Berbagi Cinta: Suami Pilihanku

Berbagi Cinta: Suami Pilihanku
Saudara Tiri


__ADS_3

Datangnya 2 orang tamu ke tempat persemayamannya, Anjani tidak banyak bertanya lagi. Ia hanya asyik menyuapi Riki dengan camilan yang dibawanya dari posyandu.


"Itu anak Teteh dua-duanya ya?" Tanya bibinya Rika memecah suasana canggung.


"Iya, ini namanya Riki, dia usianya 4 tahun. Kalau ini Laila, usianya 6 tahun, dia baru mau masuk SD." Anjani menjelaskannya panjang lebar karena ia malas ditanyai lagi.


"Ohh.. lucu-lucu ya Teh anaknya, kayak boneka."


"Hehe iya."


Di samping itu, Laila merasa asing dengan 2 orang tamu yang datang ke rumahnya. Sedari tadi ia hanya menyimak. Kenapa anak itu mencari bapaknya di sini? Apa dia mau merebut bapaknya Laila? Pikir Laila sambil terus bersembunyi di balik tubuh Anjani.


Tak lama, Adwi pun datang. Ia masuk melalui pintu dapur dan langsung mendapat ciuman tangan dari Rika. Adwi pun duduk dan Rika langsung mendekat memeluk Adwi.


"Udah gede ya kamu, udah sekolah?" Tanya Adwi sambil mengusap-usap pundak Rika.


"Udah Pak, sekarang aku kelas satu, dan sebentar lagi aku mau naik ke kelas dua." Ucap Rika dengan senyuman.


'Kok mereka kayak udah akrab gitu? Emang sebelumnya mereka udah ketemu?'


Melihat tingkah mereka, Anjani merasa terkejut. Ia pikir Adwi akan bersikap tidak acuh dan biasa saja. Tapi sepertinya ia menyambut dengan senang hati kedatangan mereka.


"Aa sekarang kerja dimana?" Tanya Bibinya Rika.


"Baru aja nyalonin jadi lurah, alhamdulillah sekarang udah keterima."


"Wahh.. Bapak kamu sekarang jadi lurah Ika."


"Lurah itu apa?" Tanya Rika yang belum tahu.


"Lurah itu orang yang mimpin satu kampung, yang ngurusin urusan warga satu kampung." Jelas bibinya Rika.


"Ohh.. Bapak lagi sibuk ngasuh warga di sini ya? Makannya Bapak gak pernah pulang ke rumah." Ucap Rika dengan polosnya.


Hal itu membuat suasana menjadi iba. Adwi pun merasa begitu, ia tak bisa menjelaskan dan hanya meng iya kan saja.

__ADS_1


"Iya Rika, Bapak sibuk di sini. Jadi kalo kamu mau ketemu sama Bapak, kamu dateng aja ke sini ya."


"Iya Pak, nanti aku minta Om sama Bibi buat nganterin aku."


Rika terlihat sangat baik, ia mengerti dan tidak memaksa Adwi untuk datang ke rumahnya. Tapi hati Anjani sedang merasa kesal, kenapa mereka yang belum jelas memiliki ikatan keluarga berani-beraninya datang ke sini.


'Huh! Pasti dia udah diajarin sama ibunya. Paling dia ke sini cuma mau minta uang!' Gumam Anjani geram.


"Rika, kita pulang sekarang ya? Om kamu udah jemput. Dia gak tau jalan ke sini." Ucap Bibinya Rika setelah berlama-lama di sana.


"Iya Bi. Pak, aku mau pulang ya. Tapi... lebaran nanti aku belum punya uang buat beli baju." Ucap Rika dengan pintarnya. Benar yang diperkirakan oleh Anjani, anak itu meminta uang kepada Adwi yang bukan merupakan bapaknya.


"Bapak cuma punya uang sedikit, ini buat kamu beli baju. Titipin dulu sama bibi kamu ya, takut ilang." Tanpa ragu Adwi memberikannya uang sebesar 300 ribu.


"Iya Pak."


Mereka pun pamit dan bersalaman kepada Anjani dan juga Adwi. Langsung saat mereka sudah tak kelihatan lagi, Anjani mulai mengintrogasi suaminya.


"Aa kok kayaknya udah pernah ketemu sama dia? Apa Aa udah pernah dateng ke rumahnya?"


"Nggak, dulu aku ketemu di jalan. Aku kan emang suka mangkal. Lagian, kalo dulu aku gak ketemu sama Rika, kayaknya aku bakalan dateng ke rumahnya. Kan aneh juga kalo tiba-tiba aja Rika dateng ke sini terus kenalan dulu sama aku."


"Aku kasian sama dia, apa kamu gak kasian? Dia masih kecil, nanti juga kalo dia udah besar, udah cari kerja, gak bakalan minta sama aku lagi. Dia cuma minta buat beli baju aja, biaya hidup sama pendidikannya gak ditanggung sama aku kok. Kamu tolong ngerti dong."


Adwi sudah pernah mendapatkan info tentang mereka. Ia menjelaskan bahwa ibunya Rika yang dulu pernah dinikahi olehnya secara agama itu sekarang telah menikah lagi. Adwi bilang, wanita itu sudah beberapa kali menikah dan bercerai, maka dari itu, ia merasa kasihan kepada Rika yang digantung dan kebingungan tanpa seorang ayah.


Anjani pun dapat menerimanya. Tapi dalam lubuk hati, ia tetap merasa benci kepada ibu dan anak yang sudah mengaku memiliki hubungan keluarga dengan suaminya.


"Mah, itu tadi siapa?" Usai mereka hening, sekarang giliran Laila yang bertanya.


"Itu anaknya bapak kamu." Ucap Anjani sengaja menyindir.


"Ohh.. itu kakak aku ya Mah?"


"Hmm.. iya mungkin." Anjani menatap Adwi sinis.

__ADS_1


"Yee.. aku punya kakak! Aku mau kasih tau ke temen-temen ah! Aku mau main ya Mah." Laila terlihat sangat senang. Ia berpamitan dan pergi bermain di rumah tetangganya yang tidak begitu jauh.


"Tuh kan A, emang Aa gak malu kalo Laila bilang sama orang-orang kalo dia itu punya kakak tiri?" Anjani merasa jengkel.


"Gak papa, lagian orang-orang udah pada tau soal aku. Laila juga mana mungkin bisa bilang begitu, dia kan belum ngerti apa-apa."


Dari situ pembahasan soal tamu tadi sudah tak lagi dibahas. Anjani menyampaikan beberapa pesan yang ia dapatkan dari posyandu, ia juga sudah memberitahukan soal Laila yang ingin segera masuk SD, dan Adwi pun setuju-setuju saja.


"A, tadi aku ketemu pak ustadz di jalan, nanti rabu depan Aa disuruh dateng ke pengajian. Katanya disuruh pidato sama ceramah. Emang Aa bisa?" Sekarang Anjani terlihat bersahabat, ia tersenyum menggoda suaminya yang tidak pandai berpidato.


"Nggak, gimana dong? Waktu itu aja pas pegang mic, tangan aku gemeteran." Yang dimaksud Adwi adalah saat hari pencoblosan dirinya.


"Oh, kita beli buku ceramah aja sekarang ya, sekalian beli seragam Ila." Lanjut Adwi mendapatkan ide.


"Aa aja sama Ila atuh, masa aku harus bawa-bawa Riki, kasian dia lagi tidur. Aa bisa kan?"


"Iya, bisa kok. Tapi uang aku gak cukup, aku ambil dari tabungan ya?"


"Terserah Aa aja, lagian itu kan uang hasil kerja keras Aa."


"Kamu kan juga ikut bantuin. Ya udah aku mau langsung berangkat. Kamu mau nitip sesuatu?"


"Mm.. aku pengen buah-buahan aja. Salak sama lengkeng."


Adwi pun berangkat menjemput Laila terlebih dahulu di rumah temannya.


"Ila, kamu mau ikut gak?" Adwi memanggil Laila di luar pagar rumah tetangganya.


"Mau Pak! Kita mau ke mana emang?"


"Ke pasar, beli seragam kamu. Kata Mamah, kamu udah pengen sekolah."


"Iya Pak sebentar. Reva, aku mau pergi dulu ya, nanti kita main lagi."


"Iya Bila."

__ADS_1


Singkat cerita tentang nama Bila:


Dulu, saat Laila memperkenalkan diri, ia masih belum lancar berbicara dan malah menyebut nama Nabila. Karena sudah akrab dengan sebutan itu, orang-orang sekitar pun juga ikut memanggilnya dengan sebutan Bila.


__ADS_2