Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Kabar Adwi


__ADS_3

Menaiki motor kesayangannya, Adwi melaju diantara lalu lintas yang ramai. Hari ini ia akan pulang, meskipun baru satu bulan bekerja di luar kota, tapi ia sudah mengantongi sejumlah uang yang dirasa cukup dalam sakunya. Oleh-oleh yang ia beli juga sudah berada di dalam tasnya yang ia gendong di belakang.


Setelah beberapa kali berkendara dan beristirahat di jalanan, akhirnya Adwi sampai juga di depan sebuah toko besar dengan fasilitas dan perlengkapan yang paling maju di kampungnya. Di sana Adwi mencoba untuk menanyakan kabar Anjani.


"Bu, ada kabar dari Anjani gak?" Tanya Adwi kepada sang pemilik toko, ia memang kenal dekat dengan pemilik maupun pegawainya.


Sebelum pergi, Anjani sudah meminta nomor telepon pemilik toko itu untuk suatu saat ia mengabari dirinya.


Di zaman itu, teknologi belum secanggih masa kini, bahkan pemilik toko yang tersohor itu hanya memiliki sebuah telepon kabel sebagai alat komunikasi.


"Nggak ada, mungkin si Neng udah ngirim surat ke rumah kali." Jawab ibu pemilik toko, ia sama sekali tidak mendapat panggilan dari Anjani sebulan ini.


Adwi pun berlalu dari toko itu dan segera kembali ke rumahnya. Tak seperti dirinya yang dulu, kali ini Adwi sama sekali tidak memberikan sepeserpun hasil kerja kerasnya selama di luar kota. Yang ia pikirkan dirinya bekerja hanya untuk Laila dan Anjani.


Keluarganya menyambut tanpa terdengar sebuah ucapan rasa syukur. Mereka juga sama sekali tidak mengharapkan uang dari anaknya yang sudah berkeluarga itu.


Tidak ada apapun yang ia temukan di sana, lantas Adwi meninggalkan pakaiannya dan membawa buah tangan yang sudah dibelinya. Adwi berangkat untuk menemui anaknya.


Sesampainya di rumah Emak, Adwi menanyakan kabar Anjani terlebih dahulu. Namun, di sana ia juga tidak menemukannya.


Keadaan Laila saat ini masih sama seperti yang dulu, dengan perasaan penuh kasih sayang, Adwi menggendong anaknya yang sudah terasa lama ia tinggalkan. Hari-harinya begitu sunyi, ia tak pernah lagi mendengar suara tangis dari anak bayinya.

__ADS_1


Di pangkuan Adwi, Laila terlihat tenang dan tidak menangis meskipun sudah lama tidak melihat wajah ayahnya. Pakaian berwarna oranye yang menggembung dengan boneka kecil yang menempel di depannya, Adwi pakaikan kepada Laila. Pakaian itu dibelinya sendiri dari luar kota. Pakaian itu terlihat pas dan membuat Laila semakin cantik. Beberapa setelan yang lainnya juga masih terbungkus di dalam kantong plastik.


"Laila ini masih kecil udah kepengen coret-coret di buku, padahal umurnya masih satu tahun," ucap Emak merasa bangga.


Di atas meja terlihat sebuah buku dan pensil, Adwi membuka buku itu dan melihat seperti apa hasil karya anaknya. Memang bukan sebuah tulisan maupun gambar, hanya coretan-coretan tak karuan yang ada pada setiap halaman. Tapi Adwi merasa senang, melihat anaknya ini sudah tumbuh aktif.


"Tiap hari Laila suka banget beli susu botol di warung, botol-botolnya aja udah numpuk dalem karung. Apa gak papa ya kalo Laila dikasih susu yang begitu?"


Emak merasa sedikit khawatir, mengingat pada kemasannya susu itu tidak boleh diberikan kepada anak di bawah usia 5 tahun. Tapi rasanya yang manis dengan perisa berbagai buah-buahan, membuat Laila merasa ketagihan.


Laila yang sudah ditinggalkan menyusu oleh ibunya sama sekali tidak doyan dengan susu formula pengganti ASI. Di usianya yang 1 tahun ini, ia hanya ingin jajan makanan warung layaknya anak dewasa.


"Gak papa kali Mak, kalo Laila doyan makan itu bagus dong."


Merasa prihatin dengan keadaan Laila yang masih terlihat sama, Adwi berniat untuk kembali memeriksanya. Bersama Emak, Adwi berangkat menuju dokter terdekat.


Di atas jalan bebatuan tiba-tiba Adwi hilang keseimbangan dan motornya hampir terjatuh ke samping. Untungnya Adwi melaju dalam kecepatan yang sangat rendah dan ketiganya tidak mengalami luka sedikitpun.


Tepat di depan mereka, terdapat sebuah turunan terjal. Emak yang sedang menggendong Laila memutuskan untuk berjalan kaki.


Berjalan melewati turunan itu, Emak melihat jalanan di depan yang terlihat mulus. Persimpangan di sana merupakan akses jalanan ke kota, sedangkan jalan yang tadi hanya terbengkalai dan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.

__ADS_1


Bayaran untuk biaya pengobatan dari seorang dokter yang berada di dekat pelosok itu tidak semahal di kota. Adwi kembali mengendarai motornya, mengantar Emak dan Laila untuk pulang.


Pelan dan berhati-hati, Adwi tak mau lagi membahayakan kedua penumpang yang berada di belakangnya. Jalanan masih terjal, begitu sepi dan dipenuhi dengan hutan di sekelilingnya.


Sampailah mereka di rumah dengan selamat, Adwi harap, ini adalah kali terakhir Laila berobat ke dokter. Adwi ingin melihat anaknya itu cepat sembuh, derita Laila juga Adwi rasakan setiap harinya.


Meninggalkan sejumlah uang dan makanan, Adwi pergi dan izin untuk berangkat kembali bekerja.


Esok harinya, Adwi kembali ke luar kota untuk melanjutkan pekerjaannya. Siang menjadi angan-angan, malam menjadi buah mimpi, Adwi yang belum mendapatkan sepucuk kabar dari istrinya itu selalu teringat kepada Anjani.


Ucapan Anjani yang dulu selalu datang di malam hari. Seakan, Anjani yang berada jauh di sana sedang mengingatkan sesuatu sebelum tidurnya Adwi.


Di malam pertama, Anjani berkata bahwa dirinya telah berubah menjadi satu nyawa dan satu badan dengan Adwi. Sehidup semati Anjani akan terus berada di samping Adwi.


Meskipun jarak sedang memisahkan mereka, tetapi Adwi yakin bahwa sanubarinya masih melekat dan selalu mendampingi hari-harinya.


Dua, tiga bulan berlalu dan setiap bulannya Adwi selalu pulang untuk menanyakan kabar istrinya dan tentu ia juga menemui anaknya, Laila.


Tak satupun kabar yang tersirat dan terdengar oleh Adwi sendiri. Adwi kembali mengais rezeki di luar kota sambil terus mengharapkan setidaknya satu saja kabar tentang Anjani.


Bayang-bayang wanita cantik berambut hitam panjang itu selalu muncul dalam khayalannya. Saat pertama kali melihatnya Adwi sangat ingin memilikinya. Dengan langkah yang cepat, Adwi segera mengikat wanita itu dan berhasil membuatnya menjadi istrinya.

__ADS_1


Di dalam suatu rumah, sebuah keluarga yang utuh dan harmonis ia harapkan. Ia tak ingin bernasib sama seperti kedua orang tuanya yang telah berpisah dan memilih hidup dengan keluarga barunya. Sedangkan Adwi diasingkan dan sudah mulai merasakan pahitnya hidup pada usianya yang masih belia.


Adwi harap, dengan wanita baik seperti Anjani, dirinya akan sangat bahagia setelah semua rasa pedih yang ia alami sejak dulu menimpanya. Anjani pasti adalah jawaban dari kebahagiaan Adwi yang sudah lama tuhan tunda.


__ADS_2