tahu dengan sosok wanita yang dulu memiliki wajah yang sama dengannya.
"Selamat siang, Bu Vina." Sapa Sabrina dengan senyuman lembut.
Vina langsung mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita asing di depannya. "Siapa kau?" tanya Vina penasaran.
"Perkenalkan nama saya Sabrina, sekertaris baru Pak Luis." Jawab Sabrina dengan senyuman hangat.
Tapi tatapan mata Vina melihat dari atas sampai bawah, ia memandang rendah wanita di depannya terutama dengan rok mini yang wanita itu gunakan.
Tanpa menjawab sapaan dari Sabrina, Vina langsung pergi begitu saja dengan membawa anak kesayangannya.
Lalu tatapan mata Sabrina melihat para seorang anak laki-laki yang sangat manis dan berjalan mengekor aga jauh dari Vina.
Sabrina langsung terdiam karena ia sudah langsung tahu jika anak itu adalah Rafael putra kandungnya.
Dengan hati senang Sabrina berjalan menghampiri Rafael.
"Selamat pagi, tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sabrina.
Rafael menatap penasaran dan sendu kepada Sabrina, "Tante, siapa?" tanya Rafael dengan nada lembut.
__ADS_1
Mendengar hal itu ada rasa sakit di hati Sabrina, ia ingin sekali memeluk putra kecilnya dan melampiaskan rasa rindu di hatinya tapi itu semua tidak bisa ia lakukan.
Tapi Rafael hanya diam, tatapan matanya melihat ke arah Vina dan Anggun yang sudah masuk ke dalam ruangan Luis.
"Apa tuan muda, ingin saya antar ke ruangan Pak Luis?" tanya Sabrina.
Dan Rafael langsung menggelengkan kepalanya, Sabrina terdiam entah apa yang membuat Rafael tidak ingin masuk. Lalu Sabrina langsung mengajak putra kandungnya untuk duduk di tempatnya.
Rafael langsung mengiyakan ajakan dari wanita yang belum pernah ia temui, "Siapa Kakak cantik ini? Tapi aku merasa sangat nyaman bersamanya." Pikir Rafael.
Rafael hanya duduk di ruang kerja Sabrina, sementara wanita itu melanjutkan pekerjaannya. Setelah jam menunjukkan waktu makan siang, Sabrina langsung mengeluarkan bekal miliknya.
Ia membawa bekal itu hanya karena berharap bisa bertemu dengan Rafael, Sabrina sengaja membawa bekal dengan hiasan-hiasan yang lucu.
"Apa Tuan muda lapar? Saya membawa bekal, apa anda ingin mencobanya?" tanya Sabrina yang duduk di samping Rafael.
"Apa boleh, Tante?" tanya Rafael dengan mata yang melihat ke arah Sabrina.
"Tentu saja boleh," jawab Sabrina yang ingin sekali menangis karena ini kali pertamanya ia bertemu dengan anak kandungnya lagi.
"Bagaimana, apakah tuan muda suka dengan makanan ini?" tanya Sabrina dengan jantung yang berdebar-debar.
"Suka Tante, apakah boleh Rafael makan?" tanya Rafael dengan wajah yang polos.
"Tentu saja boleh," jawab Sabrina.
"Tante, bisakah Tante jangan memanggil Tuan muda. Rafa tidak suka mendengar nya," ucap Rafael yang tidak nyaman dengan panggilan dari Sabrina.
"Tentu, Rafa. Kalau begitu, kau bisa memakan makanannya sekarang." Ucap Sabrina dengan tatapan hangat.
"Terimakasih Tante," jawab Rafael yang langsung memakan makanan milik Sabrina dengan lahap.
Setelah selesai makan, tiba-tiba seorang gadis kecil datang ke ruang kerja Sabrina. Wanita itu sudah tahu jika itu adalah Anggun, anak dari Vina.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, anak pungut!?" Ucap Anggun, mendengar hal itu Sabrina tersentak karena ia sebagai ibu kandung Rafael merasa sakit hati dengan perkataan Anggun.
"Meski aku hanya anak angkat, tapi Papa Luis sangat menyayangi ku daripada kamu!" Jawab Rafael dengan marah.
Mendengar hal itu Anggun langsung marah dan berteriak-teriak, ia langsung menangis dan membuat Vina segera menghampiri putrinya.
"Ada apa sayang?" tanya Vina yang langsung memangku putri kecilnya.
"Mama, anak pungut itu sudah menghina ku. Hiks.. Hiks.. Hiks.." Ucap Anggun yang langsung memeluk Vina.
Mendengar hal itu Vina marah, ia melepaskan pelukan Anggun dan menghampiri Rafael untuk menghukumnya.
"Beraninya kau menghina putri ku," maki Vina yang ingin menjewer telinga Rafael, tapi Sabrina langsung menghalangi hal itu.
"Nyonya Vina, tidak baik menghukum anak sekecil ini hanya karena permasalahan kecil." Ucap Sabrina yang langsung menghalangi Vina.
Rafael yang takut langsung bersembunyi di balik tubuh Sabrina, "Sebaiknya kau jangan ikut campur, kalau tidak aku akan memecat mu sekarang juga." Maki Vina yang memberikan peringatan keras kepada Sabrina.
"Anda tidak memiliki wewenang untuk memecat saya, karena saya bekerja untuk Pak Luis." Jawab Sabrina dengan tegas.
"Beraninya kau!" Maki Vina, ia langsung mendekat Sabrina dan hendak menampar wanita itu tapi sebuah tangan kekar langsung menahan tangan Vina.
Wanita itu melihat sosok Luis sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan yang dingin dan tajam.
"Mas," panggil Vina dengan mata yang sedikit takut.
"Apa yang sedang kau lakukan pada bawahan ku?" tanya Luis dengan tatapan mata yang tajam.
"Mas, dia telah melawan perkataan ku." Jawab Vina.
"Apa itu benar?" tanya Luis yang langsung melihat ke arah Sabrina.
"Mohon maaf Pak, apa yang di katakan oleh Nyonya Vina itu benar tapi saya melakukan itu karena tidak tega melihat Tuan muda hendak di jewer oleh Nyonya Vina." Jawab Sabrina.
__ADS_1
Mendengar hal itu Luis langsung berbalik ke arah Vina, ia menatap Vina dengan tatapan mata yang marah dan kesal.