
Karena kemarin Laila sudah bilang ingin pergi ke sekolah hari ini juga, Anjani tidak memperbolehkannya. Ia menyembunyikan seragamnya karena takut kotor. Laila pun merengek dan Anjani mencoba untuk membujuknya.
"Ila, kita ke rumah Nenek yuk sekarang." Ucap Anjani kepada Laila.
"Ke rumah Emak?" Tiba-tiba Laila langsung tertarik.
"Iya Ila, kamu mau kan?"
"Mau Mah, mau! Sekarang ya!"
"Iya, makannya cepet sekarang kamu pake baju yang bagus."
"Iya Mah!"
Laila masih telanjang karena sudah mandi. Tadinya ia ingin memakai seragam sekolahnya, tapi dengan cepat ia memakai pakaian bagus yang dipilihkan oleh Anjani.
Usai memakai baju, ia duduk membelakangi Anjani. Rambutnya yang pendek di atas bahu itu di kuncir belah 2. Ia sudah siap berangkat begitupun dengan yang lainnya.
Hari ini Adwi tidak ada tugas maupun jadwal untuk pergi ke desa. Jadi ia bisa ikut mengantar Anjani beserta anak-anaknya ke rumah Emak. Karena sibuk dengan tugasnya sebagai lurah, pekerjaan sebagai penyadap nira sudah jarang ia lakoni.
Sebelumnya, motor butut Adwi yang bising sekarang sudah berubah menjadi lebih bagus dan memenuhi standar. Dulu ia menjual motor bututnya dan membeli yang baru dengan tambahan uang dari tabungannya.
Seperti biasa, Laila ingin duduk di depan. Ia sangat suka diajak jalan-jalan, apalagi ke rumahnya Emak, karena perjalanan ke sana memang jauh dan disuguhi dengan pesona mata.
"Mak, aku udah bisa hafalin perkalian loh!" Ucap Laila saat di rumah Emak.
"Wahh.. yang bener? Ila diajarin sama siapa emang?" Tanya Emak.
"Sama Mamah."
"Coba, Emak pengen denger."
"Satu kali satu, satu. Dua kali satu, dua, ..."
Laila menyebutkan perkalian satu hingga lima dengan lancar. Lancar di awal saja, urutan satu, dua, tiga, dan seterusnya dikalikan dengan bilangan pokok. Sedangkan hasilnya, ia harus menghitung terlebih dahulu menggunakan jarinya.
"Empat kali tiga, mmm... tadi (hasil yang sebelumnya) delapan, ditambah empat. Sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas!" Begitu ucap Laila terlihat serius menghitung jarinya.
Meski belum lancar, tapi Emak yang melihat Laila sangat serius, merasa bangga. Di usianya yang masih kecil dan belum sekolah, ia sudah bisa dianggap pintar.
Di sana, Laila bermain bersama Dimas, anaknya Emak. Saat ini usianya sudah 4 tahun, sama dengan Riki, namun Dimas lahir lebih dulu dari pada Riki. Nama Dimas itu, Anjani sendiri yang mengusulkannya. Ia suka karena namanya seperti nama artis.
__ADS_1
Aneh rasanya melihat Laila memiliki paman yang lebih muda darinya. Anjani pun juga terlihat seumuran dengan Emak, padahal hubungan mereka adalah ibu dan anak.
"Mah, aku mau nginep di rumah Emak ya!" Ucap Laila saat tengah menggambar sesuatu di atas kertas.
"Iya, tapi kalo bapak kamu ngejemput ke sini, kamu harus ikut ya."
"Iya Mah!"
Sengaja Anjani membiarkan dulu Laila tinggal di rumah Emak agar ia lupa soal sekolah dasarnya. Anak yang cabi itu memang tidak dimasukkan ke sekolah TK. Karena tempatnya harus ditempuh menggunakan kendaraan, jadi Anjani lebih memilih mengajarinya secara pribadi di rumah.
Sudah dari dulu saat Laila diajak ke rumah Emak, pastinya ia selalu ingin menginap. Bahkan dulu pernah Adwi jauh-jauh datang ke sana hanya untuk menjemput Laila, tetapi Laila nya tidak ingin pulang.
"Mak! Liat! Ini gambar buatan aku, bagus kan? Ini aku lagi main layangan sama putri duyung." Laila menunjukkan gambar buatannya kepada Emak.
"Wahh haha.. bagus kok, bagus."
Emak ingin tertawa terbahak-bahak melihat gambar yang dibuat Laila. Ia menggambar manusia dengan wajah yang berbentuk seperti hati, matanya besar sebelah tetapi gambar putri duyungnya terlihat bagus.
Menggunakan buku lamanya yang masih Emak simpan itu, Laila terus saja menggambar dan menunjukkan bakatnya kepada Emak. Setelah agak siang, Adwi dan Anjani pun pulang meninggalkan Laila. Mereka tidak berlama-lama karena setelah menjadi perangkat desa, selalu ada orang yang datang ke rumahnya membawa keperluan.
***
Rumahnya tidak begitu jauh, masih satu kota dengan kotanya Adwi. Bahkan jaraknya lumayan dekat jika ditempuh dari rumahnya Emak.
"Wi, kamu baru punya anak satu?" Tanya ibunya Adwi yang hanya melihat keberadaan Riki di sana. Dahulu, memang mereka sempat datang ke pernikahannya Adwi, tapi sejak saat itu mereka tidak pernah berkunjung lagi.
"Nggak, ada kok satu lagi yang perempuan. Ini anak kedua aku, namanya Riki. Kalo yang pertama namanya Laila."
"Ohh.. Laila nya kemana? Kok gak keliatan?"
"Lagi di rumah emak mertua aku."
"Loh? Udah berapa hari? Kok kalian gak pernah dateng sih ke rumah ibu? Giliran ke sana kalian sering dateng." Ibunya Adwi merasa tidak senang.
"Soalnya gak sempet Bu," Adwi mencoba beralasan.
"Ah, kamu mah alasan aja. Ibu mau jemput Laila sekarang, mau Ibu bawa ke rumah." Ibunya Adwi merasa tidak percaya. Ia merasa diasingkan dan ingin mengambil cucunya di rumah sang besan.
"Tapi aku gak yakin kalo Laila bakalan mau. Laila kan belum pernah ketemu sama Ibu."
"Laila pasti mau diajak sama neneknya."
__ADS_1
Ibunya Adwi pun pergi dan meninggalkan beberapa buah tangan yang dibawanya. Ia merasa kesal, kenapa hanya rumah orang tuanya Anjani yang mereka kunjungi? Padahal rumah miliknya juga tidak begitu jauh dari sana.
"Assalamu'alaikum."
Sampailah ibunya Adwi di depan rumah Emak, beberapa saat Emak pun langsung membukakan pintu.
"Wa'alaikumsallam warahmatullah. Eh, Ibu besan ya?" Emak merasa ragu, ia hanya pernah bertemu sekali dengan ibunya Adwi.
"Iya Bu. Laila nya ada? Saya ke sini mau jemput Laila."
"Oh, ada Bu. Ya udah masuk dulu."
"Gak usah, saya ke sini mau ambil Laila aja."
"Mm.. ya sudah sebentar Bu."
Emak pikir ibunya Adwi datang karena disuruh oleh Adwi. Di depan lawang pintu, mereka saling berbicara. Emak memanggil Laila untuk datang dan memberitahukannya bahwa itu adalah neneknya.
"Ini Laila ya?" Ibunya Adwi melihat sosok Laila pertama kalinya. Laila terlihat cantik dan sangat lucu, tapi ada sesuatu yang kurang dan tidak ia sukai.
"Ihh, kamu kok kurus gini? Kamu diurus gak sih sama orang tua kamu? Ikut nenek yuk, kita jalan-jalan, nanti Laila nenek jajanin."
Ucapan ibunya Adwi itu sontak membuat Emak merasa terkejut. Dari tingkah dan gaya bicaranya, sepertinya ia menganggap bahwa orang tua Laila tidak becus dalam mengurus anaknya.
Melihat orang yang mengaku sebagai neneknya, Laila hanya melongo dan merasa kebingungan.
"Nenek itu emak?" Tanya Laila menghiraukan ajakan neneknya tadi.
"Mmm.. iya, kalo kamu mau panggil emak juga boleh. Yuk Sayang, kamu mau kan ikut sama Emak?"
"Ke mana?"
"Ke rumah Emak, di sana ada boneka bagus-bagus loh. Nanti papa kamu juga bakalan dateng."
"Aku mau boneka barbie!"
"Ya udah ayo kita ambil. Atau kita beli aja sekarang."
"Iya!"
Dengan mudahnya Laila dapat terpikat. Di rumah Emak memang tidak ada mainan apapun termasuk boneka. Sedangkan, Laila memang sangat menyukai boneka, apalagi boneka barbie.
__ADS_1