
Menjelang Idul Fitri, Rika, anaknya Adwi pasti selalu datang ke rumah. Dan kali ini ia datang bersama bibinya lagi. Kala itu Adwi sedang tidak ada di rumah, tapi ia ditelpon dan langsung pulang segera.
"Ika, kamu sekolahnya mau dilanjutin ke mana?" Tanya Adwi, mengingat Rika satu angkatan dengan Laila. Laila sudah kelas 6 SD, dan ia akan segera lulus dari sekolahnya.
"Aku gak akan dilanjutin sekolahnya Pak, gak ada biaya. Tapi gapapa kok, aku pengennya kerja biar bisa ngasih Mamah uang." Jawab Rika.
Anak yang malang, pasti perekonomiannya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Adwi tahu bahwa ibunya Rika bukanlah orang berada, ia salut karena anak yang satu ini tetap tegar dan malah membangun sebuah motivasi.
Memiliki rasa belas kasihan saja tak cukup, andai Adwi memiliki rezeki yang lancar, ia pasti tak akan membiarkan anak sekecil itu patah sekolah.
'Apaan sih? Maksudnya nyindir gitu biar A Adwi ngebiayain dia?'
Anjani merasa jengkel, bisa-bisanya anak sekecil itu sudah pandai merangkai kata.
"Emang kamu mau kerja di mana? Kamu kan baru mau lulus SD, jangan kerja, diem aja di rumah."
"Nggak tau Pak, hehe.. gimana nanti aja."
Tak lama setelah itu mereka berpamitan, namun sebelum mereka pulang Adwi memberikan Rika uang sebesar 500 ribu rupiah untuk baju dan bekal lebaran. Ia sudah mengerti sendiri tujuan anaknya datang ke mari.
"A kenapa kasihnya gede? Kita juga kan belum beli baju lebaran."
Setelah keduanya pergi barulah Anjani bersuara. Ia merasa tak terima, padahal uang itu adalah uang celengan yang sengaja disimpan untuk membeli baju lebaran.
"Emang kamu gak kasian? Liat, Laila masih bisa ngelanjutin sekolah, sedangkan dia cuma tamatan SD. Jaman sekarang mana ada orang tua yang nyekolahin anaknya cuma sampai ke SD, apalagi perempuan."
Anjani dibuat tak berkutik, ia tak rela memberikan uang sebanyak itu kepada orang yang sama sekali bukan kerabatnya. Tapi karena Rika masihlah kecil dan tak punya bapak, ia akhirnya menganggap apa yang Adwi berikan itu sebagai amal.
__ADS_1
Sebelum lebaran pula Laila selalu pergi ke rumah Emak, ia menikmati hari liburnya di sana tanpa perlu ditemani oleh Anjani.
Di sana ia merasa betah, dirinya merasa dimanjakan. Apa yang ia inginkan selalu dituruti oleh emak dan juga abahnya. Indri yang merupakan bibinya juga turut memanjakan Laila.
Indri sudah beranjak dewasa, saat ini usianya 20 tahun dan sudah berumah tangga dengan orang yang masih sekampung. Ia adalah Mali, Mali adalah teman Anjani. Anjani ingat dahulu ia sering dijodoh-jodohkan dengan Mali, tapi kini Mali malah menjadi adik iparnya.
Sudah 2 tahun Indri menikah namun sampai saat ini ia masih belum dikaruniai seorang anak. Padahal ia sama sekali tidak mengambil program KB, tapi tanda-tanda kehamilan belum pernah muncul sama sekali.
Di rumah, Emak hanya mengurus Dimas, Laila akur-akur saja bermain bersama Dimas, tak seperti saat bersama Riki.
"Mak, aku kalo sekolah dikasih uang jajannya cuma seribu, aku kan udah kelas 6 masa masih seribu? Temen-temenku juga tiap hari jajannya 3 ribu, 5 ribu."
Laila sengaja berbicara seperti itu, ia tahu Emak akan membela dirinya nanti di depan Anjani. Di sana Laila selalu menceritakan pengalaman tak mengenakannya kepada Emak, Laila rasa Emak lah yang paling mengerti soal dirinya.
"Ini buat jajan kamu ya, buat adik-adik kamu juga. Uangnya jangan dikasih ke Mamah nanti malah dipake lagi. Buat kamu 30, buat Riki 15, buat Rara 10 ribu "
Laila menyimpannya dengan hati-hati, rencananya ia akan menabungkan uang itu ke dalam celengannya.
Akhir minggu pun Laila diantarkan pulang oleh Abah dan Emak. Adwi dan Anjani tidak bisa menjemput, mereka repot dengan anak-anak karena hanya bisa mengendarai sebuah motor.
Siang itu Adwi sedang tidak berada di rumah, tak tahu kemana karena memang Adwi sering pergi tanpa bicara dan seperti biasa Emak mulai mencela lagi.
"Anak kamu ini diurus gak sih Teh? Masa tiap hari jajannya cuma seribu? Kalo di sana mah udah gak jaman jajan seribu itu, kasian Laila, pantesan aja badannya makin kecil. Teteh tau sendiri kan dulu waktu Laila diurus sama Emak badannya juga bongsor, eh semenjak di sini Laila malah kayak yang kurang gizi." Ucap Emak sinis.
"Seadanya aja Mak, lagian jajan kan gak akan bikin kenyang, mending juga makan nasi."
Anjani hanya berkata lirih, ia merasa sakit ketika mendengar ucapan Emak, dirinya seolah dipandang tak becus mengurus anaknya sendiri. Anjani tahu, Laila pasti sudah mengadu kepada Emak.
__ADS_1
Laila yang mendengar hal itu menyeringai tipis, ia tak berharap uang jajannya naik, ia hanya ingin ibunya memberi perhatian lebih kepadanya.
"Mah, aku pengen dilanjutin ke pesantren aja."
Laila tak mau melanjutkan pendidikan formal, ia pikir ranah menengah itu tak cocok bagi dirinya. Tapi sebenarnya Laila sedikit tidak percaya diri, karena perawakannya yang di bawah rata-rata, ia takut terkena bully.
Laila tahu pesantren pasti dihuni oleh orang yang beradab dan beragama. Bayangannya ia akan hidup rukun dengan yang lain tanpa memandang bentuk rupa maupun kasta. Selain itu Laila bercita-cita ingin menjadi guru ngaji, karena itu ia pikir dirinya harus mendalami ilmu agama.
Namun, Anjani tidak mengizinkannya, ia khawatir karena tidak bisa memantau dekat anaknya.
"Kenapa? Nanti di pesantren kalo mau makan kamu harus masak sendiri."
"Gapapa, aku kan udah bisa masak." Laila memang sering membantu pekerjaan ibunya.
"Tapi nanti kalo gak nemu makan gimana? Terus kalo kamu sakit siapa yang ngurusin?"
"Aku pengen mandiri Mah."
"Bagus anak kamu pengennya ke pesantren Teh, udah izinin aja." Timpal Emak.
"Kamu sekolah di Tsanawiyah aja ya, di sana kan juga banyak ilmu agamanya."
Anjani tetap tidak mengizinkan. Setelah berdebat kian panjang, Laila pun menurut dan terpaksa harus menyiapkan mentalnya untuk mengambil pendidikan formal. Uang jajannya kini naik menjadi 5 ribu, ia juga diberi ongkos 2 ribu untuk pulang pergi naik angkot.
Tapi semenjak Laila keluar dari SD, uang jajan Riki yang tadinya hanya seribu kini naik menjadi 2 ribu dan terkadang 3 ribu.
Laila merasa tak adil, dulu waktu SD uang jajannya tak pernah naik. Tapi saat komplain kepada Anjani, Anjani bilang bahwa uang jajan seribu sudah tak jaman lagi. Laila merasa kesal kepada ibunya, apalagi kepada Riki, padahal dari dulu harga jajanan masih tetap sama hinga sampai saat ini.
__ADS_1