Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Pesta Jamuan


__ADS_3

"Nyonya, itu bajunya kok dibuang? Kan sayang Nyonya."


Pagi-pagi sekali, Anjani melihat majikannya mengantongi baju-baju bekas pestanya. Padahal baju itu masih baru dan terlihat sangat mahal, tapi ia hendak membuangnya ke dalam tempat sampah.


"Apa? Kamu mau?" Tanya Sang Majikan.


"Saya sih tidak suka pakai pakaian seperti itu, tapi mungkin masih ada yang membutuhkan Nyonya."


Anjani ingin memilikinya, jika majikannya itu tidak membutuhkannya, Anjani bisa memberikannya kepada orang lain.


"Saya akan buang semua baju ini, awas ya kalau kamu berani ambil. Jangan lupa buang baju ini ke tempat pembuangan sampah yang ada di belakang."


Majikannya itu sama sekali tidak memberikannya. Daripada diberikan kepada Anjani, ia lebih rela membuangnya ke tempat sampah.


Anjani merasa sayang dengan baju-baju itu, tapi dirinya mencoba menghiraukannya, lagi pula baju itu bukan ia yang membelinya. Anjani pun melanjutkan kegiatannya di dapur.


"Hati-hati, kamu tidak boleh masuk ke sini, saya sudah menuangkan pembersih toilet di dalam." Ucap Sang Majikan seraya menutup pintu toilet.


"Baik Nyonya."


Anjani selesai menyiapkan sarapan di meja. Dirinya hendak masuk ke toilet, ia sudah tak tahan ingin buang air kecil.


'Ah, memangnya kenapa kalau Nyonya sudah menuangkan pembersih toilet di dalam?'


Anjani langsung masuk ke dalam dan menghiraukan kata-kata majikannya itu, tiba-tiba bau menyengat masuk ke dalam hidungnya dan membuat hidungnya terasa sakit dan susah untuk menarik nafas.


"Haah... haaah..."

__ADS_1


Anjani ingin meminta tolong tapi dirinya kesulitan untuk berbicara. Dari pintu toilet yang masih terbuka, ia melihat Sang Majikan dan kedua anaknya sedang berdiri melihat dirinya yang hampir tidak bisa bernafas, mereka sama sekali tidak berani masuk.


Dengan susah payah dan tubuh yang mulai lemas, Anjani akhirnya bisa keluar dari dalam toilet. Ia tak menyangka jika baunya akan semenyengat ini dan hampir membuatnya terasa akan mati. Sang Majikan pun langsung menutup pintu toilet.


"Ayo keluar, hirup udara segar," ucap Sang Majikan panik, ia membimbing tubuh lemah Anjani menuju pintu keluar.


Perlahan nafas Anjani mulai lancar, tapi dirinya masih merasakan sedikit sesak dan bau menyengat dari pembersih toilet tadi.


'Kok aku ngerasa kayak mau mati ya?'


Anjani pikir dirinya tak akan selamat dan akan mati di dalam toilet sekaligus di negara orang, tapi untung saja hal itu tidak terjadi. Beberapa saat Anjani duduk dan menghirup udara bersih dengan pemandangan padang pasir yang gersang.


Karena dadanya masih sedikit sesak, Anjani mencoba untuk meminum air putih di dapur, tapi tindakannya terhentikan karena melihat Sang Majikan masih berada di sana.


"Ya ampun, pagi-pagi sudah bikin masalah. Saya berangkat, sudah siang ini." Ucap Sang Majikan yang baru selesai sarapan. Ia pergi bersama dengan kedua putrinya.


Melihat kepergian Sang Majikan, Anjani langsung menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya. Ia tahu dirinya salah karena telah mengabaikan kata-kata majikannya. Mulai hari ini, ia harus patuh dengan apa yang dikatakan oleh majikannya.


Anjani kembali ke dalam dan mulai mencuci pakaian dengan mesin cuci. Sembari menunggu, Anjani mulai membersihkan setiap sudut ruangan di rumah itu.


"Permisi..."


Beberapa saat setelah Anjani selesai dengan semua pekerjaannya, suara seorang wanita terdengar dari arah luar. Anjani segera membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


"Saya pembantu yang sudah disewa Nyonya untuk membuat jamuan makan." Ucap wanita itu.


Anjani mempersilahkan wanita itu untuk masuk, wanita itu adalah penduduk asli negara ini. Nanti malam, Sang Majikan akan mengadakan pesta makan di rumahnya, jadi ia menyewa seorang pembantu yang sudah ahli ini untuk membantu Anjani menyiapkan masakan.

__ADS_1


Dalam sebuah kompor besar yang apinya menyembur biru, mereka memasak nasi dalam wadah yang besar pula. Rempah-rempah seperti kapol, cengkeh, dan yang lainnya ikut dimasukkan ke dalamnya. Nasi yang dimasak bersamaan dengan daging ayam itu tercium harum dan membuat perut Anjani menjadi lapar.


Tuan Majikan yang tengah menjalankan tugas negaranya kini sudah kembali dan pulang pada sore hari. Wajahnya elok dan tubuh tingginya terlihat gagah menggunakan seragam kemiliteran miliknya. Tuan yang sudah selesai membersihkan diri itu langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Anjani tidak banyak omong dengan tuannya itu, ia hanya fokus dengan pekerjaannya saat ini. Banyak sekali kudapan dan minuman yang mereka buat, wanita itu mengajarkan Anjani cara-cara memasak masakan tradisional milik negara itu.


Setelah masakan selesai, beberapa tampir besar diletakkan di atas meja panjang. Nasi dan beberapa ekor daging ayam dihidangkan di atasnya. Anjani merasa aneh, tidak ada piring yang disediakan di sana, tapi wanita itu berkata mereka akan memakannya di atas tampir itu.


Malam hari tiba dan semua tamu berdatangan. Layaknya seorang pelayan, Anjani beserta wanita itu berdiri di samping meja makan bersiap saat majikannya membutuhkan sesuatu.


Nyonya Majikan terlihat memakai kerudungnya yang diselendangkan. Padahal sebelum ada Tuan, Nyonya selalu pergi tanpa menggunakan kerudungnya. Anjani merasa kasihan kepada Tuan, dirinya seperti seseorang yang sudah dibohongi oleh istrinya sendiri.


Anjani yang kelaparan belum sempat memakan makanan yang ia buat, ia berharap masih ada sisa dari makanan itu.


Tapi seketika nafsu makannya hilang, Sang Majikan dan para tamu terlihat rakus saat memakan hidangan. Cara makannya berantakan, dari depan ke tengah, dari tengah kemana-mana, mereka mencomot nasi secara acak dengan tangannya.


Bagai seorang anak kecil yang belum pandai makan sendiri, nasi-nasi kembali jatuh ke atas tampir. Anjani sama sekali belum makan, ia tidak berani menyisihkan karena adanya wanita pembantu itu di sampingnya.


"Ambilkan kudapan dan minumannya!"


Nasi di atas tampir itu terlihat masih tersisa banyak dan berantakan. Tapi Nyonya Majikan menyuruh Anjani untuk mengambil kudapan.


Dengan cepat wanita pembantu itu membereskan tampir-tampir yang ada di atas meja, lalu Anjani mengganti hidangan dengan kudapan-kudapan kecil.


'Apa mereka sudah selesai memakan nasinya? Padahal nasinya masih ada.'


Perut keroncongan Anjani hanya bisa menyaksikan mereka memakan makanan yang ada di meja. Hingga akhirnya pesta selesai dan semua selesai dibereskan.

__ADS_1


Kedua majikannya itu sudah berdiam di dalam kamar, pembantu sewaan itu juga sudah selesai dengan tugasnya. Anjani masih berada di dapur, memutuskan untuk memakan nasi sisa itu meskipun merasa jijik.


Semua bekas-bekas makanan ia simpan dalam keadaan kotor. Dirinya sudah lelah dan berniat akan mencucinya esok pagi.


__ADS_2