
Di sana Laila merasa sedikit malu, ia tidak memakai kerudung sedari berangkat pula. Mau bagaimana lagi? Laila tidak membawa kerudung ke sana, ia pun berusaha untuk bersikap biasa saja karena memang di kampung ia juga tidak biasa memakai kerudung.
Mumpung masih siang, lanjut Adwi mengajak anak-anaknya untuk berkeliling. Nanti malam mereka akan berangkat pulang, jadi Adwi berniat untuk membeli buah tangan.
Para penjual di sana rata-rata menjual barang yang jenisnya sama. Mulai dari topi rami ala-ala pantai, ikan asin, dan pernak-pernik serta pakaian bernuansa pantai.
Tidak ada yang ingin Adwi beli, semuanya tidak terlalu begitu menarik. Ia hanya mempersilahkan anak-anaknya saja untuk membeli pakaian khas pantai itu.
"Pak, aku mau yang ini." Pinta Laila di tempat obral pakaian.
Setelan pakaian berwarna putih, cantik, tetapi ukurannya agak besar. Melihat harganya itu juga sangat mahal, Adwi tidak mengizinkannya karena ia tidak membawa uang banyak.
"Yang lain aja Ila, itu kan kebesaran, kamu pilih yang murah aja ya." Ucap Adwi membuat Laila sedih.
Laila hanya ingin yang itu, ia memang apik dalam memilih sesuatu. Dengan berat hati, ia mengambil pakaian yang sudah dipilihkan oleh ayahnya.
Riki tidak menginginkan pakaian, Adwi bingung harus membelikan apa untuk anaknya itu. Kembali lah mereka ke parkiran karena Riki tidak mau membeli apa-apa.
Malamnya, ada seorang penjual petasan yang lewat. Riki pun tertarik dan ingin membelinya, lantas Adwi langsung membelikannya, Riki hanya meminta 2 jenis yang harganya juga begitu sangat murah.
Akhirnya para rombongan pun menyudahi liburannya. Hanya sekejap mereka di sana karena tugas aparat desa tetap berjalan dan tentunya tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Adwi dan anak-anaknya hanya membeli itu saja, tidak ada oleh-oleh yang mereka beli untuk keluarga yang tengah menunggu di dalam rumah. Uang memang mempengaruhinya, karena tak sempat mengumpulkan uang, Adwi hanya membawa alakadarnya saja. Itu pun ia hemat untuk ia bawa pulang dan dijadikan resiko keluarganya di rumah.
Gaji sebagai lurah tidak begitu besar, tak seperti yang ada pada bayang-bayang Adwi. Rasanya, menjadi penyadap nira lebih senang dijalankannya. Ia hanya perlu 2x sehari pulang pergi ke kebun.
__ADS_1
Sekarang, ia disibukkan dengan urusan yang ada di kampungnya. Mulai dari mengirim surat-surat penting, menyelesaikan masalah yang beredar, dan saat ada warga yang dirawat ke rumah sakit pun ia harus ikut sembari mengikhlaskan sejumlah uang.
Belum lagi mendata para warganya, ia harus berkeliling dan mencatat detail pribadi para warga di tumpukan buku catatannya. Anjani pun juga begitu, sementara Adwi mendata menggunakan motornya, ia yang tengah hamil besar harus berjalan kaki bersama anak yang dikandungnya.
Semua wilayah RT dan RW mereka jamah berdua. Seharusnya mereka menyerahkan buku itu kepada masing-masing RT, agar mereka tidak lelah mengelilingi kampungnya yang cukup luas.
Tapi, Adwi itu orangnya tidak enakan, ia tidak mendapat aba-aba dari pusat untuk menyerahkan tugas itu kepada bawahannya. Jadi ia lebih memilih mengerjakannya bersama dengan istrinya.
"Mah, aku gak pengen beli baju yang ini. Ini jelek, aku gak suka. Aku maunya yang warna putih." Rutuk Laila saat ia sampai di rumahnya.
Anjani sedikit iba, ia tahu keadaan ekonominya tak kunjung jera. Ingin sekali ia memberikan apa yang Laila minta, tetapi dirinya sama sekali tidak bisa berupaya.
"Kenapa atuh malah beli yang itu?" Ucap Emak sengaja untuk mencela.
"Gak dibolehin sama Bapak, katanya mahal. Aku juga pengen beli topi sama kerang-kerang, tapi Bapak pasti gak ngebolehin."
Setiap kali Emak datang ke rumahnya Anjani, ia selalu saja mendengar Laila mengeluh. Anak-anaknya juga terlihat sangat kurus dan tidak terawat, Emak meremeh-temeh kemampuan Adwi dalam mengurusi anggota keluarganya.
Kemarin juga saat Adwi tidak ada di rumah, Emak mengolok-ngolok nama Adwi di depan Anjani sendiri. Ia juga tak henti menceramahi anaknya karena telah salah dalam memilih seorang pria.
Anjani bukan tidak mau dikatakan salah, tetapi ia ingin Emak melihat bahwa dirinya ini baik-baik saja. Pengalaman pahit saat bersama Adwi memang selalu ia lalui, ia tak bisa mengelak bahwa Adwi itu bukanlah seorang pria sejati.
Tidak heran jika Adwi tidak membawa apa-apa. Emak pikir Adwi itu orangnya pelit dan sayang sekali untuk membelanjakan harta demi keluarganya.
Karena Adwi sudah pulang, Emak pun tak lama berpamitan. Ia juga disibukkan dengan urusan rumah tangganya.
__ADS_1
Anjani tidak menceritakan apa yang dikatakan oleh Emak kepada Adwi. Ia tak mau Adwi merasa benci kepada Emak maupun sedih karena mendengar perkataan Emak. Semua ia pendam dan hanya anak-anaknya lah yang mengetahuinya.
Laila sudah bisa menyerap perkataan Emak dengan baik, sedangkan Riki, ia masihlah anak SD kelas 1 yang tidak tahu menahu apa-apa.
Ya, sementara Laila kelas 4, sekarang Riki adalah kelas 1. Berbeda dengan kakaknya, ia baru dimasukkan ke sekolah dasar pada usia yang ke 7 tahun. Sebelum itu ia menunjang dahulu pendidikan di sebuah PAUD selama 2 tahun.
Sekarang di kampung itu sudah ada PAUD, jadi Anajani tak perlu pergi ke TK yang jaraknya lumayan jauh. Ia hanya perlu berjalan ratusan meter menuju PAUD, dan kala itu Riki masih harus digendong juga ditemani oleh ibunya.
Laila merasa jengkel, ia tak habis pikir kenapa orang tuanya terlihat begitu sangat memanjakan Riki. Ia tahu bahwa dahulu dirinya ditinggal menyusu oleh ibunya, dan saat itu, ia sudah tak lagi digendong seperti bayi.
Dilihat juga dari prestasi, Laila selalu meraih peringkat diantara 10 besar. Sedangkan Riki, padahal sudah dididik sejak PAUD, tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan apa-apa.
"Ila, kamu itu harus pinter kayak Bapak. Bapak juga waktu SD suka dapet peringkat pertama." Ucap Adwi tatkala menasehati anaknya.
"Iya, Mamah juga waktu SD suka dapet peringkat 2, peringkat 3." Ikut Anjani membanggakan dirinya.
"Ah, kamu mah apa di sekolahnya juga cuma melongo. Melongo aja terus, kalo ada lalat lewat baru tuh ditangkap julurin lidah kayak cicak. Haha.."
"Apa sih A? Aa kali itu mah, aku mah gak pernah gitu. Tuh rapotnya juga ada di rumah Emak kalo Aa gak percaya."
"Nggak, aku gak percaya."
"Ih, beneran, fotonya aja cantik. Aku pas masih SD putih banget." Anjani memuja dirinya sendiri.
Terkadang, memang mereka suka bersenda gurau. Tetapi Laila tidak ikut nimrung, ia rasa percakapan antara ayah dan ibunya itu terasa sangat canggung. Tak seperti saat ia menyimak orang tua teman-temannya. Mereka begitu mengukir senyum bahagia dan begitu sangat romantis.
__ADS_1
Semua terasa sama saja baginya. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari sikap kedua orang tuanya. Pertikaian, atau apapun itu, ia hanya bisa menyimak dan menghiraukannya. Karena memang, ia rasa itu bukanlah urusannya.