
Walau sakit rasanya telah dibohongi bertahun-tahun oleh suami dan keluarga sendiri, tapi Anjani berusaha menerima semua ini, ia tak mau karena ini hubungan yang telah ia jalin berakhir kacau, lagipula semua sudah terjadi, mau diapakan lagi?
Hari ini Anjani diharuskan untuk bertemu kembali dengan keluarga Rika. Rika hendak pindah ke rumah suaminya dan tentu Anjani tak akan membiarkan Adwi pergi sendirian, ia tak ingin Adwi terlihat dekat dengan mantannya.
Anjani pergi bersama Adwi dan 2 anaknya yang paling kecil. Keluarga Adwi juga turut, mereka di dalam mobil dan sudah membawa bingkisan tangan juga.
'Huh! Kirain gimana, ternyata biasa aja.'
Anjani mendengus melihat rumah sederhana suami Rika. Rumah yang bahkan lebih jelek dari rumah milik Anjani, rumah itu seperti rumah jaman dulu, cat nya lapuk dengan ubin berwarna hitam.
Meski sederhana, ada acara yang digelar heboh di sana. Kampung yang ada di pelosok ini lumayan banyak penghuninya. Saweran uang recehan juga nampak terlihat banyak, keluarga terlihat sangat berbahagia.
"Kamu kenapa sih ngikutin aku mulu?" Tanya Adwi merasa risih karena Anjani selalu menempel di dekatnya.
"Kenapa emang? Aa mau ketemu mantan?" Sindir Anjani.
"Itu, mending kamu temenin Mamih sama yang lainnya, aku mau ngobrol di sana, gak enak kalo gak nyapa. Mau ikut emang?"
__ADS_1
Adwi menunjuk ke arah kerumunan pria, tidak terlihat ada seorangpun wanita maupun mantannya Adwi di sana, Anjani pun membiarkan Adwi pergi dan Anjani pun bergabung dengan keluarga.
Anjani masih merasa kesal karena telah dibohongi oleh orang-orang yang ada di hadapan nya ini, ia tak ikut mengobrol dan hanya menjawab saat ditanya saja.
Sampai di rumah, Anjani langsung curhat kepada Laila. Tapi Laila anaknya itu malah membuat Anjani semakin kesal.
"Jangan ngerendahin orang Mah, walau rumahnya jelek tapi kalau bahagia dan kebutuhannya tercukupi itu lebih bagus kan?"
Laila sudah tak heran mendengar Anjani yang selalu meremehkan Rika. Tapi Rika bukanlah orang yang harus Anjani benci, jika berpikir rasional, Adwi lah yang harus ia salahkan.
Malam itu, suara motor berderu terparkir di depan rumah Anjani. Rara yang penasaran langsung mengintip di balik jendela, ia berlari ke kamar Laila menyampaikan bahwa yang datang adalah temannya Laila.
"Bilang ke Mamah kalo Teteh gak ada." Ucap Laila kepada adiknya, dan Rara pun segera keluar menyampaikan pesan itu kepada Anjani.
"Assalamu'alaikum!"
"Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Terdengar sahutan orang di luar, membuat Laila sembunyi di pojok tembok kamarnya. Sebisa mungkin ia menghindari jendela, takut bayang-bayangnya terlihat dari luar sana.
Adwi membukakan pintu, nampak Gian yang tak asing baginya berdiri dan langsung menyalaminya. Adwi pun mempersilahkan Gian masuk, kemudian memanggil Laila di dalam kamar.
"Ila tuh temen kamu." Adwi masuk ke kamar Laila, ia melihat Laila menatapnya dengan wajah yang kesal, dan Laila tidak mau saat disuruh keluar kamar.
"Cepet temuin dulu dia, kasian." Pinta Adwi yang ke sekian kalinya, ia langsung pergi meninggalkan kamar Laila.
Adwi pun beralih ke ruang TV, setelah beberapa saat nampak Laila keluar dari kamarnya berjalan lurus ke ruang tamu.
"Kenapa Laila gak mau disuruh nemuin dia? Laila malah kayak marah-marah sama aku?" Tanya Adwi dengan nada berbisik kepada Anjani.
"Aku juga gak tau, Aa mah maen buka-buka aja. Padahal tadi Rara bilang sama aku, katanya bilangin kalo Laila gak ada."
"Ya mana bisa gitu, udah terlanjur disuruh masuk, kalo dibilang gak ada tapi dia tau Laila ada di rumah gimana? Lagian kenapa gak kasih tau aku dari tadi?"
Adwi yang senang akan kedatangan Gian saat itu langsung saja menyambar pintu. Jadi Anjani tak sempat menyampaikan pesan anaknya itu.
__ADS_1