Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Laila Pulang


__ADS_3

Laila memang tak pulang saat lebaran, tapi sekarang Laila akan pulang karena ada suatu undangan yang sepertinya wajib untuk ia datangi.


Undangan dari Rika, sudah lama Rika tidak ke rumah, dan sekarang ia baru muncul saat tengah menyebar kertas undangan. Rika akan menikah, di usianya yang ke 19 tahun ini ia akan berumah tangga.


"Kak, jangan sedih karena Kakak gak bisa ngerasain kasih sayangnya Bapak. Jangankan Kakak, aku yang udah hidup sama Bapak pun gak ngerasain gimana rasanya kasih sayang itu." Laila bergumam di kamar kosnya.


Mengingat kakaknya itu akan segera diambil oleh laki-laki lain, Laila bersyukur, semoga calon imam kakaknya itu bisa membuat kakaknya bahagia. Tapi itu artinya Rika sudah tak bergantung lagi kepada Adwi, yang mana Adwi sendiri pasti menganggap tanggung jawabnya kepada Rika sudahlah usai.


Jujur, selama ini Laila iba kepada Rika, ia yang sekontak di WA itu selalu membuat story berkaitan dengan keluarga terutama ayah. Rika selalu saja berharap jika ada sosok ayah di sisinya mungkin hidupnya akan berubah, ia akan seperti orang-orang.


Namun, orang-orang seperti apa? Laila sendiri yang hidup bersama ayah sama sekali tidak merasakan kasih sayangnya. Sungguh kasihan, jika saja Rika tahu sosok yang sangat-sangat ia harapkan itu bukanlah sosok yang baik.


Bagaimana tidak? Adwi jarang memberikan nafkah kepada keluarganya yang saat ini. Keluarga minta diantar ke mana tetapi Adwi selalu menolak, sedangkan jika orang lain yang memintanya, Adwi selalu tancap gas dan mengiyakan.


Adwi juga sangat royal kepada orang lain, ia tak segan-segan memberi lebih sedangkan tahu bahwa keluarganya di rumah sangat serba kekurangan. Adwi hanya ingin dipandang baik oleh orang lain. Bagi Laila, Adwi bukanlah sesosok ayah.


Rasa benci di hati kepada Adwi sampai kini masih belum menghilang, Laila hanya membohongi dirinya seolah menerima Adwi agar Anjani tidak khawatir lagi.

__ADS_1


Sesuai perkataan tadi, hari ini Laila akan pulang, tapi bukan dengan kendaraan umum, ia tak tahu jalan dan sepertinya dirinya yang mungil itu akan kewalahan dengan barang bawaannya yang nanti harus dibawa naik turun berganti arus.


Seorang teman yang kebetulan akan mudik mengajaknya untuk pulang bersama. Sebenarnya Laila merasa enggan, ia bisa menyewa taksi ataupun ikut ke mobil BK yang dari sekolahannya. Tapi dipikir lagi sayang uang ongkosnya yang ratusan ribu, Laila pun memilih alternatif gratis dan terpaksa menerima ajakan temannya itu.


"Kita jajan dulu yuk, nanti sore kita berangkat."


Gian baru saja datang, ia adalah teman laki-laki Laila yang akan membawa Laila pulang. Mereka sudah kenal sewaktu jaman SMP, namun baru bertemu satu bulan yang lalu.


Singkat cerita Gian bersekolah di SMP, sementara Laila di MTs. Keduanya saling kenal lewat facebook, tidak pernah bertemu dan hanya mengobrol saja.


Tak disangka Gian benar-benar datang walau tak tahu jalan. Bahkan ponselnya jatuh, retak, dan mati karena terguyur hujan. Laila jadi merasa bersalah, tapi ini memang keinginan Gian untuk datang Dan sekarang Gian kembali, menjemput Laila untuk membawanya pulang.


***


5 jam perjalanan di atas motor membuat kaki Laila terasa pegal. Akhirnya ia sudah sampai, dan kini Gian terlihat tengah mengobrol dengan orang tuanya.


Jujur Laila merasa malu, ini kali pertama dirinya mengajak seorang pria datang ke rumah nya. Tapi Laila berusaha biasa saja, lagipula Gian adalah teman.

__ADS_1


"Mah, Pak, aku mau macarin Laila boleh kan?" Tiba-tiba Gian bertanya seperti itu dan membuat Laila langsung terkejut.


Sebenarnya Gian memang sudah menyatakan cinta kepada Laila. Tapi Laila bilang tidak mau pacaran dan ingin berteman saja. Karena ditolak terus, Gian berkata dirinya akan meminta izin langsung kepada orang tua Laila. Laila kira Gian bercanda, tapi ternyata ia benar-benar melakukannya.


"Gak boleh!" Pekik Laila menolak langsung yang ke sekian kalinya.


"Itu sih gimana Laila nya aja, Mamah mah gak ngelarang Laila buat pacaran." Ucap Anjani seakan menghiraukan teriakan Laila tadi.


"Ohh yaudah Mah, nanti mau main ke sini lagi boleh ya? Mau ajak Ila jalan-jalan juga." Gian hendak pergi pamit.


"Jangan!" Laila langsung memelototi Gian.


"Kalo mau main mah, main aja. Makasih ya udah nganterin Ila ke sini, jauh-jauh lagi." Kali ini Anjani yang dapat pelototan.


Setelah kepergian Gian, Laila terus diwawancarai oleh kedua orang tuanya. Mereka bertanya mengenai Gian, sungguh, Laila amat sangat malas membahasnya.


Ternyata neneknya Gian adalah orang kampung sini. Keluarga neneknya itu memang kalangan orang baik, Anjani dan Adwi setuju bahwa Gian adalah orang yang baik, ia sangat sopan, merekai juga yakin bahwa Gian benar-benar sayang kepada Laila.

__ADS_1


__ADS_2