
Kejadian semalam tak menyurutkan Anjani untuk tetap mengharapkan upah dari majikannya. Usai shalat subuh, Anjani berdo'a agar tetap dilancarkan dan dimudahkan rezekinya. Selain berdo'a, ikhtiar pun ia lakukan dengan semangat yang selalu menyala saat ia mengingat Adwi dan Laila.
Pagi hari itu, Nyonya Majikan terlihat santai dan langsung duduk di meja makan. Tatapan sinis juga sama sekali tidak terlihat dari sorot matanya, sepertinya ia sudah melupakan kejadian yang semalam.
"Kamu gak mau ngabarin keluarga kamu apa?" Nyonya Majikan bertanya sembari mengambil sarapannya.
"Memangnya boleh Nyonya?" Anjani yang baru meletakkan gelas di atas meja bertanya dengan ragu-ragu.
"Silahkan saja, tapi kamu akan saya temani." Ucap Nyonya Majikan.
Dahulu, seorang pembantu yang bekerja di rumah itu sempat pergi tanpa meninggalkan jejak apapun. Mungkin karena sikap kasar Sang Majikan, ia tak tahan dan memutuskan untuk kabur. Nyonya Majikan takut Anjani juga akan melakukan hal yang sama.
Entah apa yang merasuki Nyonya Majikan. Bagai kejatuhan bulan, Anjani yang mendengar perkataan itu merasa baru saja mendapatkan sebuah kebahagiaan yang tidak pernah diduga.
Meskipun tanpa kabar, 6 bulan ini Anjani tetap bekerja mengumpulkan uang. Ia hanya pasrah karena ia pikir Nyonya Majikan tidak akan pernah mengizinkannya untuk keluar dan akan tetap mengurungnya di dalam rumah.
'Kenapa sekarang baru nanya? Dari dulu aku minta-minta gak diizinin.'
Anjani merasa kesal, tapi kekesalannya itu teredam oleh kebahagiaannya.
"Tinggalkan dulu pekerjaan kamu dan cepat siap-siap, setelah saya selesai sarapan kita akan berangkat." Ucap Nyonya Majikan yang sedang menyantap sarapan bersama kedua putrinya.
Pemandangan di meja makan memang terkadang tidak lengkap, Tuan Majikan yang merupakan sosok ayah, jarang berada di dalam rumah. Bekerja sebagai seorang angkatan militer, ia selalu sibuk dengan tugasnya untuk mengabdikan diri kepada negara.
Perasaan Anjani sudah menggebu-gebu, ia tak sabar ingin segera berangkat. Anjani segera mengambil tas kecil yang sudah lama ia simpan, berharap suatu hari dirinya diperbolehkan untuk keluar. Dan hari itu pun tiba juga, Anjani dan Nyonya Majikan berangkat menuju ke kantor pos.
__ADS_1
Dibantu oleh Nyonya Majikan, Anjani mengirim wesel sejumlah 7 juta. Di dalam tas, ia mengambil secarik kertas dan menelpon nomor yang sebelumnya belum pernah ia hubungi.
"Assalamu'alaikum Bu, ini aku, Anjani." Ucap Anjani pada telepon.
"Wa'alaikumsallam warahmatullah, Alhamdulillah Neng... Neng gimana kabarnya?" Suara dari dalam telepon terdengar heboh.
"Alhamdulillah aku sehat kok Bu, ini aku lagi di kantor pos, mau kirim uang buat A Adwi."
Anjani sedang menelpon Bu Yeyet, pemilik toko yang tersohor di kampung halaman Adwi. Anjani percaya kepadanya dan memintanya untuk mencatat informasi detail pengiriman uang itu.
Catatan itu harus Bu Yeyet berikan kepada Adwi, karena Adwi sendiri yang akan menjemput uang kiriman Anjani ke kantor pos di kotanya.
Kini Anjani sudah lega, meskipun ia tidak dapat berbicara langsung dengan Adwi, tapi Bu Yeyet memberi kabar bahwa Adwi baik-baik saja. Adwi juga selalu menanyakan kabar Anjani dan membuat Bu Yeyet merasa kasihan.
Namun, Bu Yeyet tidak tahu menahu tentang kabarnya Laila, karena Laila memang tidak tinggal di kampungnya Adwi. Jika ayahnya baik-baik saja, maka anaknya juga pasti akan baik-baik saja. Begitu pikir Anjani.
Tak perlu mengirim surat yang menuliskan tentang kabar dirinya, biaya untuk mengirim uang dan juga menelpon dari negeri yang berbeda juga tidaklah murah. Bayangkan saja seberapa jauh jarak mereka ketika Anjani terbang dari Jakarta dan menempuh waktu kurang lebih 9 jam di dalam pesawat.
Karena itu Anjani juga tidak mengharapkan surat dari Adwi. Anjani tak mau membebani Adwi hanya untuk mengiriminya secarik kertas.
Bisa dibilang, zaman itu adalah zaman lagunya abang tukang bakso yang harganya 1 bungkus 500 perak. Uang 7 juta itu jumlahnya sangat besar, jika mendapat perbandingan dari harga bakso itu, 7 juta setara dengan 140 juta di masa sekarang.
Anjani merasa bangga karena ini kali pertamanya ia bisa mengirimi uang sebanyak itu. Ia merasa semakin bersemangat untuk bisa mendapat hasil yang lebih banyak lagi.
Hanya itu yang bisa Anjani kirim, ia rasa uang itu sudah cukup untuk dimanfaatkan oleh Adwi. Sisanya Anjani simpan dan kumpulkan untuk ia bawa pulang saat sudah terkumpul banyak.
__ADS_1
Selesai sudah urusannya di kantor pos, Nyonya Majikan pun kembali mengantarkan Anjani ke rumahnya. Lalu setelah itu ia pergi kembali meninggalkan rumah.
Sebuah senyuman terus terlukis di wajah Anjani. Dada dan pikirannya yang selalu terasa sesak seketika menjadi ringan.
Sendiri, sunyi, dalam rumah itu tak ada siapapun sekarang kecuali Anjani. Tapi hal itu tidak ia rasakan, ia bekerja sambil terus didampingi oleh bayang-bayang keluarga tercintanya.
Sejak kejadian malam itu, Nyonya Majikan tak berani lagi menyiksa Anjani. Ia takut dirinya diguna-guna jika memperlakukan Anjani secara kasar.
Tapi tetap saja, sikap aslinya tidak pernah berubah, Nyonya Majikan selalu berbicara dengan nada yang tinggi dan membuat Anjani takut untuk melakukan suatu kesalahan.
Dalam kesenangan tentu ada susahnya. Untuk mendapatkan uang di sana, Anjani harus menguatkan mental. Nyonya Majikan sudah tak lagi menyiksa Anjani, tapi tetap kedua putrinya yang masih kekanak-kanakan selalu membuat Anjani merasa tersiksa dan membuat pekerjaannya semakin berat.
Entah itu menggigit, memukul, menjambak, membuat rumah menjadi kotor, dan yang paling sering mengompol di atas kasur.
Semua ulah yang dilakukan oleh mereka membuat Anjani harus mengeluarkan banyak energi. Tapi untuk mengisi energi pun tidaklah mudah, tak pernah sekalipun majikannya teringat dengan apa yang akan dimakan oleh Anjani hari ini.
Entah ia membiarkan Anjani untuk memakan apapun yang ia inginkan, atau ia sama sekali tidak ingin memberinya makan.
Anjani tak tahu mana yang benar, demi terhindar dari amarah Sang Majikan, Anjani tak pernah memasak makanan untuk dirinya sendiri. Ia hanya makan makanan yang tersisa, itu pun saat majikannya sudah keluar dari rumah.
Karena kelaparan, terkadang Anjani juga berprilaku seperti seorang pencuri. Ia mengambil mie instan yang ada di dapur dan memakannya mentah-mentah di dalam kamarnya.
Satu tahun lebih, Anjani bertahan dan melayani orang-orang yang sama sekali bukan keluarganya itu. Perlahan, Anjani mulai khawatir kembali dengan keluarganya yang berada di tanah air. Hanya sekali ia pergi ke kantor pos dan mendapatkan kabar tentang keluarganya.
Anjani berniat untuk pulang, ia sudah mengira-ngira biaya yang dibutuhkannya saat pulang nanti. Tapi Anjani rasa tabungannya belum cukup, ia harus menunggu beberapa bulan lagi.
__ADS_1